Dari "Sembilan Naga" ke "Sembilan Haji" (Bagian 1)
ADA kabar dari bursa yang pada mulanya tampak seperti urusan angka biasa. Pertengahan Agustus 2026, pasar dikejutkan oleh rumor besar: Haji Isam, lewat Jhonlin Group, disebut-sebut bersiap mencaplok 62,25 persen saham Bayan Resources (BYAN). Nilainy…
Dengarkan Ringkasan
ADA kabar dari bursa yang pada mulanya tampak seperti urusan angka biasa.
Pertengahan Agustus 2026, pasar dikejutkan oleh rumor besar: Haji Isam, lewat Jhonlin Group, disebut-sebut bersiap mencaplok 62,25 persen saham Bayan Resources (BYAN). Nilainya tidak main-main: sekitar Rp300 triliun.
Jika benar, itu bukan sekadar transaksi saham. Itu seperti bunyi lonceng panjang yang menandai sesuatu sedang bergeser.
Resminya, belum ada konfirmasi. Baik pihak Bayan maupun Haji Isam masih diam. Tapi pasar, seperti biasa, sering bergerak lebih cepat daripada pengumuman. Ia bekerja dengan kabar, dengan tafsir, dengan bisik-bisik, dengan harapan.
Maka saham BYAN pun meledak.
Pada Jumat, 14 Agustus 2026, saham ini menyentuh auto rejection atas, naik 20 persen ke Rp14.400 per lembar. Kapitalisasi pasarnya melonjak ke sekitar Rp480 triliun, menyalip Barito Renewables Energy milik Prajogo Pangestu.
Dalam sekejap, BYAN naik ke papan atas bursa, hanya di bawah BCA dan BRI.
Dan tiba-tiba, nama Dato Low Tuck Kwong kembali berada di puncak daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes. Hartanya disebut mencapai USD19,6 miliar, sekitar Rp350 triliun.
Prajogo Pangestu, yang sebelumnya lama berada di singgasana kekayaan, harus turun ke urutan kedua.
Di permukaan, ini cerita tentang siapa menyalip siapa.
Tapi kalau kita mau sedikit lebih tenang membaca, ini mungkin bukan cuma soal orang kaya nomor satu atau nomor dua. Ini seperti kepingan kecil dari sebuah mosaik yang lebih besar: transisi zaman
Catatan Kecil: Agus M Maksum, tentang Perpindahan Zaman
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.