Fakta Nasional

Dipicu AS-Iran dan Banjir Pasokan, Harga Minyak Dunia Catat Penurunan Kuartalan Terburuk Sejak Pandemi

FAKTANASIONAL.NET — Harga minyak mentah dunia kembali melanjutkan tren pelemahan. Pasar energi global saat ini tengah mencatat jalur penurunan bulanan dan triwulanan terdalamnya sejak awal badai pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020 silam. Berdas…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 01 July 2026 📖 2 menit
Dipicu AS-Iran dan Banjir Pasokan, Harga Minyak Dunia Catat Penurunan Kuartalan Terburuk Sejak Pandemi
Aktivitas pengangkutan minyak mentah dunia yang dipengaruhi dinamika geopolitik Timur Tengah dan stok persediaan AS./(Pixabay)
) -->

FAKTANASIONAL.NET — Harga minyak mentah dunia kembali melanjutkan tren pelemahan.

Pasar energi global saat ini tengah mencatat jalur penurunan bulanan dan triwulanan terdalamnya sejak awal badai pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020 silam.

Berdasarkan penutupan perdagangan pada Selasa (30/6/2026) waktu Amerika Serikat (AS), harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Agustus merosot 23 sen atau 0,3 persen ke posisi 72,92 Dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih dalam, yakni sebesar 1,25 Dolar AS atau 1,8 persen ke level 69,50 Dolar AS per barel.

Dengan koreksi ini, harga minyak dunia kini hampir sepenuhnya menghapus premi risiko dan kembali ke level sebelum pecahnya eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu.

Rapor Merah Sepanjang Juni dan Kuartal II-2026

Baca Juga: Efek Konflik Iran: Inflasi Amerika Serikat Tembus 3,8 Persen dan Bebani Dompet Warga

Kejatuhan harga sepanjang periode April hingga Juni 2026 ini menorehkan catatan buruk dalam sejarah pasar komoditas energi beberapa tahun terakhir:

  • Penurunan Bulanan (Juni): Harga Brent tercatat ambles sekitar 21 persen selama bulan Juni. Ini merupakan penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020, saat permintaan energi global runtuh akibat lockdown pandemi.

  • Penurunan Triwulanan (Kuartal II): Sepanjang kuartal kedua 2026, Brent merosot hingga 38 persen, menjadikannya koreksi triwulanan terdalam sejak kuartal pertama tahun 2020.

Dari sisi teknikal, indikator pasar menunjukkan bahwa tekanan jual sudah sangat jenuh. Brent telah berada di wilayah jenuh jual (oversold) selama 13 hari berturut-turut, sedangkan WTI bertahan di area yang sama selama 11 hari beruntun.

Fokus Pasar: Diplomasi AS-Iran di Qatar

Sentimen pelaku pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Qatar.

Pemerintah Qatar mengonfirmasi bahwa utusan AS di Doha saat ini tidak langsung menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan pihak Iran.

Kedua belah pihak saat ini berfokus pada pembicaraan teknis di balik layar.

Namun, ketidakpastian ini membuat para investor tetap bersikap waspada dan memantau ketat situasi di jalur logistik vital, Selat Hormuz, karena setiap gesekan sekecil apa pun dapat langsung memantik volatilitas harga.

Rekor Produksi AS dan Proyeksi Surplus 2027

Selain faktor geopolitik, tekanan pada harga minyak juga dipicu oleh faktor fundamental, yaitu melimpahnya pasokan global.

Data terbaru dari U.S. Energy Information Administration (EIA) mengungkapkan bahwa produksi minyak mentah AS sukses mencetak rekor bulanan baru, mencapai 13,93 juta barel per hari pada April 2026.

Lonjakan produksi ini terjadi setelah para produsen AS memacu pompa minyak mereka demi memanfaatkan momentum kenaikan harga saat konflik Iran memanas beberapa waktu lalu.

Dalam jangka menengah, kondisi kelebihan pasokan ini diproyeksikan masih akan membayangi pasar.

Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak dunia akan mengalami surplus pasokan sekitar 4,8 juta barel per hari pada tahun 2027, yang berpotensi terus menekan harga minyak dalam jangka menengah.

Kini, fokus perhatian pasar tertuju pada rilis laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan EIA.

Para analis memproyeksikan stok minyak mentah AS menyusut sekitar 4,5 juta barel untuk pekan yang berakhir 26 Juni.

Jika prediksi tersebut akurat, maka AS akan mencatatkan penurunan persediaan minyak mentah selama 10 pekan berturut-turut—sebuah rekor beruntun yang terakhir kali terjadi pada Januari 2018.

Baca Juga: Iran Klaim Tutup Selat Hormuz, AS Langsung Membantah: Ketegangan Baru Jelang Negosiasi Swiss


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK