Fakta Nasional

Feri Amsari vs Hasan Nasbi, dan Febri Diansyah: Uda vs Uda dan Konco Palangkin

FAKTANASIONAL.NET - Saya menonton Cover Both Sides MetroTV kemarin, yang menghadirkan Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, berhadapan melawan Feri Amsari, Mensesneg Kabinet Bayangan. Satu mewakili Pemerintah resmi, satu lagi mew…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: M. Sahlan Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 14 August 2026 📖 2 menit
Feri Amsari vs Hasan Nasbi, dan Febri Diansyah: Uda vs Uda dan Konco Palangkin
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Saya menonton Cover Both Sides MetroTV kemarin, yang menghadirkan Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, berhadapan melawan Feri Amsari, Mensesneg Kabinet Bayangan. Satu mewakili Pemerintah resmi, satu lagi mewakili katakanlah Pemerintah tidak resmi. Yakni, Bayangan.

Yang paling mengecewakan atau mungkin saja membanggakan saya, keduanya sama-sama memanggil Uda. Hasan Nasbi memanggil Feri Amsari dengan panggilan Uda Feri. Sebaliknya, Feri Amsari memanggil Hasan Nasbi dengan panggilan Uda Hasan. Jadi ketahuan kan? Keduanya orang Minang. Untung, keduanya tak berdebat memakai bahasa Minang. Pakai istilah Minang pun, tidak.

Saya pernah mendengar, dulu pendiri Republik ini yang berasal dari Minangkabau, kalau sudah berdiskusi atau berdebat di forum resmi, maka mereka tak sekalipun berbahasa Minang. Termasuk, memanggil sesama orang Minang dengan panggilan Uda. Uda Hatta, Uda Agus Salim, Uda Tan Malaka, Uda Syahrir, itu tidak ada. Panggilannya hanya satu, Bung.

Tapi, kalau sudah berbicara berdua saja, baru bahasa Ibunya keluar. Lapuak, lapak-i. Tak bisa lagi dihambat.

Seharusnya, Hasan Nasbi dan Feri Amsari, tidak saling memanggil Uda dalam dialog di MetroTV itu. Apalagi, usia keduanya hanya selisih setahun saja. Hasan Nasbi 46 tahun, Feri Amsari 45 tahun. Dan keduanya sama-sama lahir pada bulan Oktober, sama dengan Presiden Prabowo. Seharusnya panggil nama saja. Atau "Waang" saja, kalau diksi Minangkabaunya.

Debat antara Hasan Nasbi dan Feri Amsari di MetroTV itu terlalu banyak basa-basi. Padahal, keduanya mewakili dua kubu yang berbeda. Istilah saya di atas, satu mewakili Pemerintah resmi, satu lagi mewakili Pemerintah tidak resmi.

Debat keduanya seperti tidak mewakili panasnya perdebatan di luar atau di media sosial. Apalagi Feri Amsari yang biasanya garang atau sering menyerang lawan bicaranya, jadi ikut-ikutan gaya bicaranya Hasan Nasbi yang tenang dan terkontrol. Itulah yang mengecewakan saya.

Sedangkan yang membanggakan saya adalah, keduanya, sebetulnya menghapus hipotesis yang selama ini sering muncul bahwa tidak ada lagi tokoh-tokoh hebat yang berasal dari Sumatera Barat atau orang Minangkabau seperti dulunya. Hasan Nasbi dan Feri Amsari setidaknya membantah itu. Keduanya masih muda pula. Belum lagi kalau dideretkan tokoh-tokoh Minangkabau lainnya. Pasti masih banyak di bidangnya masing-masing.

Saya ingin sebut satu tokoh lagi saja. Yakni, Febri Diansyah (43 tahun) yang saat ini menjadi kuasa hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah. Oh, Febri Diansyah kan pengacara koruptor? Ingat, pengacara koruptor tidak bisa otomatis dicap adalah koruptor.

Tokoh Minangkabau sejak dulu memang beragam karakter, bahkan beragam ideologi juga. Mulai dari yang sosialis hingga islamis, termasuk juga nasionalis, semuanya ada. Tokoh ada pun banyak.. Jadi, Hasan Nasbi, Feri Amsari, dan Febri Diansyah, yang berbeda tempat berdiri saat ini, itu bukanlah hal yang aneh. Biasa saja.

Yang aneh, kenapa debat di antara keduanya kurang seru? Kalau berdebat dengan Hasan Nasbi saja, karakter Feri Amsari tidak keluar, bagaimana pula Feri Amsari akan berdebat dengan Febri Diansyah? Jangan-jangan, kalau berdebat dengan Febri Diansyah, Feri Amsari akan kesulitan atau malah banyak sependapat dengan Febri, karena keduanya adalah konco palangkin (teman dekat).

Penulis: Erizal

Sumber: FB @Erizal.Sastra


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK