Fakta Nasional

Daya Beli Melemah di Kuartal I-2025: Tantangan Konsumsi dan Gejolak Pasar Modal

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Perjalanan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 menunjukkan dinamika yang cukup menantang. Momen Ramadan, yang selama ini menjadi tulang punggung lonjakan konsumsi nasional, justru mencatat penurunan signifikan. Proyeks…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 30 April 2025 📖 1 menit
Daya Beli Melemah di Kuartal I-2025: Tantangan Konsumsi dan Gejolak Pasar Modal
Daya Beli Melemah di Kuartal I-2025: Tantangan Konsumsi dan Gejolak Pasar Modal/(ilustrasi/@pixabay)

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Perjalanan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 menunjukkan dinamika yang cukup menantang. Momen Ramadan, yang selama ini menjadi tulang punggung lonjakan konsumsi nasional, justru mencatat penurunan signifikan.

Proyeksi Kementerian Perhubungan menyebut jumlah pemudik tahun ini turun hingga 24% dibandingkan 2024, menandakan lesunya mobilitas masyarakat.

Sementara itu, data think-tank CORE Indonesia mencatat penjualan ritel merosot sebesar 12,28% selama Ramadan 2025. Kondisi ini jelas menurunkan daya beli masyarakat dan menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Faktor turunnya mobilitas dan daya beli umat Muslim pada bulan suci Ramadan tahun ini dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global dan domestik.

Pelambatan pertumbuhan ekonomi dunia, stigma inflasi tinggi, serta kekhawatiran akan gejolak politik dalam negeri membuat masyarakat cenderung menahan pengeluaran. Sektor ritel – yang sejatinya menjadi barometer konsumsi rumah tangga – mencatat kontraksi yang cukup dalam, khususnya pada segmen fesyen dan barang elektronik.

Hal ini memaksa pelaku usaha melakukan strategi diskon ekstra untuk memancing minat beli.

Tidak hanya konsumsi, pasar modal Indonesia juga turut mengalami tekanan. Dalam 30 hari pertama kuartal I-2025, terjadi dua kali trading halt — sebuah catatan yang terakhir kali muncul saat pandemi Covid-19 lima tahun lalu.

Dana asing keluar mencapai Rp 6,8 triliun, memukul sentimen investor domestik. Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons dengan melonggarkan aturan buyback saham, menurunkan batas Auto Rejection Bawah (ARB), dan merevisi mekanisme trading halt agar lebih adaptif terhadap koreksi ekstrem.

Meski situasi saat ini penuh volatilitas, ada sinyal optimisme: distribusi dividen jumbo oleh BUMN dan masuknya nama-nama global seperti Ray Dalio di dewan pengawas Danantara, sovereign wealth fund nasional.

Penundaan tarif AS selama 90 hari oleh pemerintahan Trump juga memberi ruang bernapas bagi negosiasi dagang. Di saat investor ritel banyak yang memilih menunda, Henan Asset menyarankan mengadopsi strategi investasi jangka panjang serta mengevaluasi aset undervalued dengan prospek pemulihan. Volatilitas ini bukan hambatan, melainkan bagian dari ritme strategi investasi.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK