Fakta Nasional

Danantara Dorong Integrasi Hilirisasi Mineral Kritis Lewat Kolaborasi BUMN

FAKTANASIONAL.NET — Badan Pengelola Investasi Danantara (Danantara) mendorong optimalisasi pengolahan mineral strategis di dalam negeri guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok material maju ( advanced materials ) global. Langkah ini dita…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 15 July 2026 📖 2 menit
Danantara Dorong Integrasi Hilirisasi Mineral Kritis Lewat Kolaborasi BUMN
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Patria Sjahrir (kiri) bersama Global CEO JBS Gilberto Tomazoni (kanan) usai pengumuman kemitraan investasi senilai 2,5 miliar Dolar AS di Jakarta, Jumat (7/8/2026)./Dok. infobanknews
) -->

FAKTANASIONAL.NET — Badan Pengelola Investasi Danantara (Danantara) mendorong optimalisasi pengolahan mineral strategis di dalam negeri guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok material maju (advanced materials) global.

Langkah ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan hilirisasi mineral kritis (critical minerals downstreaming) antara MIND ID, PT Len Industri, PT Krakatau Steel, dan PT Perminas.

Melalui kerja sama tersebut, keempat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini berkomitmen mengoptimalkan pasokan mineral kritis untuk memenuhi kebutuhan industri strategis nasional, seperti sektor pertahanan, penerbangan, energi bersih, serta ekosistem kendaraan listrik.

Baca Juga: Target Rampung Akhir 2026, Danantara dan BP BUMN Bakal Pangkas 48 Anak Usaha Telkom

Penguatan sektor pertengahan (middle stream) dinilai krusial dalam transformasi ekonomi berbasis teknologi tinggi.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa ketergantungan pada ekspor bahan mentah yang telah berlangsung puluhan tahun harus segera dihentikan agar nilai tambah kekayaan alam dapat dinikmati sepenuhnya di dalam negeri.

"Sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju. Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth. Bahan-bahan tersebut menjadi fondasi teknologi masa depan. Namun, selama puluhan tahun, kita terlalu sering berhenti pada tahap ekstraksi dan mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga berkali-kali lipat," tegas Rosan di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Sementara itu, Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit P. Santosa, menekankan pentingnya membangun ekosistem industri yang terintegrasi dan mandiri agar mampu bersaing di tingkat global.

Menurutnya, kepemilikan cadangan mineral yang melimpah tidak akan optimal tanpa adanya kemampuan pengolahan domestik yang solid.

"Pengembangan industri material maju perlu diarahkan secara lebih terintegrasi sebagai fondasi untuk memperkuat daya saing industri nasional. Keunggulan kita bukan hanya pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan mengubahnya menjadi ekosistem industri bernilai tambah tinggi," jelas Sigit.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, mineral strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga logam tanah jarang (rare earth) diharapkan dapat diolah secara terintegrasi guna mendukung kemandirian industri strategis nasional.

Baca Juga: 240 Entitas BUMN Dikurangi Pemerintah, Danantara: Bangun Struktur Perusahaan Lebih Efisien dan Sehat


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK