Fakta Nasional

Gula Rafinasi Impor Banjiri Pasar Konsumsi, Mentan Amran: Ini Anomali yang Merugikan Petani

FAKTANASIONAL.NET – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan mengkhawatirkan terkait tata kelola gula nasional. Berdasarkan laporan dari para petani di berbagai daerah, gula rafinasi impor yang seharusnya dikhususkan untuk ke…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 10 April 2026 📖 2 menit
Gula Rafinasi Impor Banjiri Pasar Konsumsi, Mentan Amran: Ini Anomali yang Merugikan Petani
Mentan menegaskan akan mencabut izin distributor pupuk yang terbukti melanggar aturan harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah./Dok. Kementan

FAKTANASIONAL.NET – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan mengkhawatirkan terkait tata kelola gula nasional.

Berdasarkan laporan dari para petani di berbagai daerah, gula rafinasi impor yang seharusnya dikhususkan untuk kebutuhan industri, kini justru merembes dan membanjiri pasar konsumsi domestik.

Temuan ini dinilai sebagai anomali besar.

Pasalnya, di saat produksi gula nasional dilaporkan belum mencukupi kebutuhan konsumsi, produk gula lokal justru dilaporkan sulit terserap oleh pasar.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (8/4/2026), Mentan Amran menegaskan bahwa kondisi ini bukan lagi sekadar kebocoran kecil, melainkan sudah dalam tahap membanjiri pasar.

"Produksi kita kurang, tapi molase gula tidak bisa laku. Di Jawa Timur itu terjadi di Oktober, tidak bisa laku. Ada anomali di situ," kata Amran di hadapan anggota Komisi VI DPR RI.

Harga Molase Anjlok dan Penyamaran Produk

Amran membeberkan data penurunan harga molase yang signifikan sejak awal 2025.

Dari harga Rp1.980 per liter pada Februari 2025, angka tersebut merosot tajam menjadi sekitar Rp1.024 per liter pada Maret 2026.

Baca Juga: Kejar Kemandirian Energi, Kementan Targetkan Setop Impor Solar Melalui Biofuel B50

Laporan mengenai rembesan gula rafinasi ini pun datang merata dari Jawa Tengah, Kalimantan Timur, hingga Sulawesi Selatan.

Menurut Amran, salah satu penyebab gula rafinasi mudah mengelabui pasar adalah standar tingkat keputihan atau International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA) yang sangat mirip dengan gula putih produksi lokal, sehingga masyarakat sulit membedakannya.

Jika terus dibiarkan, hal ini dianggap sangat berbahaya bagi stabilitas pasar domestik dan kesejahteraan petani tebu.

Revitalisasi 300 Ribu Hektare Lahan Tebu

Selain persoalan distribusi, pemerintah juga menyoroti masalah produktivitas di hulu.

Mentan mengungkapkan bahwa sekitar 70 hingga 80 persen tanaman tebu ratoon (tanaman sisa tebang) di Indonesia sudah tidak layak produksi.

Merespons kondisi tersebut, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan langkah besar berupa pembongkaran tanaman ratoon seluas 300 ribu hektare dari total 500 ribu hektare lahan lama yang ada.

Program revitalisasi ini akan dilakukan secara bertahap selama tiga tahun, dengan target 100 ribu hektare per tahun.

Pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp1,7 triliun untuk tahun 2025 guna mendukung langkah ini.

Target Swasembada 2027

Saat ini, selisih antara produksi nasional (2,6 - 2,7 juta ton) dengan kebutuhan konsumsi (2,8 - 2,9 juta ton) hanya berkisar 200 ribu ton.

Dengan program revitalisasi lahan dan perbaikan tata kelola distribusi, pemerintah optimis Indonesia dapat mencapai swasembada gula konsumsi paling lambat pada tahun 2027.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK