Fakta Nasional

Bung Karno Dianugerahi Gelar Pahlawan Islam Dunia, Hasto: Antikolonialisme dan Bela Palestina

BANDUNG, FAKTANASIONAL.NET — Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menggunakan forum Konferensi Daerah (Konferda) PDI Perjuangan Jawa Barat di Bandung sebagai momentum untuk mengobarkan kembali semangat ideologi Bung Karno, khususny…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Zul Jamba Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 07 December 2025 📖 2 menit
Bung Karno Dianugerahi Gelar Pahlawan Islam Dunia, Hasto: Antikolonialisme dan Bela Palestina
) -->

BANDUNG, FAKTANASIONAL.NET — Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menggunakan forum Konferensi Daerah (Konferda) PDI Perjuangan Jawa Barat di Bandung sebagai momentum untuk mengobarkan kembali semangat ideologi Bung Karno, khususnya terkait visi global dan nilai-nilai keislaman yang universal.

Dalam pidatonya, Hasto menyoroti pengakuan dunia terhadap kepemimpinan Presiden Pertama RI, Soekarno, sebagai sosok yang konsisten membela bangsa-bangsa terjajah, termasuk negara-negara Muslim.

Hasto mengungkapkan kebanggaannya atas gelar kehormatan internasional yang disematkan kepada Bung Karno pada tahun 1965.

"Pada tahun 1965, Bung Karno mendapat gelar sebagai Pendekar Kemerdekaan dan Pahlawan Islam. Ini harusnya kita bangga," tutur Hasto.

Ia kemudian menegaskan keunikan gelar tersebut di mata dunia internasional. Kepada para anak muda yang hadir di acara Konferda ifu, Hasto mengatakan begini.

"Hei anak-anak muda, The only one leader in the world, satu-satunya pemimpin di dunia yang mendapatkan gelar sebagai Pendekar Kemerdekaan dan Pahlawan Islam, hanya Bung Karno, Bapak Bangsa kita," tegas Hasto, disambut tepuk tangan meriah.

Selain para anak-anak muda, hadir juga perwakilan petinggi partai politik lain serta pejabat pemerintahan yang ada di Jawa Barat. Seperti Sekda Jabar Herman Suryatman, Ketua DPRD Provinsi Jabar Buki Wibawa Karya Guna, serta perwakilan dari PKS, PAN, PPP, dan NasDem.

Dalam konferda ini, hadir sejumlah Ketua DPP PDIP, antara lain Puti Soekarnoputri, Ribka Tjiptaning, dan Ronny Talapessy. Ada juga senior Partai yakni Sutrisno Selo dan Eka Santosa. Seluruh pengurus PDIP Jawa Barat hadir dipimpin Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono dan Sekretaris Ineu Purwadewi Sundari.

Gelar ini, menurut Hasto, merupakan pengakuan atas konsistensi politik Soekarno yang didasarkan pada ideologi antikolonialisme.

Hasto menegaskan bahwa dukungan Soekarno terhadap bangsa-bangsa Muslim yang terjajah tidak didorong oleh sentimen agama, melainkan oleh landasan konstitusional yang kuat, yakni Pembukaan UUD 1945.

"Bung Karno lebih memilih mendukung Palestina saat itu bukan karena dia Islam, tetapi karena mereka terjajah," jelas Hasto.

Ia merujuk pada prinsip yang tertuang dalam UUD 1945: "Kemerdekaan ialah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan."

"Maka ini cara berpikir kita, ini cara berpikir kader-kader PDI Perjuangan. Politik PDI Perjuangan adalah politik etika dan moral yang universal," katanya.

Hasto memaparkan beberapa bukti sejarah rekam jejak Bung Karno dalam membela kedaulatan negara-negara Muslim yang saat itu masih berjuang dari kolonialisme, rekam jejak yang menurut Hasto sempat "ditutup oleh sejarah pada masa Orde Baru":

Yakni dukungan terhadap Aljazair dimana Indonesia mengirimkan kapal perang untuk mendukung perjuangan rakyat Aljazair melawan penjajahan Prancis.

Lalu dukungan Pakistan. Sebagai bentuk apresiasi atas dukungan Pakistan terhadap Indonesia pada Resolusi Jihad 1945 di Surabaya, Soekarno mengirimkan kapal selam kelas Whiskey saat Pakistan berjuang melepaskan diri dari Inggris.

Hasto menekankan bahwa tugas kader partai saat ini adalah mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa dan melanjutkan semangat perjuangan Bung Karno dan Ibu Megawati.

"Jangan biarkan pengorbanan mereka sia-sia. Maka tugas politik kita bersama adalah membangun peradaban Indonesia," seru Hasto.

Ia menutup pidatonya dengan menegaskan kembali komitmen PDI Perjuangan untuk rakyat dan bangsa.
"Tugas politik kita bersama adalah membangun peradaban Indonesia. Agar cita-cita Indonesia Raya, masyarakat adil, makmur, yang berkeadilan, yang tertib hukum, yang punya kesadaran untuk merawat pertiwi, semakin kita gelorakan."


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK