Dolar AS Perkasa, Rupiah Tertekan di Level Rp16.270
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Nilai tukar rupiah menghadapi tantangan berat pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (16/7/2025). Mata uang Garuda dibuka dengan pelemahan tipis sebesar 0,02% ke posisi Rp 16.270 per dolar AS. Tekanan ini datang dari…
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Nilai tukar rupiah menghadapi tantangan berat pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (16/7/2025). Mata uang Garuda dibuka dengan pelemahan tipis sebesar 0,02% ke posisi Rp 16.270 per dolar AS.
Tekanan ini datang dari dua arah, yakni faktor eksternal dari Amerika Serikat (AS) dan kebijakan tarif impor yang masih menjadi sentimen pasar. Penguatan dolar AS secara global menjadi pendorong utama pelemahan rupiah.
Menurut analisis pasar, data inflasi AS yang baru dirilis menjadi biang keladi utama. Angka inflasi konsumen (CPI) AS tercatat naik ke level 2,7% secara tahunan (yoy), melampaui ekspektasi pasar yang hanya memprediksi kenaikan di 2,4%.
Kenaikan ini memupuskan harapan pasar akan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat, sehingga membuat dolar AS semakin menarik bagi investor.
Selain faktor inflasi, kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump turut memberi andil. Meskipun tarif untuk produk Indonesia telah diturunkan dari 32% menjadi 19% setelah negosiasi dengan Presiden Prabowo Subianto, angka tersebut dinilai masih cukup tinggi.
Menurut pengamat, tarif 19% tetap menjadi beban bagi daya saing ekspor Indonesia ke AS. Hal ini menciptakan sentimen negatif jangka menengah bagi rupiah, sekalipun penurunan tarif tersebut diapresiasi.
Melihat kombinasi tekanan dari inflasi AS dan kebijakan tarif, prospek rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan volatil. Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, memproyeksikan bahwa rupiah kemungkinan akan diperdagangkan dalam rentang Rp 16.200 hingga Rp 16.300 per dolar AS. Stabilitas baru bisa tercapai jika ada sinyal pelonggaran moneter yang lebih jelas dari The Fed atau perbaikan signifikan pada neraca perdagangan Indonesia di tengah tantangan tarif saat ini.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.