Benang Kusut Investasi Berisiko Tinggi Telkomsel di GOTO Pasca-temuan Audit BPK
BADAN Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan adanya potensi kerugian investasi PT Telkomsel pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp4,74 triliun hingga tahun 2024. Namun temuan paling penting bukan hanya angka kerugiannya. BPK juga mencatat ba…
Dengarkan Ringkasan
BADAN Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan adanya potensi kerugian investasi PT Telkomsel pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar Rp4,74 triliun hingga tahun 2024.
Namun temuan paling penting bukan hanya angka kerugiannya. BPK juga mencatat bahwa realisasi synergy value yang sejak awal dijadikan dasar justifikasi investasi ternyata baru mencapai Rp6,38 triliun atau sekitar 69,81% dari target awal.
Artinya, hampir sepertiga nilai sinergi yang dipakai untuk membenarkan investasi tersebut tidak tercapai.
Temuan ini sangat serius karena sejak awal investasi Telkomsel ke Gojek dan kemudian GOTO tidak pernah dijual sebagai investasi saham biasa. Investasi tersebut dibangun di atas narasi “transformasi digital nasional”, “ekosistem digital”, “future growth”, dan “sinergi ekonomi digital Indonesia”.
Dalam Laporan Tahunan 2021, Telkomsel menjelaskan bahwa investasi strategis pada Gojek dilakukan untuk mempercepat digitalisasi UMKM, meningkatkan partisipasi pelanggan Telkomsel dalam ekosistem Gojek, mengintegrasikan reseller Telkomsel ke GoShop, menghadirkan fitur number masking, hingga mengembangkan “super app” bersama GoTo.
Narasi tersebut diperbesar lagi dalam Laporan Tahunan 2022. Telkomsel menyebut sinergi dengan GoTo diarahkan untuk menciptakan monetisasi lintas platform, memperluas integrasi digital, memperkuat layanan keuangan digital, dan membangun ekosistem digital nasional yang lebih besar.
Masalahnya, ketika seluruh jargon “ekosistem digital” itu dipasarkan, kondisi fundamental perusahaan target justru menunjukkan alarm besar.
Laporan Tahunan GoTo menunjukkan rugi tahun berjalan mencapai Rp25,88 triliun dan rugi komprehensif Rp25,97 triliun pada 2021.
Ini penting karena berarti pada saat Telkomsel memperbesar investasinya, perusahaan target masih berada dalam kondisi pembakaran modal yang sangat agresif.
Bahkan setelah IPO, kondisi itu belum berubah signifikan. Pada 2022 GTV GoTo mencapai Rp613,4 triliun, pendapatan bruto Rp22,9 triliun, pendapatan bersih Rp11,3 triliun, tetapi Group Adjusted EBITDA masih negatif Rp16 triliun.
Artinya, meskipun transaksi digital besar dan valuasi pasar tinggi, perusahaan belum menghasilkan profitabilitas operasional yang sehat.
Ini adalah ciri klasik ekonomi startup era growth at all costs. Pertumbuhan pengguna dan transaksi dikejar terlebih dahulu, sementara profitabilitas ditunda ke masa depan.
Namun justru pada fase itulah Telkomsel semakin agresif masuk ke dalam model bisnis tersebut.
Dalam Laporan Tahunan 2022, Telkomsel mendirikan INDICO sebagai platform ekosistem digital, memperluas venture ecosystem, membangun startup incubation, mengembangkan gaming ecosystem, memperkuat digital lifestyle, membentuk Majamojo bersama entitas anak GoTo, hingga memperluas integrasi digital lintas sektor.
Hal ini menunjukkan perubahan DNA bisnis Telkomsel. Perusahaan yang secara historis dibangun sebagai operator telekomunikasi, pemilik infrastruktur, pengelola jaringan nasional, dan mesin arus kas stabil, mulai berubah menjadi perusahaan berbasis ekosistem valuasi digital.
Padahal karakter kedua model bisnis itu sangat berbeda.
Bisnis telekomunikasi klasik bertumpu pada recurring revenue, kestabilan pelanggan, efisiensi jaringan, dan profitabilitas tinggi.
Sementara model startup digital bertumpu pada pertumbuhan agresif, pembakaran modal, subsidi pengguna, dan ketergantungan terhadap sentimen valuasi pasar.
Benturan dua model inilah yang mulai terlihat dalam laporan keuangan Telkomsel sendiri.
Pada 2021, Telkomsel mencatat laba bersih Rp26,16 triliun. Namun laporan perusahaan menjelaskan bahwa angka tersebut termasuk keuntungan penjualan dan sewa balik menara serta perubahan nilai wajar investasi GoTo. Tanpa faktor tersebut, laba bersih sebenarnya hanya sekitar Rp21,77 triliun atau turun 6,2% YoY.
Artinya, bahkan sebelum tekanan valuasi terjadi, kualitas pertumbuhan laba Telkomsel sebenarnya mulai melemah.
Pada 2022, tekanan itu semakin nyata. Pendapatan Telkomsel hanya naik tipis dari Rp87,5 triliun menjadi Rp89 triliun. Tetapi laba bersih justru anjlok dari Rp26,16 triliun menjadi Rp18,36 triliun. Margin laba bersih turun drastis dari 29,9% menjadi 20,6%. Ekuitas perusahaan turun dari Rp39,44 triliun menjadi Rp30,04 triliun.
Dan yang paling penting adalah Telkomsel secara eksplisit mengakui bahwa penyesuaian nilai wajar investasi GoTo turut memengaruhi penurunan laba bersih perusahaan.
Dengan kata lain, volatilitas valuasi startup digital mulai langsung masuk ke struktur laba perusahaan telekomunikasi milik negara.
Ini titik paling penting dari temuan BPK. Karena BPK sebenarnya sedang membongkar kegagalan pembuktian narasi investasi.
Yang dijual kepada publik sejak awal adalah sinergi digital, transformasi ekonomi, monetisasi ekosistem, dan pertumbuhan masa depan.
Tetapi hasil audit negara justru menunjukkan unrealized loss Rp4,74 triliun, sinergi yang bahkan tidak tercapai penuh, serta tekanan nyata terhadap profitabilitas Telkomsel.
Kondisi ini membuka pertanyaan serius mengenai validitas due diligence, kewajaran proyeksi sinergi, kualitas stress test investasi, penerapan prinsip kehati-hatian, dan kepatuhan terhadap fiduciary duty pengurus BUMN.
Karena investasi ini dilakukan bukan terhadap perusahaan yang sudah stabil secara laba, melainkan terhadap entitas yang secara terbuka masih mencatat rugi puluhan triliun.
Dan justru di fase itu Telkomsel memperluas eksposur terhadap model bisnis berbasis valuasi.
Yang lebih menarik lagi, arah laporan tahunan Telkomsel setelah 2023 mulai berubah. Telkomsel mulai lebih fokus pada fixed mobile convergence, broadband rumah, integrasi IndiHome, AI, enterprise solutions, dan efisiensi infrastruktur jaringan Telkom.
Artinya, setelah euforia startup dan ekosistem digital mulai mereda, Telkomsel perlahan kembali ke mesin bisnis yang lebih dekat dengan kekuatan fundamental telekomunikasi seperti jaringan, infrastruktur, pelanggan, dan arus kas.
Ini memperkuat dugaan bahwa fase ekspansi berbasis startup ecosystem sebelumnya memang terlalu agresif dan terlalu bergantung pada optimisme valuasi ekonomi digital global.
Pada akhirnya, temuan BPK bukan sekadar soal rugi investasi. Temuan itu membongkar sesuatu yang jauh lebih sensitif tentang bagaimana perusahaan strategis negara dengan 156,8 juta pelanggan, EBITDA Rp50,4 triliun, dan dominasi infrastruktur nasional, justru mulai terseret ke logika ekonomi startup berbasis valuasi spekulatif.
Dan ketika realisasi sinergi gagal memenuhi target, laba perusahaan mulai tertekan, serta valuasi investasi berubah menjadi sumber kerugian triliunan rupiah.
Pertanyaannya, apakah “transformasi digital nasional” yang dijual selama ini benar-benar menghasilkan nilai ekonomi riil bagi negara, atau justru telah berubah menjadi mekanisme legitimasi bagi ekspansi investasi berisiko tinggi yang terlalu larut dalam euforia valuasi startup global.
Jakarta, 18 Mei 2026
HAMDI PUTRA (Forum Sipil Bersuara/FORSIBER)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.