Fakta Nasional

Dari Sembilan Naga ke Sembilan Haji: Bukan Sekedar Ganti Pemilik (Bagian 2)

SELAMA bertahun-tahun, kita terbiasa melihat ekonomi Indonesia seperti panggung yang itu-itu saja. Nama-nama besarnya berulang. Konglomerat lama, grup lama, jaringan lama. Ada yang menyebutnya era "sembilan naga". Istilah ini tentu tidak perlu ditel…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: M. Sahlan Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 20 August 2026 📖 3 menit
Dari Sembilan Naga ke Sembilan Haji: Bukan Sekedar Ganti Pemilik (Bagian 2)
) -->

SELAMA bertahun-tahun, kita terbiasa melihat ekonomi Indonesia seperti panggung yang itu-itu saja. Nama-nama besarnya berulang. Konglomerat lama, grup lama, jaringan lama.

Ada yang menyebutnya era "sembilan naga". Istilah ini tentu tidak perlu ditelan mentah-mentah. Tapi sebagai kiasan, ia menggambarkan satu hal: pusat gravitasi ekonomi pernah berputar di sekitar lingkaran tertentu yang sangat kuat, sangat global, dan sangat sulit disentuh.

Lalu muncul cerita baru: "sembilan haji".

Sekali lagi, ini bukan istilah resmi. Bukan teori. Bukan pula kategori ilmiah. Tapi ungkapan itu hidup di obrolan, di warung kopi, di grup WhatsApp, di antara orang-orang yang merasa sedang menyaksikan perubahan arah.

Seolah-olah ada pergeseran dari satu keseimbangan lama ke keseimbangan baru.

Dulu, modal besar identik dengan jaringan global, pasar bebas, dan konglomerasi yang tumbuh sejak era Orde Baru.

Kini, muncul figur-figur baru yang tumbuh dari daerah, dari tambang, dari logistik, dari jasa, dari jaringan usaha yang lebih membumi, kadang dengan simbol-simbol keagamaan yang lebih kental.

Haji Isam, dalam cerita ini, bukan sekadar nama. Ia seperti lambang dari gelombang baru itu.

EQUILIBRIUM LAMA yANG MULAI RETAK

Selama kurang lebih tiga puluh tahun, Indonesia hidup dalam satu corak keseimbangan ekonomi: pasar bebas, liberalisasi, deregulasi, dan kepercayaan bahwa modal harus dibiarkan mengalir sebebas-bebasnya.

Negara sering kali diminta mundur sedikit. Pasar diminta maju lebih dulu. Harga dianggap sebagai hakim paling adil. Siapa yang efisien, dia menang. Siapa yang kuat modal, dia bertahan. Siapa yang lemah, tersingkir.

Dalam bahasa yang lebih keras, banyak orang menyebutnya _neoliberalisme_.

Tentu tidak semua salah. Pasar bebas pernah membawa pertumbuhan, investasi, dan modernisasi. Tapi ada sisi gelapnya juga: ketimpangan, penguasaan sumber daya oleh segelintir kelompok, dan ekonomi yang kadang terasa seperti kasino raksasa.

Di luar negeri, orang sering menyebut nama-nama besar: George Soros, Open Society Foundation, The Economist, Bloomberg, Bilderberg, BlackRock, dan sebagainya. Sebagian adalah fakta, sebagian lagi menjadi bahan spekulasi.

Tapi yang penting bukan selalu apakah semua nama itu benar-benar duduk dalam satu ruangan yang sama.

Yang lebih penting adalah ini: ada satu cara berpikir yang lama sekali bekerja. Cara berpikir yang percaya bahwa dunia sebaiknya diatur oleh pasar, bahwa modal lebih tahu daripada masyarakat, dan bahwa negara cukup menjadi penjaga malam.

Cara berpikir itulah yang membentuk banyak kebijakan, banyak narasi media, banyak standar "reformasi", dan banyak ukuran "kemajuan".

Lama-lama, cara berpikir itu tidak hanya mengatur ekonomi. Ia juga membentuk persepsi.

PERSEPSI yang MENJADI REALITAS

Di sinilah teori reflexivity menjadi relevan.

George Soros pernah mengatakan bahwa pasar tidak selalu rasional. Persepsi pelaku pasar bisa memengaruhi kenyataan, dan kenyataan bisa kembali memengaruhi persepsi.

Jadi bukan hanya fakta yang menggerakkan harga, tetapi juga cerita tentang fakta itu.

Kasus BYAN adalah contoh yang sangat jelas.

Ketika rumor akuisisi Haji Isam beredar, harga saham naik. Ketika harga saham naik, kapitalisasi pasar membesar. Ketika kapitalisasi pasar membesar, kekayaan Dato Low ikut melonjak. Ketika kekayaan itu melonjak, daftar orang terkaya berubah. Ketika daftar itu berubah, media menulis lebih banyak. Ketika media menulis lebih banyak, pasar semakin tertarik.

Maka rumor pun menciptakan gelombang.

Belum tentu transaksinya terjadi. Belum tentu skemanya jelas. Belum tentu dananya siap. Tapi persepsi sudah lebih dulu bekerja.

Dan di pasar modal, persepsi kadang sama nyatanya dengan kenyataan.

Inilah dunia yang kita huni sekarang: dunia di mana narasi bisa menggerakkan triliun rupiah hanya dalam beberapa hari.

SERANGAN TIDAK TERLIHAT, TAPI TERASA

Ada yang menyebut bahwa Indonesia pernah mengalami semacam "serangan empat puluh hari". Serangan yang tidak tampak seperti invasi militer. Tidak ada tank, tidak ada pasukan, tidak ada bendera asing.

Serangannya halus: lewat opini, lewat media, lewat aktivis, lewat influencer, lewat laporan, lewat framing, lewat algoritma.

Tidak selalu ada komando yang terlihat. Tidak selalu ada rapat rahasia. Tapi di era jaringan, koordinasi tidak harus berbentuk perintah dari atas. Kadang cukup dengan narasi yang sama, lalu dipantulkan berulang-ulang oleh banyak saluran.

Satu isu membesar. Satu sentimen menyebar. Satu persepsi terbentuk. Lalu masyarakat yang tadinya tenang bisa berubah gelisah. Pasar yang tadinya stabil bisa berubah bergejolak. Pemerintah yang tadinya percaya diri bisa tiba-tiba defensive.

Di sinilah kita belajar: kekuatan zaman ini bukan hanya menguasai tambang atau bank. Ia juga menguasai cerita.

Dan siapa yang menguasai cerita, sering kali ikut menguasai arah bangsa. (bersambung ke bagian 3....)

Penulis: Agus M Maksum _ tentang Perpindahan Zaman


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK