Hemat Anggaran, DEN Kaji Pemanfaatan Tangki "Nganggur" untuk Cadangan Penyangga Energi Nasional
FAKTANASIONAL.NET – Dewan Energi Nasional (DEN) tengah mengkaji strategi pemanfaatan tangki-tangki penyimpanan minyak yang saat ini menganggur ( idle ) atau tidak aktif. Langkah ini dibidik sebagai solusi efisien dan berbiaya rendah untuk memperkuat…
FAKTANASIONAL.NET – Dewan Energi Nasional (DEN) tengah mengkaji strategi pemanfaatan tangki-tangki penyimpanan minyak yang saat ini menganggur (idle) atau tidak aktif.
Langkah ini dibidik sebagai solusi efisien dan berbiaya rendah untuk memperkuat Cadangan Penyangga Energi (CPE) nasional tanpa harus membangun infrastruktur baru dari nol.
Anggota DEN, Satya Widya Yudha, menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki payung hukum kuat terkait hal ini melalui Perpres Nomor 96 Tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi.
Berbeda dengan cadangan operasional harian, CPE ini bersifat krusial karena hanya akan dilepas ke pasar saat negara menghadapi kondisi krisis dan darurat energi.
Berdasarkan beleid tersebut, Indonesia diwajibkan memiliki kapasitas penyimpanan untuk minyak bumi, LPG, maupun Bahan Bakar Minyak (BBM) yang setara dengan 30 hari total impor nasional.
Baca Juga: Pemerintah Bentuk 150 Yonif TP, Hasto: Perkuat Pertahanan dengan IPTEK, Bukan Ekspansi Batalyon
"Di dalam perpres itu besarnya tangki yang dipakai untuk menimbun baik itu crude, LPG, ataupun juga BBM itu 30 hari maksudnya dikalikan dengan volume impor kita. Jadi kalau satu hari kita impor berapa juta barel, ya itu dikalikan 30, berarti kan tangkinya gede," ujar Satya saat ditemui di Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DIY, Jumat (12/6).
Potensi Tangki Idle Capai 9 Juta Barel
Mengingat skala kebutuhan wadah penyimpanan (storage) yang sangat masif, keterbatasan anggaran negara menjadi tantangan nyata.
Oleh karena itu, DEN mengusulkan rehabilitasi terhadap fasilitas tangki yang sudah ada namun tidak terpakai, termasuk mempertimbangkan tangki milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Satya memperkirakan potensi kapasitas dari tangki-tangki idle yang bisa diselamatkan ini cukup signifikan bagi ketahanan energi nasional.
"Karena tangki besar itu sehingga kemampuan negara untuk membangun langsung kan pasti terbatas, apalagi kan ini hanya dipakai di saat kondisi krisis dan darurat. Maka jalan keluarnya adalah kita mengidentifikasi tangki-tangki yang idle, ya yang idle tapi masih bisa diperbaiki itu dijadikan bagian daripada cadangan penyangga energi. Jadi kalau ditotal ya bisa sampai 9 juta barel," tambahnya. Meski begitu, ia menekankan seluruh fasilitas tersebut wajib melewati proses verifikasi dan perbaikan teknis terlebih dahulu.
Mitigasi Pra-Krisis dan Rencana Ekspansi di Sumatera
Hingga saat ini, Indonesia beruntung karena belum pernah berada dalam status krisis energi yang mengharuskan penggunaan CPE.
Gejolak pasokan yang terjadi selama ini masih dikategorikan sebagai tahap prakrisis, sehingga pemerintah bisa melakukan mitigasi kilat lewat jalur diplomasi.
Sebagai contoh, saat pasokan dari Timur Tengah sempat terhambat akibat ketegangan geopolitik, Presiden langsung melakukan lobi internasional.
Pemerintah berharap bisa mengamankan sekitar 150 juta barel minyak dari Rusia demi mempertebal cadangan operasional domestik.
Untuk cadangan operasional harian, Satya menyebut kapasitas saat ini sebenarnya masih memadai. Namun, Kementerian ESDM di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia sudah berencana memperpanjang daya tahan cadangan operasional tersebut hingga mampu menopang kebutuhan dalam negeri selama satu bulan penuh.
"Pak Bahlil mengatakan bahwa nanti cadangan storage itu akan ditambah hingga bisa sampai 30 hari untuk cadangan operasional itu," pungkas Satya. Proyek penambahan kapasitas penampungan baru tersebut direncanakan akan dibangun di Pulau Sumatera.
Baca Juga: Bongkar Modus Sistem Ranjau Polda Kalbar Ancam Pelaku Peredaran Gelap Narkotika dengan Hukuman Mati
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.