Fakta Nasional

Harga Minyak Mentah Turun Tajam di Akhir Mei 2025

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak mentah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (30/5/2025), setelah pasar global mencemaskan rencana OPEC+ untuk menaikkan produksi lebih besar dari proyeksi sebelumnya. Menurut laporan Reuters, acu…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 01 June 2025 📖 2 menit
Harga Minyak Mentah Turun Tajam di Akhir Mei 2025
Tambang minyak mentah/(ilustrasi/@pixabay)
) -->

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Harga minyak mentah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (30/5/2025), setelah pasar global mencemaskan rencana OPEC+ untuk menaikkan produksi lebih besar dari proyeksi sebelumnya.

Menurut laporan Reuters, acuan minyak Brent tercatat turun 25 sen atau 0,39% menjadi US$ 63,90 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melemah 15 sen atau 0,25% ke level US$ 60,79 per barel, setelah sempat anjlok lebih dari US$ 1 dalam sesi sebelumnya.

Sentimen negatif ini bermula ketika muncul kabar bahwa OPEC+ kemungkinan akan membahas kenaikan produksi yang melebihi target sebesar 411.000 barel per hari (bph) yang sempat disepakati.

“Rencana OPEC+ tampaknya tidak mendukung pasar minyak secara signifikan,” ungkap Matt Smith, analis utama Kpler untuk kawasan Amerika.

Kabar kenaikan produksi OPEC+ di tengah tren pemulihan ekonomi global membuat pelaku pasar khawatir terjadi kelebihan pasokan (surplus).

Menurut analisis JPMorgan, surplus minyak skala global kini telah melebar menjadi 2,2 juta bph. Hal ini berpotensi memaksa harga menyesuaikan, bahkan menurun lebih jauh, agar permintaan kembali bangkit dan keseimbangan antara pasokan dan permintaan terjaga.

JPMorgan memprediksi harga minyak akan bertahan di kisaran saat ini sebelum berpotensi turun ke level US$ 50-an pada akhir tahun.

Di sisi lain, para anggota OPEC+ terdorong untuk menambah volume produksi guna mempertahankan pangsa pasar di tengah persaingan dengan produsen non-OPEC, terutama Amerika Serikat yang semakin giat menggenjot ekspor via shale oil.

Rencana peningkatan output ini pun diprediksi memicu gejolak harga di paruh kedua 2025, apabila tren permintaan global tidak membaik secepat perkiraan.

Sentimen Perang Dagang AS-China Memperburuk Tekanan Harga
Tidak hanya faktor pasokan, tekanan harga minyak juga datang dari eskalasi perang dagang antara AS dan China.

Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social menuduh China melanggar kesepakatan tarif bilateral.

“Komentar Trump mengenai pelanggaran kesepakatan oleh China turut menekan harga minyak, terutama setelah laporan Reuters soal produksi OPEC+,” komentar Phil Flynn, analis senior dari Price Futures Group.

Selain itu, pada Kamis (29/5/2025), Pengadilan Banding Federal AS memutuskan untuk memberlakukan kembali tarif impor yang sempat diblokir oleh pengadilan dagang.

Putusan tersebut menambah ketidakpastian kebijakan perdagangan dan memicu kekhawatiran para pelaku industri bahwa eskalasi tarif dapat menahan laju permintaan minyak global.

Peningkatan tarif ini berpotensi berdampak pada biaya produksi dan distribusi, sehingga pasar kembali melemah melihat prospek permintaan jangka pendek yang suram.

Dengan kondisi surplus pasokan dan ancaman perang dagang, pelaku pasar cenderung berhati-hati mengambil posisi beli.

Hingga saat ini, proyeksi jangka menengah masih menempatkan harga minyak di bawah tekanan, kecuali terjadi perbaikan ekonomi global yang signifikan atau keputusan OPEC+ menarik kembali rencana produksi tambahan.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK