Dunia Diplomasi Berduka, Eddy Pratomo Wafat di Usia 72 Tahun
FAKTANASIONAL.NET – Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya di bidang hukum internasional. Mantan Duta Besar RI untuk Jerman periode 2009–2013, Eddy Pratomo, mengembuskan napas terakhirnya pada usia 72 tahun di Rumah Sakit Mandaya, Tangeran…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya di bidang hukum internasional.
Mantan Duta Besar RI untuk Jerman periode 2009–2013, Eddy Pratomo, mengembuskan napas terakhirnya pada usia 72 tahun di Rumah Sakit Mandaya, Tangerang, Banten, Rabu (29/4/2026) pagi.
Kabar duka mengenai berpulangnya penulis buku “Diplomat Kesasar” yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila ini telah dikonfirmasi secara resmi oleh Kementerian Luar Negeri RI.
“Semoga amal ibadah almarhum diterima oleh Tuhan YME dan keluarga diberikan keikhlasan dan kesabaran,” tulis Kementerian Luar Negeri RI melalui akun media sosial resminya, Kamis (30/4).
Rekam Jejak Emas di Jalur Maritim
Eddy Pratomo dikenal bukan sekadar diplomat biasa, melainkan teknokrat hukum yang menjadi tulang punggung Indonesia dalam negosiasi batas maritim.
Selama kariernya, ia pernah mengemban amanah sebagai Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kemlu serta dipercaya sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk penetapan batas maritim RI-Malaysia.
Mantan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi memberikan penghormatan tinggi bagi almarhum. Menurutnya, Eddy adalah figur intelektual yang haus akan ilmu pengetahuan meski sudah berada di puncak karier.
Retno mendeskripsikan almarhum sebagai "sosok diplomat langka yang tidak pernah lelah untuk terus menuntut ilmu."
Pupusnya Harapan di ITLOS
Kepergian Eddy Pratomo menyisakan duka mendalam bagi upaya diplomasi hukum Indonesia di kancah global. Dedikasi dan kepakarannya di bidang UNCLOS 1982 membuat pemerintah Indonesia resmi mencalonkan dirinya sebagai hakim di Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut (International Tribunal for the Law of the Sea – ITLOS) untuk periode 2026–2035.
Pencalonan yang diajukan pada Mei tahun lalu tersebut sejatinya bertujuan untuk memperkuat suara negara berkembang dalam sengketa maritim dunia di markas ITLOS, Hamburg, Jerman.
Namun, takdir berkata lain. Harapan Indonesia untuk menempatkan Eddy di kursi hakim internasional tersebut kini pupus, tepat sesaat sebelum proses pemilihan tujuh posisi hakim ITLOS yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang di Markas PBB, New York.
Sepanjang hidupnya, Eddy Pratomo tidak hanya mewariskan kebijakan luar negeri yang kuat, tetapi juga kontribusi akademis sebagai dosen hukum laut di Universitas Diponegoro. Kepergiannya meninggalkan celah besar dalam arsitektur diplomasi hukum maritim nasional.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.