Cinta dan Dicurigai Sangat Menyakitkan Bagi Laki-Laki
BARANGKALI , yang membuat seorang laki-laki perlahan menjauh bukan karena cintanya telah habis, melainkan karena ia terlalu sering dicemburui dan dicurigai, mungkin hingga seperti di mata-matai sampai lupa bagaimana rasanya dicintai dengan tenang. S…
Dengarkan Ringkasan
BARANGKALI, yang membuat seorang laki-laki perlahan menjauh bukan karena cintanya telah habis, melainkan karena ia terlalu sering dicemburui dan dicurigai, mungkin hingga seperti di mata-matai sampai lupa bagaimana rasanya dicintai dengan tenang.
Saya memahami bahwa cemburu terkadang lahir dari rasa sayang.
Ketika seseorang takut kehilangan, ia bisa menjadi lebih sensitif terhadap perubahan kecil, lebih mudah memikirkan kemungkinan buruk, bahkan merasa gelisah ketika orang yang dicintainya tidak berada dalam jangkauannya.
Saya tidak pernah menganggap cemburu sebagai sesuatu yang sepenuhnya salah.
Saya justru memahami bahwa ketika kita mencintai seseorang, wajar jika muncul rasa takut kehilangan.
Namun, bagi saya, ada perbedaan besar antara cemburu karena menyayangi dan mencemburui seseorang sampai membuatnya kehilangan kebebasan untuk menjalani kehidupan.
Sebab, tidak semua perhatian harus berakhir dengan pertanyaan. Tidak semua keterlambatan membalas pesan berarti sedang mengabaikan.
Tidak setiap senyuman kepada orang lain mengandung perasaan tersembunyi. Dan tidak setiap kesibukan berarti seseorang sedang mencari alasan untuk menjauh.
Terkadang, laki-laki hanya sedang bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, bercengkerama dengan teman, atau membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
Ia tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Ia hanya sedang menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.
Namun, ketika kecemburuan tumbuh tanpa kendali, hal-hal sederhana seperti itu bisa berubah menjadi persoalan besar.
Baru beberapa menit tidak membalas pesan, pertanyaan mulai berdatangan. Ketika sedang berkumpul bersama teman, muncul kecurigaan.
Saat harus berinteraksi dengan rekan kerja perempuan, penjelasan panjang seolah menjadi kewajiban yang tidak boleh dihindari.
Lama-kelamaan, hal yang seharusnya biasa saja terasa seperti kesalahan.
Saya membayangkan betapa melelahkannya menjalani hubungan ketika setiap tindakan harus dipikirkan berkali-kali, bukan karena takut melakukan kesalahan, melainkan karena takut menimbulkan kecemburuan yang tidak pernah selesai.
Bukankah seharusnya cinta menjadi tempat seseorang menemukan ketenangan, bukan ruang yang membuatnya terus-menerus merasa diawasi?
Saya tidak ingin menjadi laki-laki yang harus kehilangan seluruh ruang pribadinya hanya untuk membuktikan bahwa ia mencintai seseorang.
Saya juga tidak ingin membuat perempuan yang saya cintai merasa diabaikan atau tidak dihargai.
Bagi saya, hubungan yang baik harus mampu menjaga keduanya: ketenangan seseorang yang mencintai dan rasa aman seseorang yang dicintai.
Saya bersedia memberikan kabar. Saya bersedia menjelaskan ketika sesuatu membuatmu tidak nyaman.
Saya bersedia menjaga sikap agar tidak menimbulkan salah paham.
Namun, saya juga berharap semua itu tumbuh dari kesadaran untuk saling menghargai, bukan dari ketakutan menghadapi kemarahan atau tuduhan.
Sebab, ada perbedaan antara memberikan kabar karena ingin membuat pasangan tenang dan memberikan kabar karena takut dicurigai.
Yang pertama lahir dari kasih sayang. Yang kedua perlahan tumbuh menjadi beban.
Saya ingin menghubungimu karena saya ingin bercerita, bukan karena harus melaporkan setiap langkah.
Saya ingin memberitahumu ke mana saya pergi karena saya menghargaimu, bukan karena saya tidak lagi memiliki hak untuk menentukan kegiatan saya sendiri.
Dan saya ingin kamu memahami bahwa ketika saya sedang sibuk, bukan berarti kamu kehilangan tempat dalam hidup saya.
Ketika saya membutuhkan waktu sendiri, bukan berarti saya sedang menjauh dari hubungan ini.
Terkadang, saya hanya membutuhkan ruang untuk menyelesaikan urusan, menenangkan pikiran, dan kembali dengan hati yang lebih lapang.
Laki-laki juga memiliki tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ia memiliki pekerjaan yang harus dituntaskan, persoalan yang perlu dipikirkan, dan masa depan yang sedang diperjuangkan.
Tidak setiap saat ia bisa hadir melalui layar telepon untuk memastikan bahwa pasangannya tidak sedang memikirkan hal-hal buruk.
Bukan karena cintanya kurang, melainkan karena kehidupan tidak selalu bisa berhenti hanya untuk menjawab kecemasan.
Saya percaya, perempuan yang mencintai dengan dewasa akan berusaha memahami keadaan tersebut.
Ia mungkin tetap cemburu, tetapi memilih membicarakannya dengan baik. Ia mungkin merasa takut kehilangan, tetapi tidak menjadikan ketakutan itu sebagai alasan untuk mengatur seluruh kehidupan pasangannya.
Begitu pula saya. Jika kecemburuanmu muncul karena sikap saya yang kurang tepat, saya bersedia memperbaikinya.
Jika ada batas yang perlu kita sepakati, mari kita bicarakan. Saya tidak ingin menggunakan kebebasan sebagai alasan untuk bertindak semaunya.
Namun, saya juga ingin kita sama-sama mengerti bahwa hubungan bukan tentang siapa yang paling berhak mengatur, melainkan bagaimana dua orang saling menjaga tanpa harus saling menguasai.
Sebab, kepercayaan tidak tumbuh dari larangan yang semakin banyak. Kepercayaan tumbuh dari kejujuran, konsistensi, dan kesediaan untuk tidak menyalahgunakan kesempatan yang diberikan pasangan.
Saya ingin tetap memilihmu setiap hari, tetapi saya juga ingin pilihan itu lahir dari ketulusan, bukan dari perasaan bahwa saya tidak lagi memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri.
Ada kalanya seseorang terlalu takut kehilangan sampai tanpa sadar justru membuat orang yang dicintainya merasa ingin menjauh.
Ia mengira semakin ketat menjaga, semakin kuat hubungan yang dimiliki. Padahal, perhatian yang berlebihan tanpa ruang untuk bernapas bisa membuat cinta terasa seperti kewajiban yang melelahkan.
Saya tidak ingin kita sampai pada keadaan ketika percakapan lebih banyak diisi pertengkaran daripada cerita, ketika waktu bersama lebih sering digunakan untuk membuktikan sesuatu daripada menikmati kebersamaan, atau ketika kata-kata sayang kehilangan kehangatan karena selalu dibayangi pertanyaan yang sama.
Saya ingin kita tertawa tanpa curiga. Bercerita tanpa takut disalahartikan. Menjalani kesibukan tanpa harus merasa bersalah.
Dan ketika kecemburuan datang, saya ingin kita saling mendekat melalui percakapan, bukan saling melukai melalui prasangka.
Jika kamu mencintaiku, percayalah bahwa saya juga sedang belajar menjaga hubungan ini.
Saya bukan manusia yang sempurna. Mungkin saya pernah kurang peka, terlambat memberikan kabar, atau tidak menyadari bahwa tindakan tertentu membuatmu tidak nyaman.
Tegurlah saya ketika itu terjadi. Katakan apa yang kamu rasakan. Berikan saya kesempatan untuk memahami apa yang belum saya mengerti.
Namun, jangan meminta saya terus-menerus membuktikan kesetiaan hanya karena ketakutanmu belum menemukan tempat untuk berdamai.
Saya ingin menjadi laki-laki yang membuatmu merasa aman, tetapi saya tidak mungkin menjadi obat bagi seluruh luka yang berasal dari masa lalumu.
Saya bisa menemanimu menyembuhkan ketakutan, tetapi kita berdua harus bersedia membangun kepercayaan agar luka lama tidak terus-menerus melukai hubungan yang sedang kita jalani.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa cinta yang dewasa bukanlah cinta yang tidak pernah cemburu.
Cinta yang dewasa adalah cinta yang mampu mengendalikan kecemburuan agar tidak berubah menjadi kecurigaan, tuntutan, dan keinginan untuk menguasai.
Sebab, saya tidak sedang mencari seseorang yang tidak pernah takut kehilangan saya. Saya hanya ingin seseorang yang, ketika rasa takut itu datang, tetap memilih berbicara dengan hati yang jernih.
Saya ingin dicintai dengan perhatian, bukan dibatasi dengan kecurigaan. Saya ingin dijaga dengan kesetiaan, bukan dikekang dengan ketakutan.
Dan saya ingin kita saling memiliki tanpa merasa harus kehilangan diri sendiri.
Sebab, laki-laki yang mencintai dengan sungguh-sungguh juga membutuhkan ketenangan. Ia ingin pulang kepada seseorang yang memberinya kepercayaan, bukan kepada seseorang yang membuatnya terus merasa bersalah karena menjalani kehidupannya sendiri.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mencemburui seseorang sampai lupa menikmati alasan mengapa kita memilihnya sejak awal.
Jangan sampai ketakutan kehilangan membuat kita justru kehilangan kehangatan yang selama ini berusaha kita pertahankan.
Karena pada akhirnya, cinta bukan tentang seberapa jauh kita bisa membatasi seseorang agar tidak pergi, melainkan seberapa kuat kita membangun hubungan agar masing-masing tetap ingin tinggal.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.