Hadapi Kemarau, Kementan Dorong Teknologi AWD: Hemat Air 20% Tanpa Kurangi Hasil Padi
FAKTANASIONAL.NET – Musim kemarau yang kian tidak menentu menuntut sektor pertanian untuk lebih adaptif. Kementerian Pertanian (Kementan) kini tengah menggencarkan penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang sebagai…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Musim kemarau yang kian tidak menentu menuntut sektor pertanian untuk lebih adaptif.
Kementerian Pertanian (Kementan) kini tengah menggencarkan penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang sebagai strategi kunci menjaga produktivitas padi di tengah keterbatasan sumber daya air.
Teknologi ini terbukti mampu menekan penggunaan air irigasi secara signifikan sekaligus menjadi bagian dari mitigasi perubahan iklim melalui penurunan emisi gas rumah kaca di lahan sawah.
Faktor Krusial Keberlanjutan Produksi
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa efisiensi air adalah penentu utama keberhasilan petani dalam menghadapi risiko kekeringan.
“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujar Mentan Amran.
Inovasi Adaptif Sejak 2013
Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa AWD merupakan solusi nyata bagi petani agar tidak lagi bergantung pada penggenangan sawah secara terus-menerus.
Teknologi yang diadaptasi dari International Rice Research Institute (IRRI) ini telah diuji coba oleh Kementan selama enam musim tanam di Indonesia.
“Teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” ungkap Fadjry dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/3/2026).
Fadjry menambahkan, hasil pengujian menunjukkan efisiensi yang luar biasa bagi penghematan air irigasi.
“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20%,” ucapnya.
Cara Kerja Sederhana: Pipa Paralon sebagai "Piezometer"
Analis BRMP Lingkungan Pertanian, Ali Pramono, memaparkan bahwa penerapan AWD menggunakan alat pantau yang sangat sederhana namun akurat, yakni pipa paralon yang dilubangi dan dibenamkan ke dalam tanah.
“Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berdiameter 10-15 cm dengan panjang 30-100 cm yang dilubangi di semua sisinya dan dibungkus kain kassa kemudian dibenamkan hingga tersisa 10 cm – 20 cm di atas permukaan tanah. Pipa ini memiliki prinsip kerja seperti piezometer sederhana,” tutur Ali.
Petani cukup memantau kedalaman air di dalam pipa tersebut untuk menentukan kapan saatnya mengairi kembali sawah mereka.
“Pengairan kembali umumnya dilakukan ketika muka air di dalam pipa telah turun hingga kisaran 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hingga tinggi muka air 3-5 cm untuk menjaga kelembapan tanah,” tambah Ali.
Dampak Positif bagi Akar dan Tanah
Metode ini tidak hanya menghemat air, tetapi juga memperbaiki struktur tanah dan memperkuat perakaran padi, sehingga tanaman lebih tangguh terhadap cekaman cuaca ekstrem.
“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi,” tutup Ali.
Dengan penerapan Climate Smart Agriculture ini, pemerintah optimis produktivitas padi nasional tetap terjaga meski tantangan iklim semakin berat.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.