Hujan Mikroplastik di Jakarta: Lemahnya Pengelolaan Sampah Jadi Sebab Utama
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Fenomena hujan yang membawa mikroplastik telah dicatat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta pada Oktober 2025, dan kemudian menyebar ke daerah lain. Menurut pakar lingkungan ITS Surabaya, Prof Arseto Y…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Fenomena hujan yang membawa mikroplastik telah dicatat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta pada Oktober 2025, dan kemudian menyebar ke daerah lain. Menurut pakar lingkungan ITS Surabaya, Prof Arseto Yekti Bagastyo, akar masalah utama dari fenomena ini adalah lemahnya pengelolaan sampah, khususnya plastik. Kehadiran mikroplastik dalam air hujan mengindikasikan eskalasi partikel plastik yang mencemari udara melalui proses atmospheric deposition.
Bahaya Mikroplastik Sekunder Bagi Kesehatan
Prof. Arseto menjelaskan, mikroplastik sekunder terbentuk dari degradasi makroplastik menjadi partikel sangat kecil (kurang dari $5 \text{ mm}$), dipicu oleh paparan angin, panas, sinar UV, dan aktivitas manusia. Mikroplastik yang turun bersama hujan tidak hanya mencemari sungai dan laut, tetapi juga dapat terserap tanah. Yang lebih mengkhawatirkan, mikroorganisme dan biota dapat menyerapnya, yang pada akhirnya terakumulasi ke dalam tubuh manusia dan berpotensi menyebabkan masalah kesehatan serius, 27 November 2025.
Sorotan Terhadap Pengelolaan TPA di Indonesia
Arseto menyoroti praktik pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Indonesia yang masih didominasi oleh sistem open dumping (penimbunan terbuka). TPA yang menerapkan sanitary landfill (penimbunan terkontrol) bahkan belum mencapai 50%. Untuk mengatasi masalah ini, ia mendorong sinergi antarpihak, dari hulu ke hilir. Pengelolaan sampah memerlukan peran semua pihak dan tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah, terutama karena biaya operasionalnya yang masih tinggi.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.