Fakta Nasional

Belum Selesai Brankas Rp543 Miliar, Kini Jampidsus Bidik 47 Nama di BGN

KITA lanjutkan drama Brankas Cipete. Tentu pertarungan antara Polri dan Kejaksaan semakin panas. Masing-masing adu kekuatan. Sementara rakyat hanya bisa menonton, tanpa bisa berbuat apa-apa. Semuanya berawal dari sebuah kafe di Cipete yang tadinya c…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: M. Sahlan Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 11 July 2026 📖 4 menit
Belum Selesai Brankas Rp543 Miliar, Kini Jampidsus Bidik 47 Nama di BGN
) -->

KITA lanjutkan drama Brankas Cipete. Tentu pertarungan antara Polri dan Kejaksaan semakin panas. Masing-masing adu kekuatan. Sementara rakyat hanya bisa menonton, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Semuanya berawal dari sebuah kafe di Cipete yang tadinya cuma dikenal sebagai tempat nongkrong sambil menyeruput kopi. Siapa sangka, tempat mestinya dipenuhi aroma espresso itu mendadak berubah menjadi lokasi lebih ramai dari konser musik.

Kortas Tipidkor Polri bersama Polda Metro Jaya datang bukan membawa gitar, melainkan gerinda, ahli kunci, tas barang bukti, dan wajah-wajah serius yang membuat satpam kompleks mendadak minder.

Yang digeledah bukan satu lokasi. Bukan dua. Bukan lima. Tetapi tiga belas. Tiga belas lokasi! Kalau pencarian harta karun bajak laut saja mungkin tidak sebanyak itu.

Puncaknya ada di sebuah ruko kosong di Jalan Asem II. Ruko tanpa nama. Ruko tanpa aktivitas. Tetapi pintunya dijaga begitu rapat sampai polisi harus memanggil ahli kunci dan menggerindanya.

Ini luar biasa. Di Indonesia, ternyata pintu kosong pun punya tingkat kerahasiaan setara ruang peluncuran rudal.

Begitu pintu terbuka, penyidik menemukan dokumen, komputer, telepon seluler, uang berbagai mata uang, emas batangan 74 kilogram, dan barang-barang lain yang kalau ditotal nilainya mencapai sekitar Rp543 miliar.

Lima ratus empat puluh tiga miliar! Angka sebesar itu membuat mesin penghitung uang mungkin minta cuti karena jarinya pegal. Kalau uang sebanyak itu ditukar menjadi uang seribuan, mungkin bisa dipakai membuat jembatan dari Cipete sampai Pontianak.

Yang bikin rakyat garuk-garuk kepala bukan nilai uangnya. Tetapi papan skornya. Barang bukti sudah setinggi Gunung Semeru. Emas sudah seberat anak gajah. Lokasi penggeledahan sudah tiga belas. Tetapi tersangkanya? Sampai tulisan ini dibuat, tidak ada.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto tetap tenang. Semua masih penyidikan. Belum ada tersangka. Secara hukum, memang begitu jalurnya. Penyidik harus mencari alat bukti yang cukup sebelum menetapkan status seseorang. Tetapi bagi netizen +62, logika kadang kalah cepat dibandingkan kuota internet.

Belum habis publik menghitung nol pada angka Rp543 miliar, Jampidsus Febrie Adriansyah muncul. Banyak orang mengira beliau akan menggelar konferensi pers bertema "No Comment." Eh...yang keluar justru jurus baru. Kalau di anime namanya jurus pamungkas. Kalau di sepak bola namanya serangan balik. Kalau di Indonesia namanya..."Ada 47 nama."

Boom! Jagat media sosial langsung meledak seperti promo tanggal kembar. Sebelumnya hanya disebut 41 nama. Sekarang berkembang menjadi 47.

Namun Febrie langsung mengingatkan agar publik tidak keburu membeli terompet kemenangan. Empat puluh tujuh nama itu masih dalam proses pendalaman. Kemunculan nama tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai tersangka. Semua harus diuji melalui alat bukti, pemberkasan, dan proses hukum yang berlaku.

Kalau diterjemahkan ke bahasa sepak bola, bola memang sudah masuk kotak penalti. Tetapi wasit masih menunjuk ke telinga. "Sebentar... VAR dulu."

Yang menarik, perkara Badan Gizi Nasional ini bukan perkara sembarangan. Program Makan Bergizi Gratis adalah program prioritas Presiden Prabowo. Sebelumnya, Kejaksaan telah menetapkan tujuh tersangka, termasuk dua purnawirawan Polri, Irjen (Purn) Sony Sonjaya dan Brigjen Lalu Muhammad Iwan. Sekarang muncul lagi angka 47. Angka yang cukup membuat operator Microsoft Excel bekerja lembur.

Di tengah laga makin panas, TNI sempat muncul menjaga rumah dinas Jampidsus sebelum kemudian ditarik kembali. Penjelasan resminya mengacu pada Peraturan Presiden mengenai perlindungan terhadap jaksa.

Penjelasan itu sah. Tetapi netizen tidak pernah mengenal kata "cukup". Mereka langsung membuat bagan. Ada panah merah. Ada lingkaran kuning. Ada garis putus-putus. Tinggal kurang menambahkan dinosaurus dan UFO supaya lengkap.

Lalu Istana ikut turun gunung. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi meminta semua pihak menghormati proses hukum dan asas praduga tak bersalah. Presiden Prabowo mengingatkan, aparat penegak hukum adalah pelayan rakyat, bukan pemilik negara. Kalimatnya singkat. Tetapi gaungnya membuat ruang-ruang rapat mendadak lebih sunyi dari perpustakaan saat musim libur.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Mahfud MD malah tampil seperti komentator sepak bola yang menikmati pertandingan sambil makan kuaci. Ia mengucapkan selamat kepada Polri karena berhasil membongkar dugaan penyembunyian aset hasil korupsi di Cipete dan sejumlah lokasi lain. Pada saat yang sama, ia juga memberi selamat kepada Kejaksaan yang terus mengembangkan perkara BGN dan MBG. Penutupnya sederhana, tetapi seperti tendangan salto.

"Silakan berlomba membongkar korupsi." Nah, itu baru liga yang layak ditonton. Berlombalah menemukan koruptor. Berlombalah menyelamatkan uang negara. Jangan berlomba menyelamatkan ego.

Sebab kalau polisi dan jaksa sama-sama berlomba membongkar korupsi, rakyat akan berdiri sambil bertepuk tangan. Tetapi kalau berlomba justru saling mengunci, saling mengawasi, dan saling mengintai...koruptor tinggal rebahan di sofa kulit Italia, menyeruput kopi paling mahal, membuka siaran langsung drama Cipete, lalu tersenyum sambil berbisik,

"Lanjutkan saja pertandingannya, Pak. Selama Bapak-Bapak sibuk bermain, kami masih unggul jauh di papan skor."

Pada akhirnya, rakyat tidak peduli siapa menang dalam pertarungan antarlembaga. Rakyat tidak mendapat bonus kalau polisi unggul, juga tidak mendapat diskon kalau jaksa lebih hebat. Yang diinginkan hanya satu, koruptor masuk penjara dan uang negara kembali ke kas rakyat. Polisi dan jaksa bukan dua kesebelasan berebut piala, melainkan dua ujung tombak yang seharusnya mengarah ke musuh yang sama. Sebab, ketika dua penegak hukum sibuk saling mengukur kekuatan, koruptor akan tersenyum paling lebar. Mereka tidak perlu berlari, cukup duduk santai sambil menyeruput kopi dan menunggu ego mengalahkan akal sehat. Jangan sampai sejarah mencatat, negeri ini gagal memberantas korupsi bukan karena koruptornya terlalu cerdas, melainkan karena para pemburunya terlalu sibuk bertanding dengan rekan satu timnya sendiri.

Penulis: Jamani (analis sosial politik dan hukum)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK