Engkau Sendirilah yang Memilih Kembali untuk Terluka
SETELAH luka itu mengering, kau datang kembali. Kau bercerita tentang penantian, seolah aku masih berdiri di tempat yang sama - tempat ketika dahulu aku menunggumu dengan hati yang belum mengenal lelah. Tetapi kau lupa! Orang yang dahulu menunggumu…
Dengarkan Ringkasan
SETELAH luka itu mengering, kau datang kembali.
Kau bercerita tentang penantian, seolah aku masih berdiri di tempat yang sama - tempat ketika dahulu aku menunggumu dengan hati yang belum mengenal lelah.
Tetapi kau lupa! Orang yang dahulu menunggumu telah berubah.
Ia tumbuh dari luka yang kau tinggalkan. Ia belajar dari kehilangan.
Ia melewati malam-malam panjang tanpa lagi berharap seseorang datang untuk menyelamatkannya.
Maka ketika kau mengharapkan hadirnya kembali, yang kau temui bukan lagi seseorang yang menunggumu.
Melainkan seseorang yang telah belajar melanjutkan hidup tanpamu.
Aku masih mengingat cerita-ceritamu tentang keluargamu.
Tentang rumah yang dahulu membuatmu merasa sempit.
Tentang luka yang berkali-kali kau ceritakan.
Tentang keinginanmu untuk melepaskan diri dan menjalani hidup yang menurutmu lebih bebas.
Kau pernah berkata,
"Jika sudah lepas dengan mereka, hidup seperti merdeka."
Aku percaya kepadamu.
Karena itu aku memilih berdiri di sampingmu ketika banyak hal mungkin lebih mudah jika aku memilih pergi.
Aku tidak hanya mendengarkan ketakutanmu.
Aku ikut menghadapi akibat dari ketakutan itu.
Aku mempertaruhkan banyak hal karena saat itu aku percaya bahwa mencintaimu berarti berani mengambil bagian dalam perjuanganmu.
Aku tidak pernah menyesal pernah melakukan itu.
Yang kusesalkan adalah kenyataan bahwa setelah semuanya berlalu, kau justru kembali kepada sesuatu yang dahulu ingin kau tinggalkan.
Dan lebih menyakitkan lagi, perlahan kau mulai membawa kembali cara berpikir yang dahulu kau lawan.
Aku melihat kalimat-kalimat yang dulu kau benci tumbuh kembali dalam ucapanmu.
Sikap yang dahulu membuatmu terluka mulai muncul dalam caramu memperlakukanku.
Seolah waktu tidak pernah mengubah apa pun.
Seolah semua yang pernah kita lalui hanya menjadi cerita yang boleh dilupakan ketika keadaan kembali nyaman.
Saat itu aku tidak lagi tahu kepada siapa aku berbicara.
Kepada dirimu yang dahulu memintaku bertahan?
Ataukah kepada seseorang yang kini telah berdamai dengan hal-hal yang dahulu membuatnya menangis?
Aku pernah berpikir bahwa suatu hari kau akan menyadari semuanya.
Aku pernah percaya bahwa ketika seseorang telah mengetahui bagaimana rasanya terluka, ia akan memilih untuk tidak melukai orang lain dengan cara yang sama.
Ternyata aku keliru.
Mengetahui luka tidak selalu membuat seseorang belajar.
Kadang manusia hanya mengulanginya dalam bentuk yang berbeda.
Aku pernah menunggumu.
Dan mungkin kesalahanku adalah mengira bahwa cintaku dapat membuatmu berubah.
Padahal seseorang tidak berubah karena dicintai dengan cukup dalam.
Ia berubah ketika ia sendiri memiliki keberanian untuk mengakui bahwa dirinya harus berubah.
Tidak ada seorang pun yang dapat memaksa manusia meninggalkan sesuatu yang masih ingin ia pertahankan.
Karena itu, kali ini aku tidak akan menarikmu dari pilihanmu.
Bukan karena aku tidak peduli.
Tetapi karena aku akhirnya mengerti bahwa hidupmu adalah tanggung jawabmu.
Aku dapat mencintaimu.
Aku dapat mengingatkanmu.
Aku dapat berjalan di sampingmu.
Tetapi aku tidak dapat menjalani hidupmu untukmu.
Dan kau juga tidak dapat menjalani hidupku.
Ketika kau berkata bahwa kau masih menungguku, mungkin kau sedang menunggu seseorang yang sudah tidak ada.
Aku bukan lagi orang yang akan datang setiap kali kau merasa kehilangan arah.
Aku bukan lagi seseorang yang rela mengorbankan dirinya agar kau tidak terluka.
Aku telah belajar bahwa menyayangi seseorang tidak berarti harus terus-menerus menyelamatkannya.
Kadang kita harus membiarkan seseorang berdiri sendiri, agar ia akhirnya mengerti bahwa tidak semua persoalan dalam hidup dapat diserahkan kepada orang yang mencintainya.
Dan aku juga harus belajar hal yang sama.
Aku harus berhenti merasa bertanggung jawab atas keputusan yang bukan milikku.
Namun jika di dalam hatimu masih ada keinginan untuk kembali, jangan datang hanya dengan rindu.
Rindu tidak cukup.
Jangan datang dengan penyesalan.
Penyesalan juga tidak cukup.
Dan jangan datang dengan janji bahwa semuanya akan berubah.
Sebab kata-kata mudah lahir ketika seseorang takut kehilangan.
Yang sulit adalah membuktikannya ketika kehidupan kembali menjadi berat.
Jika memang masih ada jalan untuk kita, maka kita harus memperbaiki apa yang pernah rusak.
Bukan dengan menghapus masa lalu, tetapi dengan belajar darinya.
Kita harus mengakui kesalahan tanpa mencari siapa yang paling bersalah.
Kita harus membangun kembali kepercayaan tanpa menuntutnya tumbuh dalam semalam.
Dan jika kita ingin hidup bersama seperti dahulu lagi, kita tidak boleh kembali sebagai dua manusia yang sama.
Kita harus kembali dengan kedewasaan yang dahulu tidak kita miliki.
Aku berharap kau memahami sesuatu yang mungkin selama ini terlalu berat untuk diterima:
kitalah yang harus memperjuangkan hidup kita.
Bukan keluargamu.
Bukan keluargaku.
Bukan teman-teman kita.
Bukan orang lain.
Mereka dapat memberi nasihat. Mereka dapat membantu ketika kita jatuh. Mereka dapat menunjukkan jalan.
Tetapi pada akhirnya, hanya kita yang akan hidup dengan keputusan yang kita buat.
Hanya kita yang akan menghadapi konsekuensinya.
Karena itu, jika suatu hari kita memilih untuk bersama kembali, jangan biarkan kehidupan kita ditentukan oleh ketakutan, tekanan, atau suara orang lain.
Kita harus cukup dewasa untuk menentukan apa yang benar bagi kehidupan kita sendiri.
Mencintai keluarga bukan berarti menyerahkan seluruh hidup kepada mereka.
Menghormati orang lain bukan berarti kehilangan hak untuk memilih masa depan sendiri.
Dan mempertahankan hubungan bukan berarti salah satu dari kita harus terus-menerus mengalah sampai kehilangan dirinya.
Aku tidak membencimu.
Kebencian terlalu berat untuk dibawa oleh seseorang yang pernah mencintai dengan sungguh-sungguh.
Aku hanya tidak ingin kehilangan diriku lagi demi mempertahankanmu.
Jika suatu hari kau kembali, datanglah bukan sebagai seseorang yang ingin diselamatkan.
Datanglah sebagai seseorang yang telah belajar berdiri.
Jangan datang karena kesepian.
Datanglah karena kau benar-benar ingin membangun kehidupan yang baru.
Jangan meminta kita mengulang masa lalu.
Jika kita diberi kesempatan, mari kita menciptakan sesuatu yang lebih baik daripada masa lalu itu.
Aku tidak membutuhkan kesempurnaan.
Aku hanya membutuhkan kesungguhan.
Kesediaan untuk belajar.
Keberanian untuk mengakui kesalahan.
Dan kemauan untuk tetap memilih satu sama lain ketika keadaan tidak lagi mudah.
Sebab aku tidak ingin lagi menjadi seseorang yang hanya kau cari ketika semuanya runtuh.
Aku ingin, jika kita bersama, menjadi seseorang yang kau pilih ketika kehidupan sedang kita bangun.
Aku ingin kita menjadi dua manusia yang tidak saling bergantung untuk bertahan hidup, tetapi dengan sadar memilih untuk berjalan bersama.
Dua manusia yang tahu bahwa cinta bukan sekadar rasa.
Cinta adalah keputusan.
Cinta adalah tanggung jawab.
Cinta adalah keberanian untuk berkata:
“Aku memilihmu, dan aku akan menjaga pilihan ini.”
Mungkin pada akhirnya kau memang kehilangan aku.
Tetapi kau tidak kehilangan seseorang hanya dalam satu hari.
Aku pergi sedikit demi sedikit.
Dalam setiap kata yang kau ingkari.
Dalam setiap pilihan yang membuatku merasa sendirian.
Dalam setiap kesempatan ketika kau memilih sesuatu yang terus melukai kita.
Aku pergi jauh sebelum tubuhku benar-benar meninggalkanmu.
Dan mungkin itulah kehilangan yang paling sunyi:
Ketika seseorang masih berada di depan mata, tetapi hatinya telah selesai berharap.
Kini aku tidak lagi menunggumu.
Tetapi aku juga tidak menutup kemungkinan bahwa dua manusia yang pernah saling mencintai dapat menemukan jalan baru, jika keduanya benar-benar telah belajar.
Jadi, jika kau benar-benar ingin kembali, jangan kembali hanya karena kau merindukanku.
Kembalilah setelah kau memahami siapa dirimu, apa yang kau inginkan, dan kehidupan seperti apa yang ingin kau perjuangkan.
Kembalilah jika kau telah cukup dewasa untuk memilih hidupmu sendiri.
Kembalilah jika kau siap memperbaiki, bukan sekadar meminta maaf.
Kembalilah jika kau siap mencintai tanpa kehilangan dirimu dan tanpa memintaku kehilangan diriku.
Karena jika kita masih memiliki kesempatan, aku tidak ingin kita menjadi dua manusia yang saling menyelamatkan.
Aku ingin kita menjadi dua manusia yang telah mampu berdiri sendiri, lalu memilih untuk berdiri berdampingan.
Dan jika kau belum mampu melakukan itu, jangan datang.
Biarkan aku tetap menjadi bagian dari masa lalu yang pernah mengajarkanmu arti kehilangan.
Sebab mungkin, kau memang kehilangan aku.
Tetapi semoga suatu hari kau memahami bahwa yang sebenarnya hilang bukan hanya seseorang yang mencintaimu.
Kau kehilangan seseorang yang pernah percaya kepadamu ketika dirimu sendiri belum mampu mempercayai dirimu.
Dan aku tidak tahu apakah kehidupan akan memberi kita kesempatan kedua.
Tetapi jika kesempatan itu datang, aku tidak ingin kembali kepada kita yang dahulu.
Aku hanya ingin bertemu denganmu sebagai dua manusia yang telah belajar menjadi dewasa—lalu bertanya sekali lagi, Apakah kali ini kita benar-benar siap memperjuangkan hidup kita sendiri, dan hidup yang mungkin kita bangun bersama?[dit]
By: Gubahan A
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.