Ente Rapat atau Khotbah Jumat?
ADA satu ruangan rapat. Semua datang dengan niat yang sama: berdiskusi, menyampaikan pendapat, mencari jalan keluar, lalu pulang dengan kepala yang setidaknya sedikit lebih ringan. Tapi ternyata ada satu orang yang datang membawa misi berbeda. Dia b…
Dengarkan Ringkasan
ADA satu ruangan rapat. Semua datang dengan niat yang sama: berdiskusi, menyampaikan pendapat, mencari jalan keluar, lalu pulang dengan kepala yang setidaknya sedikit lebih ringan.
Tapi ternyata ada satu orang yang datang membawa misi berbeda.
Dia bicara terus.
Ini salah, itu salah. Ini kurang, itu tidak beres. Belum selesai satu keluhan, sudah masuk keluhan berikutnya. Giliran orang lain mau bicara, langsung dipotong.
Baru mungkin tak sampai bicara semenit orang sudah disela.
Baru mau menjelaskan: dibantah.
Baru menarik napas: sudah ada sanggahan.
Lama-lama peserta rapat bukan merasa sedang mengikuti forum diskusi, tetapi seperti sedang membeli tiket untuk menonton monolog edisi terbatas: satu orang bicara, yang lain cukup jadi penonton.
Yang paling lucu, semua orang diwajibkan mendengarkan, tetapi tidak semua orang diberi kesempatan untuk didengarkan.
Maaf, Guru… ini sedang rapat atau sedang dengarin khotbah Jumat?
Rapat itu bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling keras suaranya. Bukan pula arena untuk membuktikan siapa yang paling pintar memotong pembicaraan.
Namanya juga rapat. Mestinya ada rapatnya, bukan cuma suara satu orangnya.
Berbicara memang penting. Tetapi kemampuan mendengarkan justru sering menjadi tanda bahwa seseorang benar-benar memahami arti komunikasi.
Sebab kalau setiap pendapat berbeda selalu dipotong, jangan heran kalau suatu hari semua orang memilih diam.
Bukan karena setuju.
Tapi karena capek.
Capek menjelaskan kepada orang yang datang ke rapat bukan untuk berdiskusi, melainkan untuk memastikan pendapatnya sendiri terdengar paling akhir.
Yang lebih menggelitik, orang yang paling banyak bicara kadang merasa dirinya paling komunikatif.
Padahal komunikasi bukan soal berapa menit kita memegang mikrofon. Komunikasi adalah soal apakah setelah kita bicara, orang lain juga masih punya ruang untuk berbicara.
Kalau setiap rapat akhirnya cuma menjadi sesi keluhan, bantahan, potong pembicaraan, lalu ditutup dengan keputusan yang sebenarnya sudah ada di kepala satu orang sejak awal, buat apa mengundang orang lain?
Cukup kirim voice note. Lebih hemat waktu, lebih hemat tenaga, dan peserta rapat tidak perlu pura-pura sedang berdiskusi.
Jadi, sebelum rapat berikutnya berubah menjadi ceramah satu arah, mungkin kita perlu mengingat aturan paling sederhana:
Mulut punya giliran. Telinga juga punya tugas.
Karena rapat yang sehat bukan rapat yang paling banyak suaranya.
Rapat yang sehat adalah rapat yang paling banyak pikirannya.
Dan satu lagi, Guru…
Kalau semua orang harus diam ketika Anda bicara, setidaknya pastikan Anda memang sedang memberikan solusi—bukan sedang memperpanjang penderitaan peserta rapat.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.