Hukum Murphy
MUNGKIN ada satu ungkapan yang terdengar sederhana, tetapi sering terasa begitu dekat dengan kehidupan manusia, yaitu Murphy's Law. Kita mengenalnya melalui kalimat, “Jika sesuatu bisa berjalan salah, maka kemungkinan itu akan terjadi.” Bagi sebagia…
Dengarkan Ringkasan
MUNGKIN ada satu ungkapan yang terdengar sederhana, tetapi sering terasa begitu dekat dengan kehidupan manusia, yaitu Murphy's Law. Kita mengenalnya melalui kalimat, “Jika sesuatu bisa berjalan salah, maka kemungkinan itu akan terjadi.”
Bagi sebagian orang, Hukum Murphy hanyalah lelucon untuk menjelaskan mengapa sesuatu yang tidak diinginkan selalu muncul pada saat yang paling tidak tepat.
Namun, jika direnungkan lebih jauh, Murphy's Law sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih manusiawi: bagaimana kita menghadapi ketidakpastian, kesalahan, kegagalan, dan keadaan yang berada di luar kendali.
Saya melihat persoalannya bukan semata-mata apakah Murphy's Law benar atau salah.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi pada diri kita ketika kita terlalu percaya kepadanya?
Sebab ada perbedaan besar antara seseorang yang memahami bahwa kegagalan mungkin terjadi dengan seseorang yang sejak awal sudah meyakini bahwa kegagalan pasti terjadi.
Yang pertama bersiap.
Yang kedua menyerah sebelum berperang.
Di situlah Hukum Murphy menjadi menarik. Ia bisa menjadi pengingat agar manusia tidak ceroboh, tetapi juga bisa berubah menjadi alasan untuk membenarkan pesimisme.
Dari Eksperimen Teknis Menjadi Pandangan Hidup
Murphy's Law memiliki akar dari dunia eksperimen teknis pada sekitar 1948–1949. Dalam lingkungan yang berhubungan dengan pengujian, keselamatan, dan teknologi, kesalahan kecil dapat menghasilkan konsekuensi besar.Dari pengalaman semacam itulah lahir gagasan bahwa jika suatu sistem memiliki kemungkinan mengalami kesalahan, maka kemungkinan tersebut harus diperhitungkan.
Dalam perkembangan selanjutnya, ungkapan itu keluar dari laboratorium dan masuk ke kehidupan sehari-hari.
Kita mulai menggunakannya ketika kendaraan mogok saat sedang terburu-buru. Kita menyebutnya ketika hujan turun tepat setelah pakaian dicuci.
Kita mengingatnya ketika barang yang jatuh justru masuk ke celah paling sempit. Bahkan ketika memilih antrean, kita sering merasa bahwa barisan di sebelah selalu bergerak lebih cepat daripada barisan yang kita pilih.
Lucunya, pengalaman seperti itu terasa universal.
Tetapi di sinilah manusia sering melakukan kesalahan berpikir.
Kita cenderung mengingat kejadian yang sesuai dengan dugaan buruk dan melupakan ratusan kejadian ketika semuanya berjalan normal.
Ketika lima kali memilih antrean dan dua kali merasa salah memilih, pengalaman buruk itu dapat menempel lebih kuat dalam ingatan daripada puluhan kali ketika antrean berjalan biasa saja.
Inilah salah satu alasan mengapa Murphy's Law terasa seperti hukum alam yang selalu benar.
Padahal, bisa jadi yang berubah bukan dunia, melainkan cara kita memperhatikan dunia.
Kita memiliki kecenderungan mencari bukti yang menguatkan apa yang sudah kita percaya. Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dikenal sebagai confirmation bias.
Jika seseorang sudah yakin hidupnya selalu sial, maka kegagalan kecil akan menjadi bukti tambahan untuk memperkuat keyakinan itu.
“Benar kan? Selalu begini.”
Kalimat sederhana tersebut sebenarnya berbahaya apabila terus diulang.
Sebab lama-kelamaan seseorang tidak lagi sekadar mengalami kegagalan. Ia mulai membangun identitas sebagai orang yang selalu gagal.
Dan ketika kegagalan sudah dianggap sebagai identitas, usaha untuk memperbaikinya pun perlahan kehilangan tenaga.
Jangan Jadikan Murphy's Law sebagai Alasan untuk Menyerah
Menurut saya, kelemahan terbesar dalam memahami Murphy's Law adalah ketika seseorang mengubahnya menjadi fatalisme.Fatalisme adalah cara pandang yang membuat manusia merasa bahwa hidup sudah berjalan sebagaimana mestinya dan tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.
Jika mobil rusak, “Memang sudah nasib.”
Jika bisnis gagal, “Memang bukan rezekinya.”
Jika rencana berantakan, “Sudah hukum kehidupan.”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar menenangkan. Tetapi dalam keadaan tertentu, ia justru dapat membuat manusia kehilangan tanggung jawab terhadap pilihan-pilihannya sendiri.
Kita memang tidak mampu mengendalikan seluruh kehidupan. Kita tidak bisa mengendalikan cuaca, keputusan orang lain, perubahan ekonomi, kecelakaan, bencana, atau berbagai peristiwa yang datang tanpa permisi.
Namun, tidak mampu mengendalikan semuanya bukan berarti tidak mampu melakukan apa pun.
Ada wilayah yang masih berada dalam kendali kita: persiapan, keputusan, kedisiplinan, respons, dan cara kita bangkit.
Karena itu, bagi saya, Murphy's Law seharusnya tidak dibaca sebagai “kesialan pasti terjadi”.
Ia lebih sehat apabila dibaca sebagai:
“Kemungkinan buruk selalu ada, maka jangan hidup tanpa persiapan.”
Perbedaannya sangat besar.
Orang pesimis melihat kemungkinan buruk sebagai alasan untuk takut.
Orang realistis melihat kemungkinan buruk sebagai sesuatu yang perlu diantisipasi.
Sedangkan orang yang tangguh melihat kemungkinan buruk sebagai bagian dari perjalanan yang harus dihadapi.
Manusia Memang Tidak Sempurna
Murphy's Law juga mengingatkan kita pada kelemahan manusia.Manusia bisa lupa. Manusia bisa terburu-buru. Manusia bisa salah menghitung. Manusia bisa mengambil keputusan berdasarkan emosi. Manusia dapat merasa sudah berhati-hati, padahal sebenarnya masih ada banyak celah yang belum diperiksa.
Karena itu, dalam banyak situasi, “kesialan” sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar datang dari ruang kosong.
Ada yang muncul karena kelalaian.
Ada yang lahir karena perencanaan buruk.
Ada yang terjadi karena kita meremehkan risiko.
Ada pula yang memang sepenuhnya berada di luar kemampuan manusia untuk mengendalikan.
Kemampuan membedakan ketiganya sangat penting.
Jangan semua kesalahan disebut nasib. Tetapi jangan pula semua musibah dibebankan kepada korban dengan mengatakan bahwa mereka kurang berhati-hati.
Kehidupan jauh lebih kompleks daripada itu.
Justru karena manusia memiliki keterbatasan, kita membutuhkan sistem yang membantu mengurangi dampak kesalahan.
Dalam dunia teknologi, misalnya, sistem dibuat dengan cadangan, pemeriksaan ulang, alarm, prosedur keselamatan, dan berbagai mekanisme failsafe. Tujuannya bukan karena manusia yakin sistem tidak akan pernah gagal.
Sebaliknya, sistem tersebut dibuat karena manusia sadar bahwa kegagalan mungkin terjadi.
Ini pelajaran penting yang bisa diterapkan dalam kehidupan.
Dari “Every Solution Breeds New Problems” hingga Antrean Sebelah
Salah satu pengamatan turunan Murphy's Law berbunyi, Nothing is as easy as it looks. Sesuatu sering kali ternyata lebih rumit daripada yang terlihat.Kita mungkin pernah mengalaminya.
Sebuah pekerjaan terlihat hanya membutuhkan waktu satu jam. Ketika dimulai, muncul persoalan lain.
Masalah kecil membutuhkan keputusan tambahan. Keputusan tambahan membuka persoalan baru. Akhirnya pekerjaan yang diperkirakan selesai satu jam justru menghabiskan setengah hari.
Ada pula ungkapan, Every solution breeds new problems.
Setiap solusi terkadang melahirkan persoalan baru.
Ini bukan berarti menyelesaikan masalah adalah tindakan sia-sia. Justru kehidupan memang bekerja seperti itu. Banyak persoalan memiliki rantai sebab-akibat yang panjang.
Kita memperbaiki satu bagian, bagian lain membutuhkan penyesuaian.
Kita meningkatkan produksi, muncul masalah distribusi.
Kita mempercepat pekerjaan, risiko kesalahan meningkat.
Kita membuat aturan untuk menyelesaikan satu persoalan, kemudian aturan tersebut menghasilkan konsekuensi yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Begitu juga dengan “ilusi jalur lain”.
Kita sering merasa antrean sebelah selalu lebih cepat. Padahal, ketika pindah ke sana, belum tentu keadaan menjadi lebih baik. Kita hanya melihat gerakan antrean lain, tetapi tidak melihat keseluruhan prosesnya.
Fenomena sederhana ini sebenarnya mengajarkan sesuatu yang penting: manusia sering membandingkan kenyataan hidupnya dengan potongan kecil kenyataan milik orang lain.
Kita melihat orang lain bergerak cepat.
Kita tidak melihat berapa lama mereka pernah menunggu.
Kita melihat keberhasilan.
Kita tidak melihat kegagalan yang mereka sembunyikan.
Kita melihat hasil.
Kita tidak selalu melihat proses.
Karena itu, Murphy's Law seharusnya tidak membuat kita sibuk menghitung kesialan orang lain ataupun mengutuki antrean kehidupan sendiri.
Menghadapi Murphy's Law dengan Ketangguhan
Lalu bagaimana seharusnya kita hidup jika kemungkinan buruk memang selalu ada?
Jawabannya bukan dengan menjadi manusia yang takut terhadap segala sesuatu.
Jawabannya adalah membangun ketangguhan.
Pertama, pahami bias dalam pikiran sendiri.
Ketika sesuatu yang buruk terjadi, jangan buru-buru mengatakan, “Saya memang selalu sial.”
Tanyakan terlebih dahulu: apakah ini benar-benar pola yang konsisten atau saya hanya sedang mengingat kejadian buruk?
Apakah masalah ini terjadi karena kelalaian saya?
Apakah ada faktor eksternal?
Apa yang masih bisa saya perbaiki?
Pertanyaan semacam itu membuat kita berpindah dari emosi menuju refleksi.
Kedua, belajar melakukan manajemen bencana dalam skala kehidupan sehari-hari.
Bukan berarti setiap hari harus dipenuhi kecemasan. Justru sebaliknya. Persiapan yang baik membuat kita lebih tenang.
Simpan cadangan.
Periksa kembali pekerjaan.
Siapkan rencana alternatif.
Jangan bergantung pada satu kemungkinan.
Belajar menerima bahwa rencana A mungkin gagal dan rencana B mungkin harus dijalankan.
Ketangguhan tidak dibangun ketika semuanya mudah. Ia tumbuh ketika seseorang belajar tetap berdiri setelah kenyataan tidak sesuai harapan.
Ketiga, bangun failsafe system dalam kehidupan pribadi.
Manusia membutuhkan ruang untuk melepaskan tekanan. Musik, olahraga, membaca, menulis, berkarya, atau menjalankan hobi dapat menjadi bentuk pelampiasan yang sehat.
Ada pula jalan etis: melakukan kebaikan, membantu orang lain, dan memastikan bahwa penderitaan yang kita alami tidak membuat kita berubah menjadi sumber penderitaan bagi orang lain.
Dan ada jalan asketis: membangun kedalaman spiritual agar manusia memiliki tempat untuk bersandar ketika logika dan kemampuan dirinya tidak lagi cukup.
Bagi saya, spiritualitas bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Justru sebaliknya.
Spiritualitas seharusnya membuat manusia mampu menerima sesuatu yang tidak bisa dikendalikan tanpa kehilangan keberanian untuk memperbaiki sesuatu yang masih bisa diusahakan.
Tadah, Pradah, dan Ora Wegah
Ada tiga prinsip sederhana yang menurut saya menarik untuk dijadikan pegangan ketika menghadapi Murphy's Law: tadah, pradah, dan ora wegah.
Tadah berarti siap menerima keadaan.
Bukan pasrah tanpa usaha, tetapi memiliki kemampuan menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Pradah berarti mau berusaha, mau repot, dan bersedia menghadapi proses.
Sebab tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan berharap.
Kemudian ora wegah berarti tidak malas.
Tidak malas memperbaiki kesalahan. Tidak malas belajar. Tidak malas mencoba lagi. Tidak malas mempersiapkan kemungkinan buruk.
Tiga prinsip tersebut menurut saya jauh lebih sehat daripada menjadikan Murphy's Law sebagai mantra pesimisme.
Sebab manusia memang tidak bisa meminta kehidupan agar selalu mudah.
Yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan diri agar tidak mudah runtuh ketika kehidupan menjadi sulit.
Pada akhirnya, Murphy's Law mungkin bukan tentang kesialan.
Ia adalah cermin.
Ia memperlihatkan bahwa manusia hidup di tengah ketidakpastian, memiliki keterbatasan, dan tidak selalu mampu memperkirakan apa yang akan terjadi berikutnya.
Namun, dari ketidakpastian itu pula manusia belajar menjadi lebih matang.
Kita belajar memeriksa sebelum berangkat.
Kita belajar membuat cadangan.
Kita belajar menerima kesalahan.
Kita belajar membedakan nasib dengan kelalaian.
Kita belajar bahwa kegagalan bukan selalu akhir.
Dan yang paling penting, kita belajar bahwa sesuatu yang berjalan salah tidak otomatis berarti hidup kita juga salah.
Saya percaya, hidup bukan tentang bagaimana memastikan tidak ada satu pun hal buruk terjadi. Itu mustahil.
Hidup adalah tentang bagaimana kita tetap memiliki akal ketika keadaan kacau, tetap memiliki keberanian ketika rencana gagal, tetap memiliki etika ketika kecewa, dan tetap memiliki kemauan untuk bangkit ketika sesuatu jatuh berantakan.
Sebab jika Murphy's Law benar-benar mengajarkan bahwa sesuatu yang bisa salah mungkin akan salah, maka manusia seharusnya tidak menjawabnya dengan ketakutan.
Jawaban terbaik adalah kesiapan.
Karena pada akhirnya, kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi kepada kita. Tetapi kita masih bisa memilih siapa diri kita ketika sesuatu yang buruk terjadi.
Dan mungkin, di situlah hukum kehidupan yang sebenarnya: bukan tentang menghindari semua kesalahan, melainkan tentang belajar menjadi manusia yang tidak mudah dikalahkan oleh kesalahan.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.