CEK FAKTA: Wajah 3D Diduga Nenek Moyang Nusantara Mirip Bahlil, IPB Tegaskan Klaim Penelitian Itu Hoaks
FAKTANASIONAL.NET - Model wajah 3D yang diklaim sebagai visualisasi nenek moyang manusia dari Nusantara menjadi perbincangan di media sosial. Unggahan tersebut viral setelah banyak warganet menilai sosok dalam rekonstruksi digital itu memiliki kemir…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Model wajah 3D yang diklaim sebagai visualisasi nenek moyang manusia dari Nusantara menjadi perbincangan di media sosial.
Unggahan tersebut viral setelah banyak warganet menilai sosok dalam rekonstruksi digital itu memiliki kemiripan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Narasi yang beredar juga menyebut rekonstruksi tersebut merupakan hasil penelitian ilmuwan IPB University terhadap fosil, tulang, dan tengkorak manusia purba yang ditemukan di Ngawi, Jawa Timur.
Klaim itu kemudian menyebar luas melalui berbagai akun media sosial yang mencatut nama IPB.
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Redaksi FAKTANASIONAL.NET, IPB melalui akun Instagram @ipbtoday pada 2 Agustus 2026 menyampaikan klarifikasi resmi.
Kampus tersebut menegaskan bahwa informasi mengenai ilmuwan IPB yang berhasil membuat model 3D wajah nenek moyang manusia pertama dari Nusantara tidak benar.
IPB menyatakan, "Berdasarkan data riset dan inovasi internal, ilmuwan IPB tidak pernah melakukan penelitian untuk menciptakan 3D wajah nenek moyang manusia pertama yang berasal dari Nusantara."
Pernyataan tersebut sekaligus membantah klaim yang beredar bahwa visualisasi itu merupakan hasil penelitian resmi dari IPB University.
Berasal dari Akun Meme, Publik Diminta Cek Informasi Resmi
IPB juga mengungkapkan telah menelusuri asal-usul informasi yang beredar di media sosial.Hasil penelusuran menunjukkan bahwa konten tersebut berasal dari sejumlah akun yang memang kerap mengunggah meme dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui klarifikasinya, IPB mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai setiap informasi yang viral di media sosial. Kampus tersebut mengajak publik untuk selalu melakukan verifikasi melalui kanal resmi sebelum membagikan suatu informasi, sehingga penyebaran hoaks dapat diminimalkan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ekosistem informasi yang sehat dan mencegah munculnya kesalahpahaman di tengah masyarakat.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.