Foto Prabowo Terbang di Langit HUT RI ke-81, Netizen: Cukup Satu Periode
PERAYAAN HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta pada Senin, 17 Agustus 2026, semestinya menjadi momentum untuk merayakan perjuangan bangsa, mengenang para pahlawan, sekaligus meneguhkan kembali makna kemerdekaan. Namun, atraksi Victory…
Dengarkan Ringkasan
PERAYAAN HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta pada Senin, 17 Agustus 2026, semestinya menjadi momentum untuk merayakan perjuangan bangsa, mengenang para pahlawan, sekaligus meneguhkan kembali makna kemerdekaan.
Namun, atraksi Victory Jump yang melibatkan 17 prajurit Kopassus justru memunculkan perdebatan di media sosial Facebook dan lainnya.
Dalam aksi terjun payung tersebut, para prajurit tidak hanya membawa dan mengibarkan bendera Merah Putih, tetapi juga membawa bentangan berukuran besar yang menampilkan foto Presiden Prabowo Subianto.
Momen itu kemudian memancing pertanyaan publik. Mengapa foto presiden ditampilkan dalam rangkaian perayaan HUT Kemerdekaan RI?
Salah satu komentar yang viral berbunyi, “Ini bukan ultah presiden.”
Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi kritik mengenai batas antara simbol negara, pemerintahan, dan figur kekuasaan.
Ketika Wajah Presiden Masuk ke Ruang Simbolik Kemerdekaan
Persoalannya sebenarnya bukan sekadar soal boleh atau tidaknya foto seorang presiden ditampilkan dalam sebuah acara kenegaraan. Yang lebih menarik untuk diperdebatkan adalah pesan simbolik apa yang sedang dibangun.
HUT Kemerdekaan bukanlah seremoni milik satu pemerintahan. Ia merupakan perayaan nasional yang melampaui pergantian presiden, kabinet, partai politik, bahkan generasi.
Ketika wajah presiden tampil dalam sebuah atraksi yang menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan, tentu publik berhak bertanya apakah figur pemimpin sedang ditempatkan terlalu dominan dalam ruang yang seharusnya menjadi milik sejarah bangsa.
Prabowo adalah presiden yang sedang memegang mandat rakyat. Tetapi mandat tersebut memiliki batas waktu. Republik Indonesia tidak.
Di sinilah pemerintah semestinya memahami bahwa kritik terhadap penggunaan simbol bukan selalu berarti serangan terhadap pribadi presiden.
Justru dalam negara demokrasi, masyarakat memiliki hak untuk bertanya: mengapa simbol tertentu dipilih, apa maksudnya, dan apakah simbol tersebut sesuai dengan semangat acara?
Sebab, jika setiap perayaan kenegaraan semakin banyak menampilkan wajah penguasa, kita harus berhati-hati agar nasionalisme tidak perlahan berubah menjadi personalisasi kekuasaan.
Jangan Sampai Kemerdekaan Menjadi Panggung Figur
Sejarah kemerdekaan Indonesia dibangun oleh begitu banyak nama. Soekarno dan Mohammad Hatta dikenal sebagai Proklamator. Jenderal Sudirman dikenang karena perjuangannya mempertahankan republik. Di luar nama-nama besar tersebut, ada jutaan rakyat biasa yang ikut berkorban tanpa pernah mendapatkan panggung.
Mereka berjuang bukan untuk memastikan wajahnya terpampang di langit.
Mereka berjuang agar sebuah bangsa bisa berdiri sendiri.
Karena itu, jika momentum 17 Agustus justru lebih kuat menampilkan figur politik yang sedang berkuasa, wajar apabila sebagian masyarakat merasa ada sesuatu yang janggal.
Bukan karena seorang presiden tidak layak dihormati. Presiden tentu harus dihormati sebagai kepala negara dan pemerintahan. Tetapi penghormatan terhadap jabatan tidak harus selalu diwujudkan melalui pengagungan figur.
Ada perbedaan antara menghormati pemimpin dan mempersonalisasikan negara kepada pemimpin.
Yang pertama merupakan bagian dari etika kenegaraan. Yang kedua justru berpotensi membuat masyarakat lupa bahwa kekuasaan dalam demokrasi bersifat sementara.
Presiden datang dan pergi. Pemerintahan berganti. Partai politik naik dan turun. Tetapi Indonesia tetap ada.
Maka, 17 Agustus seharusnya menjadi momentum untuk mengangkat kembali wajah Indonesia secara keseluruhan: para pahlawan, rakyat biasa, anak-anak sekolah, petani, nelayan, pekerja, tenaga kesehatan, guru, prajurit, dan seluruh warga yang hari ini menikmati kemerdekaan.
Bukan hanya wajah orang yang sedang duduk di kursi kekuasaan.
Kritik warganet juga memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki ingatan sejarah. Mereka masih mengingat Soekarno-Hatta, Jenderal Sudirman, dan para tokoh yang memiliki hubungan langsung dengan perjuangan kemerdekaan.
Jika sebuah foto presiden akhirnya menjadi lebih ramai diperbincangkan daripada makna kemerdekaan itu sendiri, mungkin yang perlu dievaluasi bukan suara masyarakatnya, melainkan cara simbol tersebut dipilih dan ditampilkan.
Pada akhirnya, seorang pemimpin tidak perlu hadir di setiap simbol untuk membuktikan bahwa dirinya penting.
Justru pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu mengatakan bahwa negara ini jauh lebih besar daripada dirinya.
Prabowo hari ini adalah Presiden Republik Indonesia. Kelak, ia akan menjadi bagian dari sejarah kepemimpinan republik. Setelah masa jabatannya selesai, Merah Putih tetap berkibar dan Indonesia tetap berjalan.
Itulah mengapa kritik “Ini bukan ultah presiden” sebenarnya layak direnungkan.
Sebab 17 Agustus bukan hari ulang tahun seorang penguasa.
17 Agustus adalah hari ketika sebuah bangsa merayakan kemerdekaannya.
Rangkuman Suara Warganet
Perdebatan di media sosial di berbagai sumber akun Facebook kemudian diwarnai berbagai komentar.
Ace Nurzaman Ace mempertanyakan, “Kenapa bukan foto Jend Sudirman yang jelas kepahlawanannya”.
Dicky Andri menulis, “Cukup satu periode”, sedangkan Cece Ahmad Hidayat menyindir, “Ini ulang th presiden apa kemerdekaan RI?”.
Fazli Yuda mengingatkan, “ingat ada hidup dan kematian maka buatlah sesukamu”, sementara Pahmi Di menulis singkat, “yg penting bapak senang”.
Beragam komentar tersebut menunjukkan satu benang merah, yaitu sebagian warganet mempertanyakan kepantasan penggunaan foto Presiden Prabowo dalam atraksi HUT RI dan menginginkan agar simbol perayaan kemerdekaan lebih menonjolkan bangsa, sejarah, serta para pahlawan daripada figur penguasa.
Karena pada akhirnya, yang seharusnya terbang paling tinggi pada 17 Agustus bukanlah wajah seorang presiden.
Melainkan Merah Putih dan harga diri sebuah bangsa.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.