Harga Minyak Dunia Menguat Tipis: Bayang-bayang Geopolitik dan Keseimbangan Pasokan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak dunia mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan Kamis pagi (20/11/2025). Minyak mentah Brent (LCOc1) naik menjadi US$63,72 per barel dari US$63,51, sementara West Texas Intermediate (WTI/CLc1) juga mengua…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak dunia mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan Kamis pagi (20/11/2025). Minyak mentah Brent (LCOc1) naik menjadi US$63,72 per barel dari US$63,51, sementara West Texas Intermediate (WTI/CLc1) juga menguat ke US$59,81 per barel dari US$59,44. Kenaikan harga ini terjadi di tengah volatilitas sentimen geopolitik yang tinggi, khususnya terkait perkembangan perang Ukraina-Rusia. Pasar saat ini berada di persimpangan antara harapan adanya resolusi konflik dan kekhawatiran potensi kelebihan pasokan global.
Isu perdamaian menjadi sorotan setelah AS dilaporkan memberi sinyal kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk mempertimbangkan kerangka kerja perdamaian Washington, yang dapat mencakup penyerahan sebagian wilayah. Perkembangan ini, termasuk tawaran format perundingan alternatif dari Presiden Turki Tayyip Erdogan, membuka peluang berakhirnya konflik. Pasar melihat potensi berakhirnya perang sebagai pembuka pintu bagi aliran minyak Rusia yang lebih tinggi ke pasar global.
Risiko Banjir Minyak Rusia dan Sanksi Baru
Para analis, seperti Scott Shelton dari TP ICAP Group, mewanti-wanti bahwa jika seluruh volume minyak Rusia yang selama ini dikenai sanksi kembali masuk ke pasar bebas secara penuh, harga minyak berisiko turun signifikan hingga ke kisaran US$50-an per barel. Sebelumnya, AS telah menjatuhkan sanksi baru kepada raksasa migas Rusia, Rosneft dan Lukoil, dengan tenggat 21 November 2025 bagi perusahaan global untuk menghentikan bisnis. Langkah ini bertujuan membatasi pendapatan dan volume ekspor jangka panjang Moskow.
Data Stok AS dan Fundamental Pasar yang Lemah
Di sisi lain, Rusia melalui Wakil Perdana Menteri Alexander Novak membantah sanksi memukul produksi dan mengklaim akan mencapai kuota OPEC+ pada akhir 2025 atau awal 2026. Di tengah ketidakpastian geopolitik ini, pasar juga memproses data Energy Information Administration (EIA) yang menunjukkan penarikan stok minyak mentah AS lebih besar dari perkiraan pekan lalu, didorong peningkatan aktivitas kilang dan ekspor. Meskipun demikian, analis Rystad, Janiv Shah, menilai pasar kini memasuki fase "tekanan maksimum" menjelang tenggat sanksi, dan penurunan premi risiko geopolitik mengembalikan fokus investor pada fundamental pasar yang lemah.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.