Fakta Nasional

Balas Dendam Siswa SMAN 72: Awas, Kekerasan Game Online Dapat Mengubah Cara Pikir Anak!

JAKARTA, FAKTANASIONAL.MET - Kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta, yang diduga merupakan aksi balas dendam siswa karena di-bully dan diklaim terinspirasi dari video game, menjadi peringatan serius bagi orang tua. Psikolog anak, remaja, dan keluarga, San…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 17 November 2025 📖 1 menit
Balas Dendam Siswa SMAN 72: Awas, Kekerasan Game Online Dapat Mengubah Cara Pikir Anak!
Situasi SMAN 72 Jakarta Dipastikan Kondusif Usai Ledakan, Polisi Imbau Warga Tetap Tenang/(instagram)

JAKARTA, FAKTANASIONAL.MET - Kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta, yang diduga merupakan aksi balas dendam siswa karena di-bully dan diklaim terinspirasi dari video game, menjadi peringatan serius bagi orang tua. Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan, mengungkapkan bahwa paparan game online yang tidak sesuai usia dan durasi bermain yang tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan, baik pada perilaku, emosi, maupun interaksi sosial anak.

Menurut Sani, anak yang kecanduan game cenderung mengalami penurunan fokus belajar, kesulitan berhenti bermain, dan mudah marah saat tidak mendapatkan akses internet. Lebih lanjut, ia menyoroti perubahan perilaku yang perlu diwaspadai, seperti berkurangnya empati (misalnya, menimpuk binatang) atau penggunaan bahasa yang kasar saat berbicara.

Dampak Konten Kekerasan Realistis pada Psikologi Anak

Sani Budiantini menilai bahwa paparan konten kekerasan yang realistis dalam game modern dapat sangat memengaruhi cara pikir anak yang belum matang. Ketika anak terbiasa melihat darah dan kekerasan, hal tersebut dapat menjadi "biasa" baginya. Dalam usia yang belum matang, paparan ini berpotensi memengaruhi cara berpikir anak saat berinteraksi di dunia nyata.

Peran Keluarga dan Keharmonisan sebagai Kontrol Utama

Faktor penting dalam membatasi pengaruh negatif game adalah pengawasan ketat dari keluarga terhadap jenis permainan yang dimainkan anak. Namun, Sani juga menekankan bahwa keharmonisan dan lingkungan keluarga yang baik turut memengaruhi psikologis anak. Ia memperingatkan bahwa membatasi game tidak akan efektif jika lingkungan keluarga justru penuh dengan percekcokan atau menggunakan bahasa kasar, karena perilaku negatif tersebut juga akan dicontoh oleh anak. Dengan demikian, peran orang tua bukan hanya mengontrol gadget, tetapi juga memastikan lingkungan rumah yang positif.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK