Fakta Nasional

Cadangan Emas Indonesia Hanya 9 Persen dari Devisa Indonesia, Indef: Kecil Dibandingkan Negara Eropa dan Asia

FAKTANASIONAL.NET - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai cadangan emas dalam devisa Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain di dunia. Hal ini terlihat dari 9,6% atau 87 ton dari cadangan devisa Indonesia…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Moch. Ade Maulidin Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 17 August 2026 📖 2 menit
Cadangan Emas Indonesia Hanya 9 Persen dari Devisa Indonesia, Indef: Kecil Dibandingkan Negara Eropa dan Asia
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai cadangan emas dalam devisa Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain di dunia.

Hal ini terlihat dari 9,6% atau 87 ton dari cadangan devisa Indonesia atau setara dengan 0,91% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2025.

"Negara-negara dengan cadangan devisa yang lebih besar memiliki ruang lebih luas untuk meningkatkan kepemilikan emas sebagai aset lindung nilai dan kita lihat sebenarnya negara-negara yang melakukan pembelian cadangan emas adalah mereka yang cenderung memang cadangan devisanya besar," kata Ekonom Senior Indef, Aviliani di Jakarta pada Senin (17/8/2026).

Data Indef juga menunjukkan kesenjangan ini merujuk Amerika Serikat (AS) memiliki cadangan emas 8.133,5 ton dengan porsi mencapai 84,8% dari total cadangan devisa.

Kemudian, Jerman memiliki 3.350,3 ton atau 84,6%, Italia 2.451,8 ton atau 82%, dan Prancis 2.437 ton atau 82,5%.

Selanjutnya, Rusia memiliki cadangan emas 2.311 ton atau 48,1% dari total cadangan devisa, India 880,3 ton atau 19,8%, Jepang 846 ton atau 10,1%, dan China 2.313 ton atau 10%.

Walaupun demikian, Aviliani mengemukakan tidak terdapat rasio tunggal yang dapat dijadikan patokan tentang berapa besar cadangan emas yang ideal bagi suatu negara.

Kebijakan tersebut sangat bergantung pada struktur ekonomi, kebutuhan likuiditas, serta strategi masing-masing bank sentral.

"Tidak ada sebenarnya ketentuan tentang berapa besar cadangan devisa emas. Itu tergantung dari kepercayaan dari negara masing-masing mau memegang apa," ujarnya.

Tren global juga menunjukkan perubahan dalam pengelolaan cadangan devisa setelah sistem moneter global lama lebih banyak bertumpu pada dolar AS, emas kembali mendapat perhatian sebagai instrumen diversifikasi di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

“Peningkatan permintaan emas juga tidak hanya datang dari bank sentral. Masyarakat mulai melihat emas sebagai instrumen investasi, terutama seiring berkembangnya layanan bullion dan emas digital,” ujarnya.

Aviliani mengutarakan menilai perkembangan bullion banking menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem emas nasional. Pasalnya, masyarakat dapat memiliki eksposur terhadap emas tanpa harus menyimpan emas fisik dalam jumlah besar.

"Bullion bank itu saya rasa salah satu hal yang baik, sangat membantu sebenarnya masyarakat untuk menikmati pembelian emas tanpa harus ada fisiknya," ujarnya. (adm)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK