Hasil Muktamar PBNU: Miftachul Wa-La Yahya
FAKTANASIONAL.NET - Tak salah dugaan saya semula. Perubahan sistem pemilihan berarti perubahan kepemimpinan. Artinya, petahana akan tumbang. Dalam hal ini, KH Yahya Cholil Staquf. Hasil voting perubahan sistem pemilihan dari one man one vote menjadi…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Tak salah dugaan saya semula. Perubahan sistem pemilihan berarti perubahan kepemimpinan. Artinya, petahana akan tumbang. Dalam hal ini, KH Yahya Cholil Staquf.
Hasil voting perubahan sistem pemilihan dari one man one vote menjadi sistem pemilihan lewat AHWA (perwakilan) sangat kentara sekali: 400 suara versus 150 suara.
Seperti dikatakan KH Zulfa Mustofa, pemilihan lewat AHWA didukung 5 Caketum. Sedangkan pemilihan one man one vote hanya didukung 1 Caketum, yakni KH Yahya Cholil Staquf.
Pemilihan lewat AHWA ini akan memperkuat posisi Syuriah yang memang lembaga tertinggi di PBNU. Masak Syuriah tak didengar Tanfidziyah seperti yang terjadi di periode, kemarin?
Bahkan, keputusan Syuriah diterpedo Tanfidziyah, dengan alasan dia dipilih secara langsung dalam Muktamar. Maka Muktamar pula yang berhak menegurnya. Mana mungkin?
Artinya, istilah "La Miftach Wa-La Yahya" tak berlaku. Yang berlaku hanya Wa-La Yahya. Istilah KH Mustofa Bisri, Kiai versus Lurah Pondok. Lurah Pondok tak bisa mengatur-ngatur Kiai (Syuriah).
Yang ditegakkan dalam Muktamar ke-35 ini adalah Syuriah. Dan itu memang inti dari NU itu sendiri. Kembali ke khittah. Tidak ada cerita konflik antara Syuriah dan Tanfidziyah. Tanfidziyah harus tunduk pada Syuriah. Itulah yang memang seharusnya.
KH Miftachul Akhyar kembali ke posisinya sebagai Rais Aam, sementara KH Yahya Cholil Staquf digantikan oleh KH Abdul Hakim Mahfudz. Semoga NU semakin besar khidmatnya untuk umat, bangsa, dan umat manusia secara keseluruhan. Aamiin. (ERIZAL)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.