Guntur Romli: Jarak Antara Protes Rakyat dengan Api Kian Pendek
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Aktivis dan pegiat media sosial, Guntur Romli mengulas fenomena maraknya aksi protes yang berujung pada kerusuhan di berbagai daerah. Menurut Guntur Romli, fenomena tersebut menunjukkan bahwa jarak antara protes rakyat k…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Aktivis dan pegiat media sosial, Guntur Romli mengulas fenomena maraknya aksi protes yang berujung pada kerusuhan di berbagai daerah.
Menurut Guntur Romli, fenomena tersebut menunjukkan bahwa jarak antara protes rakyat ke api kian pendek. Adapun kemaranan rakyat merupakan bentuk kekecewaan terpendam yang tak pernah didengar oleh pemerintah.
"Kemarahan rakyat tidak datang tiba-tiba. Tapi akibat kesabaran yang dikikis sedikit demi sedikit oleh saluran aspirasi yang macet," tandas Guntur Romli dikutip dari akun FB @Mohammad Guntur Romli.
Penegasan Guntur Romli ini mengacu pada peristiwa kerusuhan di sejumlah daerah. Di Papua Tengah, ada 11 kantor pemerintah dibakar. Di Kutai Kartanegara ada kantor Diskominfo yang dibakar. Selanjutnya di Bangka Belitung kantor PT Timah dibakar. Termasuk di Lampung Tengah SPPU dibakar.
"Rakyat belajar satu hal pahit, bahwa suara mereka baru didengar setelah menjadi kobaran api," tandas Guntur Romli.
Menurutnya, aparat boleh saja bertindak tegas. Tapi ketegasan tanpa introspeksi hanya memadamkan api dipermukaan semenyara bara didalamnya terus membesar.
Muncul pertanyaan besar, kenapa Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat baru bergerak setelah bara menjadi abu. Bukan saat protes mulai dilayangkan?
"Apa yang dilakukan rakyat adalah untaian rasa diperlakukan tak setara. Rakyat diminta sabar dan hemat, sementara elit nyaman dengan proyek dan tunjangannya," tukas Guntur Romli.
"Dan rakyat pun menyadari: Korek api lebih cepat dijangkau daripada mikropon," tuntas Politisi PDI Perjuangan itu.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.