Begitu Nanik Mundur, Prabowo Langsung Memasang Sudaryono
BELUM sempat debu pengunduran diri Nanik S. Deyang turun ke lantai, Presiden Prabowo sudah meniup peluit pergantian pemain. Cepat sekali. Rasanya lebih cepat daripada notifikasi pinjol datang setelah gajian. Ada yang bilang kecepatannya setara rudal…
Dengarkan Ringkasan
BELUM sempat debu pengunduran diri Nanik S. Deyang turun ke lantai, Presiden Prabowo sudah meniup peluit pergantian pemain. Cepat sekali. Rasanya lebih cepat daripada notifikasi pinjol datang setelah gajian. Ada yang bilang kecepatannya setara rudal Iran menuju pangkalan AS di Kuwait. Begitu kursi kosong, langsung terisi. Masuklah Dr. Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Pertanyaannya sederhana, beliau ini ahli gizi atau ahli segala bidang?
BGN memang seperti klub sepak bola yang gemar gonta-ganti formasi. Dulu dipimpin Dadan Hindayana, ilmuwan serangga. Kalau rayap mogok menggigit kayu, mungkin beliau bisa menjelaskan penyebabnya secara ilmiah. Setelah itu datang Nanik, berlatar dunia jurnalistik. Terlatih mengejar narasumber lebih cepat daripada cicilan mengejar tanggal jatuh tempo. Kini giliran Sudaryono. Portofolionya? Politik, organisasi, bisnis, pertanian, keuangan, plus koleksi jabatan yang panjangnya bisa mengalahkan daftar menu rumah makan Padang. Kalau BGN ini klub sepak bola, formasinya benar-benar ajaib: dari entomolog, bergeser ke wartawan, lalu sekarang all-rounder yang mendadak dipasang jadi striker. Tinggal wasitnya jangan sampai ikut jadi komentator.
Mas Dar lahir di Grobogan, 23 Januari 1985. Anak tunggal pasangan Yahyo dan Suwarni, petani sederhana dari Dukuh Mangunrejo, Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh. Kisah hidupnya memang sinematik. Dari sawah menuju Istana. Dari lumpur menuju ruang rapat ber-AC. Tinggal menunggu rumah produksi mengangkat kisahnya menjadi film, lengkap dengan soundtrack yang dinyanyikan Lyodra, Tiara, atau Ziva. Judulnya mungkin, Dari Cangkul ke Kabinet.
Riwayat pendidikannya juga sanggup membuat map ijazah sesak napas. Lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, lanjut ke Akademi Pertahanan Jepang jurusan Teknik Mesin, mengambil Magister Administrasi Bisnis di Swiss German University, lalu meraih gelar Doktor Keuangan di Institut Pertanian Bogor. Mesin dipahami. Bisnis dipahami. Keuangan dipahami. Sekarang publik tinggal berharap satu hal: semoga menu makan bergizi gratis juga dipahami sedetail baut mesin diesel.
Kariernya padat seperti jadwal resepsi bulan Syawal. Tahun 2010–2015 menjadi asisten pribadi Prabowo Subianto. Kemudian memimpin DPD Gerindra Jawa Tengah, aktif di PAPERA, dilantik menjadi Wakil Menteri Pertanian pada 2024, lalu pada 2026 resmi dipercaya memimpin BGN. Belum selesai sampai di situ. Ia juga pernah menjadi Corporate Secretary Nusantara Energy, CEO Garuda TV, CEO PT Nusantara Telematics System, Chairman PT Sahabat Sejati Sejahtera Farma, aktif di HKTI, Tani Merdeka Indonesia, hingga APPSI. Kalau seluruh jabatan itu ditulis di kartu nama, ukurannya mungkin harus dicetak memakai baliho ukuran lapangan voli.
Kedekatannya dengan Prabowo bukan lagi gosip warung kopi. Itu sudah seperti sinetron yang episodenya ditonton berjuta-juta orang. Berawal sebagai ajudan pribadi, lalu tumbuh menjadi salah satu orang kepercayaan. Wajar bila ekspektasi publik kini menjulang tinggi. Semua berharap Mas Dar bukan sekadar pindah kursi, tetapi benar-benar mencetak gol. Sebab BGN bukan sedang mencari influencer, melainkan penyelamat program yang mulai sering menjadi bahan perdebatan nasional.
Namanya juga sempat menghiasi pemberitaan saat menghadiri diskusi "Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia" di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM pada 15 Juni 2026 bersama Budiman Sudjatmiko dan Nusron Wahid. Acara awalnya tenang. Mikrofon bekerja normal. Kursi tertata rapi. Lalu mahasiswa datang membawa toa, sirene, dan semangat yang volumenya melebihi pengeras suara masjid saat malam takbiran. Forum mendadak berubah menjadi pertandingan tanpa wasit. Ada saling dorong, pelemparan air, hingga para pejabat dievakuasi. Sudaryono dan Nusron bahkan sempat duduk bersila di atas aspal untuk berdialog. Rasanya seperti seminar ilmiah yang mendadak pindah venue ke pinggir jalan karena gedungnya kalah ramai.
Ketika menjabat Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono juga pernah menyoroti dugaan permainan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Ia meminta pemerintah turun tangan menghadapi indikasi kartel agar petani tidak terus menjadi korban. Pernyataan itu cukup berani. Ibarat menendang sarang lebah sambil memakai sandal jepit tipis. Kini publik menunggu, apakah keberanian itu ikut pindah ke BGN atau tertinggal bersama papan nama di kantor Wamentan.
Namun, yang diwarisi Sudaryono bukan sekadar meja kerja dan stempel jabatan. Ia juga menerima PR nasional yang ukurannya tidak main-main. Hingga Mei 2026, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mencatat lebih dari 37.000 korban keracunan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sejak Januari 2025 hingga 10 Mei 2026 terdapat 37.673 korban dari 445 kejadian di 210 kabupaten/kota pada 36 provinsi. Sebanyak 2.348 orang menjalani rawat inap, 27.346 rawat jalan, dan 7.979 mengalami gejala ringan.
Data JPPI mencatat 37.270 korban, dengan Jawa Tengah menjadi provinsi tertinggi sebanyak 2.924 korban. KPAI melaporkan 2.144 korban dan 426 pengaduan, dengan penyebab dominan berupa kontaminasi E. coli, Bacillus cereus, jamur Candida, penggunaan bahan makanan yang tidak segar, hingga proses pembekuan yang buruk.
Sebaran kasus juga tidak merata. Jawa Tengah mencatat 2.924 korban, Jawa Timur 1.512 korban, Jawa Barat 793 korban, sedangkan Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Maluku, Riau, dan Papua Barat Daya belum melaporkan kasus. Bukan berarti wilayah itu steril. Bisa saja cakupan programnya memang masih lebih kecil.
Masalahnya pun bukan hanya soal keracunan. Baru sekitar 56–57 persen dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Artinya, hampir separuh dapur masih berada di wilayah abu-abu standar keamanan pangan. Distribusi bahan makanan kerap terlambat. Sistem cold chain minim. Pengawasan lemah. Laporan sering terlambat. Transparansi anggaran dipertanyakan. Ketimpangan layanan antarwilayah masih nyata. Akibatnya, program yang sejak Januari 2025 telah mendistribusikan lebih dari 8 miliar porsi makanan justru berulang kali diterpa krisis kepercayaan.
Jadi, jabatan baru Sudaryono bukan hadiah, melainkan kursi panas yang alasnya sudah berubah menjadi kompor gas tiga tungku. Publik tidak membutuhkan pidato sepanjang rel kereta api. Rakyat ingin melihat dapur yang bersih, distribusi yang rapi, makanan yang aman, dan anak-anak pulang sekolah dengan perut kenyang, bukan pulang sambil memegang kantong muntah.
Peluit babak pertama sudah dibunyikan. Kini bola ada di kaki Mas Dar. Jangan sampai pertandingan ini kembali diwarnai gol bunuh diri. Sebab kalau keracunan masih terus terjadi, dapur masih semrawut, investor SPPG kembali ngamuk, dan pengawasan tetap longgar, maka yang bergizi bukan lagi makanannya, melainkan kritik rakyatnya.
Jamani (Analis/Pegiat Media Sosial)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.