Entah Dia Terlalu Dingin, Atau Aku yang Terlalu Ingin
HARI Minggu selalu punya cara yang aneh untuk membuat hati berbicara lebih jujur. Di tengah kesunyian, aku mulai bertanya-tanya. Entah dia memang terlalu dingin, atau sebenarnya aku yang terlalu ingin. Terlalu ingin didengar. Terlalu ingin dipahami.…
HARI Minggu selalu punya cara yang aneh untuk membuat hati berbicara lebih jujur.
Di tengah kesunyian, aku mulai bertanya-tanya. Entah dia memang terlalu dingin, atau sebenarnya aku yang terlalu ingin.
Terlalu ingin didengar. Terlalu ingin dipahami. Terlalu ingin diperjuangkan.
Kadang kita menyebutnya takdir, padahal mungkin hanya perbedaan kadar rasa.
Satu pihak menganggap semuanya biasa saja, sementara pihak lain diam-diam menaruh harapan yang terlalu besar.
Lucunya, yang paling melelahkan bukanlah menunggu balasan pesan.
Yang paling melelahkan adalah menunggu kepastian dari seseorang yang tidak pernah benar-benar berniat memberi kepastian.
Mungkin bukan dia yang salah. Bisa jadi memang aku yang terlalu banyak berharap pada isyarat-isyarat kecil yang ternyata tak pernah memiliki makna sebesar yang kubayangkan.
Hari ini aku belajar, tidak semua yang kita perjuangkan akan memperjuangkan kita kembali.
Tidak semua yang kita rindukan juga sedang merindukan kita.
Dan itu tidak apa-apa.
Sebab hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang belajar melepaskan.
Tentang menerima bahwa ada orang yang hadir hanya untuk mengajarkan bagaimana rasanya berharap, bukan bagaimana rasanya bersama.
Minggu ini biarlah hati beristirahat. Bukan karena sudah berhenti mencinta, tetapi karena mulai belajar mencintai diri sendiri lebih dulu.
Kalau memang dia ditakdirkan untuk kembali, ia akan datang tanpa perlu dipaksa.
Namun jika tidak, setidaknya aku pernah mencintai dengan sungguh-sungguh, tanpa berpura-pura.
Entah dia terlalu dingin, atau aku yang terlalu ingin.
Yang pasti, hari ini aku memilih berdamai dengan kenyataan.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.