Fakta Nasional

Harga Minyak Global Stabil Tipis: Dampak Gencatan Senjata Dagang AS-China dan Sinyal The Fed

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak dunia menunjukkan pergerakan stabil dengan kenaikan tipis pada perdagangan Kamis, 30 Oktober 2025. Langkah ini menyusul tercapainya kesepakatan dagang antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Ji…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 31 October 2025 📖 1 menit
Harga Minyak Global Stabil Tipis: Dampak Gencatan Senjata Dagang AS-China dan Sinyal The Fed
Harga minyak mentah Brent dilaporkan anjlok kembali ke level sebelum konflik di kisaran 72 dolar AS per barel akibat melimpahnya pasokan dan penurunan permintaan dari China./(Ilustrasi/@pixabay)

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak dunia menunjukkan pergerakan stabil dengan kenaikan tipis pada perdagangan Kamis, 30 Oktober 2025. Langkah ini menyusul tercapainya kesepakatan dagang antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan.

Dikutip dari Reuters, minyak mentah Brent tercatat naik tipis 8 sen, menetap di level 65,00 Dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 9 sen menjadi 60,57 Dolar AS per barel. Meskipun kenaikannya terbatas, stabilitas ini dipandang positif oleh pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang berkepanjangan.

Investor merespons positif peluang gencatan senjata dagang ini, yang diharapkan dapat meredakan tekanan signifikan pada pasar energi selama beberapa bulan terakhir.

Kesepakatan yang dicapai kedua pemimpin negara mencakup komitmen penurunan tarif AS terhadap produk Tiongkok, dari 57 persen menjadi 47 persen selama satu tahun. Sebagai imbalannya, Beijing setuju untuk melanjutkan impor kedelai dari AS, menjaga kelancaran ekspor tanah jarang, dan memperketat pengawasan terhadap perdagangan fentanil.

Namun, analis energi Tamas Varga dari PVM mengingatkan bahwa kesepakatan ini lebih bersifat "penurunan tensi" daripada perubahan fundamental. Investor masih menanti bukti implementasi konkret dari perjanjian tersebut. Di sisi korporasi, Shell dan TotalEnergies melaporkan penurunan laba kuartalan akibat harga minyak yang lebih rendah, meskipun kinerja bisnis gas alam Shell melampaui ekspektasi.

Suku Bunga The Fed dan Menjelang Rapat OPEC+

Faktor lain yang memengaruhi pasar adalah keputusan Federal Reserve (The Fed) AS yang menurunkan suku bunga sesuai ekspektasi. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong permintaan energi dengan menekan biaya pinjaman. Namun, The Fed juga memberi sinyal bahwa ini mungkin pemangkasan terakhir di tahun 2025.

Pasar kini mengalihkan perhatiannya ke pertemuan OPEC+ pada 2 November. Aliansi ini diperkirakan akan menambah produksi sekitar 137.000 barel per hari untuk bulan Desember. Rencana ini, ditambah dengan rekor produksi minyak AS yang mencapai 13,6 juta barel per hari, menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya kelebihan pasokan di pasar.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK