Fakta Nasional

Dampak Swasembada Pangan Turunkan Penerimaan Bea Masuk Jadi Rp 15,4 Triliun hingga April 2025

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Keberhasilan Indonesia dalam menghentikan impor pangan strategis seperti beras, jagung, dan gula mulai terlihat nyata dalam perbaikan neraca perdagangan. Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa hingga April 2025, pen…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 28 May 2025 📖 1 menit
Dampak Swasembada Pangan Turunkan Penerimaan Bea Masuk Jadi Rp 15,4 Triliun hingga April 2025
Swasembada Pangan/(Instagram)

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Keberhasilan Indonesia dalam menghentikan impor pangan strategis seperti beras, jagung, dan gula mulai terlihat nyata dalam perbaikan neraca perdagangan.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa hingga April 2025, penerimaan bea masuk hanya mencapai Rp 15,4 triliun atau sekitar 29,2 % dari target APBN tahun ini.

Angka tersebut turun 1,9 % dibandingkan periode sama tahun lalu, bukan karena lesunya aktivitas perdagangan, melainkan karena pasokan dalam negeri yang semakin mandiri.

Wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu menegaskan bahwa penurunan penerimaan justru hal positif. “Penurunan penerimaan bea masuk bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

Ini terjadi karena tidak ada impor beras, jagung, dan gula,” jelasnya. Bila dikoreksi, penerimaan bea masuk tanpa pengaruh ketiga komoditas tersebut malah tumbuh 4,3 % dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah menjalankan serangkaian kebijakan untuk memperkuat sektor pertanian:

Peningkatan Produksi Lokal

Pemberian benih unggul dan pupuk bersubsidi.

Transfer teknologi lewat penyuluhan lapangan.

Perbaikan Sistem Distribusi

Optimalisasi logistik dan infrastruktur pasar.

Digitalisasi rantai pasok untuk mengurangi biaya stok.

Insentif bagi Petani

Subsidi alat mesin pertanian dan asuransi tanaman.

Skema agregasi bantuan input produksi.

Peningkatan Stok dan Produksi Pangan Nasional

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan bahwa stok cadangan beras nasional yang dikelola Perum Bulog per 24 Mei 2025 telah mencapai 3,9 juta ton.

Angka ini menjadi bukti ketahanan pangan makin kokoh, terutama di tengah krisis pangan global.

Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Januari–Juni 2025 diperkirakan 18,76 juta ton (naik 11,17 %), sementara produksi jagung pipilan tembus 10,91 juta ton (naik 12,88 %).

Tak hanya itu, pendapatan negara dari bea keluar juga ikut terdongkrak. Hingga April 2025, penerimaan bea keluar melonjak 95,9 % menjadi Rp 11,3 triliun—dipicu lonjakan harga ekspor minyak sawit mentah (CPO).

Keberhasilan ini menyiratkan bahwa sektor pertanian kini berperan ganda: menjamin ketahanan pangan dan memperkuat stabilitas fiskal.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK