GPI Kecam Aksi Botok Cs yang Pergi Tinggalkan Kelompok Unjuk Rasa di Tengah Aksi
JAKARTA, FAKTANASONAL.NET — Muslimah Gerakan Pemuda Islam (GPI) Jakarta menyampaikan keprihatinan yang mendalam serta kecaman keras atas insiden yang terjadi di depan Gedung DPR RI. Ketua Muslimah Gerakan Pemuda Indonesia, Sherly Oklianti mengungkap…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASONAL.NET — Muslimah Gerakan Pemuda Islam (GPI) Jakarta menyampaikan keprihatinan yang mendalam serta kecaman keras atas insiden yang terjadi di depan Gedung DPR RI.
Ketua Muslimah Gerakan Pemuda Indonesia, Sherly Oklianti mengungkapkan kekecewaan karena Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang dipimpin Supriyono alias Botok telah meninggalkan kelompok demontrasi di tengah perjuangan aksi lapangan yang begitu berat.
Aksi unjuk rasa yang awalnya digalang oleh Aliansi Masyarakat Pati bersatu (AMPB) di bawah pimpinan sosok yang akrab disapa Botok, berakhir dengan insiden yang mencederai rasa keadilan publik dan membahayakan keselamatan jiwa masyarakat sipil.
Alih-alih membersamai perjuangan rakyat hingga tuntas, kepemimpinan AMPB justru mempertontonkan perilaku pengkhianatan moral yang nyata. Setelah kepentingan pribadi dan ruang audiensi di dalam gedung legislatif berhasil tercapai, oknum pimpinan AMPB tersebut justru meninggalkan massa aksi begitu saja di jalanan.
Pernyataan Sikap Muslimah GPI Jakarta:
- Pemanfaatan Suara Publik: Kami menyayangkan bagaimana suara, tenaga, dan keresahan murni masyarakat disalahgunakan secara tidak langsung sebagai batu loncatan demi kepentingan personal pimpinan AMPB.
- Pengabaian Keselamatan Massa: Tindakan meninggalkan ribuan pengunjuk rasa di tengah ketegangan memicu situasi nyaris ricuh. Masyarakat hampir berbenturan secara fisik dengan aparat kepolisian, sementara sang pimpinan aman di dalam gedung atau telah meninggalkan lokasi tanpa rasa tanggung jawab.
- Manipulasi Berkedok Perjuangan Rakyat: Peristiwa ini menjadi bukti nyata adanya praktik manipulasi kotor di mana isu dan keresahan masyarakat dipoles sedemikian rupa demi kepentingan personal. Topeng "atas nama rakyat" sengaja dipakai sebagai kendaraan politik, namun seketika tanggal dan ditinggalkan begitu tujuan pribadi sang pimpinan tercapai.
"Sangat ironis ketika sebuah aliansi yang mengatasnamakan kepedulian bangsa justru meninggalkan rakyatnya sendiri berhadapan dengan barikade aparat, sesaat setelah pintu negosiasi pribadi mereka terbuka.Ini adalah bentuk eksploitasi massa yang mencederai marwah gerakan moral," kata Sherly, Ketua Umum Muslimah GPI Jakartam
"tragis dan memilukan. Ketika pintu negosiasi pribadi terbuka dan ambisi tercapai di balik meja nyaman, mereka tega memalingkan muka dan meninggalkan rakyatnya sendiri di jalanan beralaskan ketegangan menghadapi barikade aparat. Namun, kita tidak boleh terpecah. Mari rapatkan barisan, jaga persaudaraan sesama anak bangsa, dan jangan biarkan gerakan murni rakyat dikendalikan oleh para petualang politik bermuka dua."
Sherly, Ketua Umum Muslimah GPI Jakarta.
Muslimah GPI Jakarta mengingatkan kepada seluruh elemen masyarakat agar lebih berhati-hati dan waspada terhadap figur-figur atau kelompok yang kerap memobilisasi massa hanya untuk kepentingan transaksi politik terselubung. Perjuangan demi rakyat sejati tidak akan pernah meninggalkan rakyatnya dalam bahaya demi kepentingan sesaat serta mengorbankan persatuan dan kesatuan antar anak bangsa.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.