Fakta Nasional

Cegah Gajah Keluar Kawasan Konservasi, Komite Mitigasi Adopsi Pagar Lebah dari Afrika

FAKTANASIONAL.NET - Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung, mengembangkan program strategis berupa pembangunan pagar sarang lebah di batas kawasan konservasi. Ketua Komite Gab…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Damiri Adam Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 04 September 2026 📖 2 menit
Cegah Gajah Keluar Kawasan Konservasi, Komite Mitigasi Adopsi Pagar Lebah dari Afrika
Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung, adopsi pembangunan pagar sarang lebah dari Afrika. (FAKTANASIONAL/HO).
) -->
FAKTANASIONAL.NET - Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung, mengembangkan program strategis berupa pembangunan pagar sarang lebah di batas kawasan konservasi.

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK, Brigjen TNI Sriyanto menjelaskan, program strategis pembangunan pagar sarang lebah tersebut tidak hanya berfungsi menghalau gajah melainkan juga mendongkrak ekonomi warga melalui potensi budidaya lebah Apis cerana.

"Pembangunan pagar di batas kawasan ini merupakan langkah taktis untuk mengatasi persoalan klasik konflik manusia dan gajah yang telah berlangsung sejak dekade 1980-an," katanya, Kamis (3/9).

Dia melanjutkan konflik antara manusia dan gajah tersebut merupakan masalah kompleks yang dipicu oleh krisis keanekaragaman hayati serta dinamika kepentingan pembangunan sehingga membutuhkan solusi terpadu. Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut dia, diperlukan solusi terpadu seperti menciptakan kawasan satwa liar, memanfaatkan teknologi, dan mendorong upaya konservasi berbasis komunitas.

"Sebagai bagian dari solusi tersebut, metode pagar sarang lebah yang mengadopsi praktik dari Afrika diterapkan untuk memanfaatkan insting alami satwa agar menjauh tanpa risiko cedera.

"Pagar sarang lebah sendiri merupakan salah satu solusi berbasis alam yang telah diujicoba di Afrika untuk mencegah gajah keluar dari kawasan konservasi. Suara dengungan dan sengatan lebah akan membuat gajah merasa takut dan menjauh, namun tidak membahayakan gajah," kata dia.

Selain aspek konservasi, tambah diaz program tersebut juga menitikberatkan pada nilai ekonomis tinggi bagi masyarakat sekitar zona penyangga melalui budidaya lebah madu asli Indonesia jenis Apis cerana yang sangat cocok dengan iklim tropis. Potensi ekonomi tersebut, katanya, didorong mengingat kebutuhan madu nasional terus meningkat setiap tahunnya.

"Kebutuhan madu di Indonesia terus naik 10-15 persen per tahun. Data Kemenkes Tahun 2024, konsumsi madu kita baru 220 gram/kapita/tahun, padahal impor madu masih >60 persen dari total kebutuhan," katanya.

Menurutnya, dari sisi produktivitas untuk satu koloni Apis cerana mampu menghasilkan lima hingga delapan kilogram madu per tahun dengan asumsi harga jual mencapai Rp150 ribu per kilogram.

"Satu koloni Apis cerana bisa hasilkan 5-8 kilogram madu per tahun dengan harga Rp150 ribu. Maka 10 koloni bisa jadi tambahan penghasilan Rp7,5 juta - Rp15 juta per tahun. Ini potensi besar untuk UMKM dan ekonomi keluarga di Bandarlampung. Selain mendatangkan pendapatan finansial bagi UMKM lokal, program ini juga memperkuat sektor ekologi dan pertanian warga. Berdasarkan data FAO Tahun 2023, sebanyak 75 persen tanaman pangan sangat bergantung pada proses penyerbukan oleh lebah," terangnya.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK