Fakta Nasional

Bukan Untukmu Bertahta Kembali Wahai Kekasih

ADA perbedaan besar antara memberi kesempatan dan menyerahkan kendali. Banyak orang mengira ketika seseorang menerima cinta yang pernah pergi, itu berarti ia rela kembali menjadi seperti dulu. Padahal tidak selalu demikian. Aku menerima cintamu kemb…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 13 July 2026 📖 1 menit
Bukan Untukmu Bertahta Kembali Wahai Kekasih
Bukan Untukmu Bertahtah Kembali Wahai Kekasih

ADA perbedaan besar antara memberi kesempatan dan menyerahkan kendali.

Banyak orang mengira ketika seseorang menerima cinta yang pernah pergi, itu berarti ia rela kembali menjadi seperti dulu. Padahal tidak selalu demikian.

Aku menerima cintamu kembali bukan karena aku lupa pada luka yang pernah kau tinggalkan.

Aku juga bukan sedang menghapus jejak air mata yang pernah jatuh karenamu. Aku menerimamu karena aku telah berdamai dengan masa lalu, bukan karena aku ingin mengulanginya.

Dulu, kau adalah pusat semestaku. Kebahagiaanku bergantung pada kehadiranmu, dan kesedihanku lahir dari setiap langkahmu yang menjauh.

Aku pernah menempatkanmu di singgasana tertinggi dalam hidupku, hingga tanpa kusadari aku kehilangan diriku sendiri.

Kini aku telah belajar. Cinta yang sehat bukanlah tentang siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang saling menjaga.

Tidak ada lagi tahta yang harus kau duduki, karena tahta itu kini telah diisi oleh harga diriku, prinsipku, dan ketenangan batinku.

Aku menerimamu sebagai pasangan, bukan sebagai penguasa. Aku ingin berjalan berdampingan, bukan berada di bawah bayang-bayangmu.

Jika suatu hari kau kembali hadir dalam hidupku, maka itu harus menjadi awal dari hubungan yang lebih dewasa, bukan pengulangan kisah yang pernah menghancurkan.

Jangan salah mengartikan maaf sebagai kelemahan. Jangan pula mengira kesempatan kedua adalah izin untuk mengulang kesalahan yang sama.

Aku memaafkan karena aku ingin hidup tenang, bukan karena aku lupa bagaimana rasanya terluka.

Hari ini aku mencintaimu dengan cara yang berbeda. Aku tetap bisa menyayangimu tanpa kehilangan diriku sendiri. Aku tetap bisa menggenggam tanganmu tanpa harus mengorbankan harga diriku.

Sebab cinta yang benar tidak pernah meminta seseorang menyerahkan seluruh hidupnya demi orang lain.

Jika kau ingin tetap tinggal, tinggallah sebagai seseorang yang menghargai, bukan menguasai. Karena aku menerima cintamu kembali bukan untuk membuatmu bertahta lagi atas kehidupanku.

Aku menerimamu hanya jika kita sama-sama belajar bahwa cinta bukan tentang memiliki kekuasaan, melainkan tentang saling menghormati dan saling memilih setiap hari.

Sebab pada akhirnya, aku telah menjadi penguasa atas hidupku sendiri. Dan tidak akan pernah lagi kuberikan mahkota itu kepada siapa pun.[dit]


Halaman:
Tagar: #Kekasih

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK