Fahri Hamzah Puji-Puji Prabowo Setinggi Langit, tapi Refly Mengejar Soal Komitmen Pemberantasan Korupsi
SEPERTI biasa, Fahri Hamzah ahli betul menjabarkan sosok Prabowo. Intinya, Prabowo tak ada duanya. Berkali-kali tumbang, tapi tetap berdiri dan tidak berubah seperti pada awal maju dulu. Di dunia ini, pemimpin seperti Prabowo adalah satu-satunya, ka…
Dengarkan Ringkasan
SEPERTI biasa, Fahri Hamzah ahli betul menjabarkan sosok Prabowo. Intinya, Prabowo tak ada duanya. Berkali-kali tumbang, tapi tetap berdiri dan tidak berubah seperti pada awal maju dulu. Di dunia ini, pemimpin seperti Prabowo adalah satu-satunya, kata Fahri.
Ini diulang kembali dalam Podcast YouTube Refly Harun, Keren Cadas, baru-baru ini. Tapi mungkin tak hanya Refly Harun, tapi juga netizen, terutama haters Fahri Hamzah dan Prabowo, capek juga mendengar apa yang dijabarkan oleh Fahri, yang itu ke itu saja. Penjilat, kata haters.
Hanya untuk mengerti satu persoalan bahwa seorang Fahri Hamzah tak cocok menjadi Wamen Perumahan dan Kawasan Permukiman saja, orang seperti tak mengerti apa yang dilakukan Prabowo, sebenarnya. Apalagi dipasangkan dengan Maruarar Sirait, yang terlihat tidak cocok sama sekali. Sama-sama striker.
Kehadiran Fahri Hamzah di Podcast Refly Harun ini menarik. Sebab, Refly Harun kuasa hukumnya Roy Suryo, yang sedang berseteru dengan kubu Jokowi terkait dugaan ijazah palsu. Artinya, Fahri sama sekali tak membatasi diri hadir di pihak mana pun.
Di akhir, Refly Harun tak lagi bertanya soal Prabowo, melainkan soal Fahri Hamzah itu sendiri ke depan. Mengingat, aturan Pilpres sudah berubah, dan usia Fahri yang terbilang cocok menjadi Presiden. Apakah Fahri tak tertarik maju sebagai Capres nantinya?
Apalagi, dulu, Fahri Hamzah pernah mengatakan bahwa kalau dia menjadi Presiden, maka setahun dijaminnya korupsi bakal hilang di negeri ini. Refly Harun agaknya lebih tertarik menggali itu daripada menanyakan lebih jauh tentang Presiden Prabowo.
Fahri Hamzah sama sekali tak menjawab arah pertanyaan Refly Harun itu. Fahri hanya menjawab secara filosofis bahwa amalan yang terbaik itu ada di aktivitas politik, kendati kalau tak hati-hati, niat yang jelek, aktivitas politik berubah menjadi sebaliknya.
Politik bagi Fahri Hamzah memiliki dua sisi, yakni sisi kekuasaan dan pengetahuan. Ia ingin berpolitik karena pengetahuan, bukan kekuasaan. Kekuasaan yang tak dituntun pengetahuan, jadilah kekuasaan itu menjadi amalan terburuk, bukan yang terbaik sesuai keinginan.
Sebagai jubir Prabowo selama tiga kali Pilpres, tak terbersit keinginan Fahri Hamzah untuk maju, kalau Prabowo maju lagi pada periode kedua nantinya. Fahri seperti mengelak dan lebih memilih mengantarkan Prabowo sampai ke ujung, sampai selesai. (ERIZAL)
Sumber: FB @erizal.sastra
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.