Fakta Nasional

Bloomberg Puji Jokowi sebagai "Politisi Jalanan", Pengamat: Tidak Masuk Akal

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Mantan Presiden Joko Widodo mendapatkan julukan unik dari Pemimpin Redaksi Bloomberg, John Micklethwait, dalam forum ekonomi internasional baru-baru ini. Micklethwait menyebut Jokowi sebagai "politisi jalanan" (street po…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 24 November 2025 📖 1 menit
Bloomberg Puji Jokowi sebagai "Politisi Jalanan", Pengamat: Tidak Masuk Akal
Presiden Jokowi meresmikan RS Mayapada Hospital Nusantara milik salah satu orang terkaya di Indonesia/BPMI Setpres.
) -->

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Mantan Presiden Joko Widodo mendapatkan julukan unik dari Pemimpin Redaksi Bloomberg, John Micklethwait, dalam forum ekonomi internasional baru-baru ini. Micklethwait menyebut Jokowi sebagai "politisi jalanan" (street politician), sebuah istilah yang dimaksudkan sebagai pujian atas gaya kepemimpinan Jokowi yang merakyat dan gemar blusukan. Bloomberg bahkan menyandingkan Jokowi dengan tokoh dunia sekelas Bill Clinton karena kemampuannya berinteraksi luwes dengan publik.

Namun, pujian internasional tersebut menuai kritik tajam di dalam negeri. Ketua Dewan Direksi GREAT Institute, Syahganda Nainggolan, menilai perbandingan tersebut sangat tidak proporsional dan berlebihan. Menurut Syahganda, menyamakan Jokowi dengan Bill Clinton adalah sebuah "kekonyolan", mengingat perbedaan kapasitas intelektual dan reputasi internasional yang dimiliki kedua tokoh tersebut.

Kritik Biaya Kehadiran di Forum Global

Syahganda bahkan melontarkan dugaan skeptis mengenai kehadiran Jokowi di forum-forum elit global pasca-lengser. Ia mencurigai bahwa undangan tersebut tidak murni karena prestasi, melainkan ada mekanisme transaksional atau berbayar. Menurutnya, sebagai mantan pejabat yang kini menjadi warga sipil biasa, sulit membayangkan korporasi bisnis global mengundang tanpa adanya kepentingan komersial.

Kapasitas Bahasa dan Reputasi

Lebih jauh, pengamat politik ini menyoroti keterbatasan kemampuan bahasa asing Jokowi yang dinilainya menjadi kendala dalam diplomasi tingkat tinggi yang sesungguhnya. Syahganda menegaskan bahwa apresiasi dari lembaga asing seringkali bias dan tidak mencerminkan realitas substantif kepemimpinan yang dirasakan di dalam negeri, sehingga publik tidak perlu terlalu terbuai dengan label-label positif dari luar.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK