Dari Bursa ke Manusia (Bagian 3)
TAPI mari kita kembali ke tanah. Di balik angka Rp300 triliun itu, ada tambang batu bara. Ada lubang besar di Kalimantan. Ada jalan hauling yang berdebu. Ada sungai yang berubah warna. Ada kampung yang bergeser. Ada pekerja yang berharap gaji lancar…
Dengarkan Ringkasan
TAPI mari kita kembali ke tanah. Di balik angka Rp300 triliun itu, ada tambang batu bara. Ada lubang besar di Kalimantan. Ada jalan hauling yang berdebu. Ada sungai yang berubah warna. Ada kampung yang bergeser.
Ada pekerja yang berharap gaji lancar. Ada kontraktor kecil yang menunggu pembayaran. Ada warung yang hidup karena aktivitas tambang. Ada sekolah yang berdiri dari dana CSR. Ada juga lingkungan yang rusak dan belum tentu pulih.
Ekonomi bukan hanya grafik di layar bursa.
Ekonomi adalah soal hidup orang banyak.
Ketika saham BYAN melonjak, siapa yang untung? Pemegang saham besar, tentu. Investor institusi, mungkin. Trader yang cepat masuk, bisa jadi.
Tapi bagaimana dengan masyarakat sekitar tambang? Bagaimana dengan pekerja? Bagaimana dengan generasi yang akan mewarisi tanah dan air di sana?
Di setiap transisi ekonomi, selalu ada yang naik dan ada yang turun. Selalu ada yang masuk ke pusat dan ada yang terdorong ke pinggir. Selalu ada yang menjadi pemenang, dan ada yang hanya menjadi penonton.
Karena itu, transisi zaman bukan hanya soal siapa pemilik baru Bayan. Tapi soal apakah perubahan kepemilikan itu membawa perubahan cara hidup, cara berbagi, dan cara memperlakukan manusia serta alam.
KUDETA ATAU SEKADAR PERGANTIAN MUSIM?
Berita itu memakai kata "kudeta": Dato Low mengudeta Prajogo.
Tapi kata "kudeta" di sini tentu bukan kudeta politik. Bukan perebutan kekuasaan dengan senjata. Ini kudeta pasar: kudeta lewat harga saham, lewat kapitalisasi, lewat daftar kekayaan.
Namun jika rumor akuisisi Haji Isam benar terjadi, ceritanya menjadi lebih menarik lagi.
Sebab jika Haji Isam mengambil alih 62,25 persen saham Bayan, maka Dato Low justru seperti keluar dari kerajaan yang ia besarkan. Ia menang di harga saham, menang di kekayaan, menang di daftar Forbes. Tapi pada saat yang sama, ia mungkin kehilangan kendali atas aset yang membuat namanya besar.
Di sini pasar tampak seperti permainan yang aneh.
Kadang orang terlihat menang karena menjual. Kadang orang terlihat naik karena sedang bersiap turun. Kadang orang terlihat keluar dari panggung, justru karena sudah menyelesaikan satu babak dengan sangat menguntungkan.
Dan di saat yang sama, muncul babak baru dengan aktor baru.
WAJAH BARU, ARAH BARU?
Dalam kunjungan lapangan ke tambang Bayan, Dahlan Iskan mencatat kehadiran dua sosok muda: Norman Joesoef dan Alwin Cipto Ciputra. Yang satu mengapit Dato Low, yang lain berdampingan dengan Haji Isam.
Ini detail kecil, tapi menarik.
Sebab dalam dunia bisnis, siapa berdiri di samping siapa sering kali lebih bicara daripada siapa menjabat apa. Ia menandakan lingkaran. Ia menandakan arah. Ia menandakan regenerasi.
Jika benar sedang terjadi konsolidasi baru di dunia tambang, maka yang berubah bukan hanya kepemilikan. Yang berubah adalah jejaring. Yang berubah adalah siapa yang akan menjadi pemain inti di masa depan.
Apakah ini berarti munculnya keseimbangan baru yang lebih nasional, lebih lokal, lebih "membumi"? Mungkin.
Tapi kita juga perlu jujur: tidak setiap pergantian pemilik berarti pergantian sistem. Kadang yang berganti hanya orangnya. Kadang yang berubah hanya wajahnya. Sementara logika besarnya tetap sama: mencari untung sebesar-besarnya, secepat-cepatnya.
Maka pertanyaannya bukan hanya: siapa yang sekarang di atas?
Pertanyaannya: apakah sistemnya ikut berubah?
MENUJU EKONOMI KONSTITUSI?
Di sinilah kita sampai pada pertanyaan yang lebih dalam.
Kalau Indonesia benar-benar sedang mengalami transisi zaman, transisi peradaban, transisi ekonomi, maka kita harus bertanya: menuju ke mana?
Apakah dari kapitalisme pasar bebas menuju sosialisme? Mungkin. Tapi kata "sosialisme" sering membuat orang takut, karena dibayangkan sebagai negara yang terlalu berkuasa, birokrasi yang gemuk, dan kebebasan yang menyempit.
Maka mungkin ada jalan lain yang lebih cocok untuk Indonesia: _ekonomi konstitusi_.
Apa itu?
Sederhananya: ekonomi yang tidak menyerahkan segalanya pada pasar, tetapi juga tidak mematikan pasar. Ekonomi yang tetap menghargai swasta, tetapi tidak membiarkan sumber daya strategis dikuasai segelintir orang tanpa batas.
Ekonomi yang berpijak pada Pasal 33 UUD 1945: bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Ini bukan berarti negara harus memiliki semua. Bukan berarti swasta harus dimusuhi. Bukan berarti pasar harus dibubarkan.
Tapi ini berarti pasar harus diarahkan. Modal harus diatur. Kekayaan alam harus dikelola untuk kepentingan bersama. Dan pertumbuhan tidak boleh hanya menjadi angka, tetapi harus menjelma menjadi kesejahteraan, keadilan, dan martabat.
Ekonomi konstitusi adalah ekonomi yang tidak menyembah pasar, tetapi juga tidak menolak pasar. Ia menempatkan pasar sebagai alat, bukan tuhan.
YANG PENTING BUKAN HANYA NAMA, TAPI ARAH
Maka istilah "dari sembilan naga ke sembilan haji" tidak perlu ditafsirkan terlalu jauh. Ia bukan soal etnis. Bukan soal agama. Bukan soal siapa lebih sah menjadi Indonesia.
Ia lebih tepat dibaca sebagai metafora: bahwa pusat gravitasi ekonomi sedang bergerak.
Dari jaringan lama yang sangat global, ke jaringan baru yang lebih lokal. Dari konglomerasi yang tumbuh di era lama, ke pengusaha yang muncul dari gelombang baru. Dari simbol-simbol lama, ke simbol-simbol yang lebih dekat dengan kenyataan sosial hari ini.
Tapi sekali lagi: yang penting bukan namanya.
Yang penting arahnya.
Jika perpindahan ini hanya menghasilkan konglomerat baru dengan gaya lama, maka kita belum benar-benar pindah zaman. Kita hanya mengganti pemain di panggung yang sama.
Tapi jika perpindahan ini membuat ekonomi lebih berpihak pada rakyat, lebih transparan, lebih adil, lebih peduli pada lingkungan, dan lebih berdaulat, maka barulah kita bisa berkata: ya, ini transisi yang bermakna.
PENUTUP: BELAJAR DARI SATU BERITA KECIL
Berita tentang Haji Isam, Bayan, Dato Low, dan Prajogo mungkin akan lewat. Esok lusa akan ada berita baru. Saham akan naik turun. Daftar orang terkaya akan berganti. Rumor akan dikonfirmasi atau dibantah. Pasar akan kembali sibuk.
Tapi dari satu berita ini, kita bisa belajar satu hal besar: bahwa zaman sedang berubah, dan perubahan itu sering kali tidak datang dengan teriakan.
Ia datang lewat transaksi. Lewat rumor. Lewat harga saham. Lewat pertemuan diam-diam. Lewat perpindahan kepemilikan. Lewat perubahan peta kekayaan.
Dan di balik semua itu, ada pertanyaan yang tetap sama:
_Untuk siapa sebenarnya ekonomi ini bekerja?_
Jika jawabannya hanya untuk segelintir orang, maka kita belum ke mana-mana. Kita hanya berganti tuan.
Tapi jika jawabannya mulai bergeser ke arah yang lebih luas—ke rakyat, ke daerah, ke pekerja, ke lingkungan, ke masa depan—maka mungkin kita memang sedang menyaksikan transisi zaman.
Bukan sekadar transisi kekuasaan.
Bukan sekadar transisi kekayaan.
Tapi transisi cara kita memahami ekonomi, kedaulatan, dan kemanusiaan.
Dan mungkin, hanya mungkin, inilah saatnya Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar bagi dunia, tetapi menjadi. rumah bagi dirinya sendiri. (TAMAT)
Penulis: Agus M Maksum
Catatan: Tulisan ini adalah narasi reflektif atas pemberitaan publik, bukan rekomendasi investasi. Sebagian informasi dalam berita asal masih berupa rumor dan belum dikonfirmasi resmi oleh pihak terkait.
Rabu, 19 Agustus 2026
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.