Fakta Nasional

ICMI Kalbar Menggagas Lahirnya Desa Cendekia

HARI Minggu, cerita ringan aja. Sabtu, 8 Agustus 2026, saya ikut rapat Pengurus Harian ICMI Orwil Kalbar. Semua pakai batik seragam ICMI. Saya? Beda sendiri. Harap maklum. Saya cuma kang ngopi. Sementara yang lain para cendekiawan. Maka saya memilih…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 10 August 2026 📖 3 menit
ICMI Kalbar Menggagas Lahirnya Desa Cendekia
ICMI Kalbar Menggagas Lahirnya Desa Cendekia/(Ilustrasi AI)
) -->

HARI Minggu, cerita ringan aja. Sabtu, 8 Agustus 2026, saya ikut rapat Pengurus Harian ICMI Orwil Kalbar. Semua pakai batik seragam ICMI. Saya? Beda sendiri. Harap maklum. Saya cuma kang ngopi. Sementara yang lain para cendekiawan. Maka saya memilih posisi paling aman, duduk di belakang, dekat dinding. Sambil seruput Koptagul, saya cuma mendengar.

Awalnya agenda rapat sangat organisatoris, evaluasi satu tahun kepengurusan, Silakwil, Simposium Daerah, serta rekomendasi menuju Muktamar VIII ICMI di Ambon. Rapat dipimpin langsung oleh ketuanya, Prof Dr Gusti Hardianyah, dan sekretarinya, Aida Mokhtar.

Sebuah pertanyaan, “Untuk apa cendekiawan hadir di tengah masyarakat?” Jawabannya membawa kami ke Desa Entibab, Kecamatan Bunut Hilir, Kapuas Hulu.

Desa ini berpenduduk 1.048 jiwa atau 313 kepala keluarga. Entibab berada di lanskap pertambangan emas rakyat. Ada 50 blok Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang telah ditetapkan Menteri ESDM. Sejumlah IPR sudah terbit, lainnya masih berproses.

Namun Desa Cendekia tidak boleh sekadar membuat tambang legal. Konsepnya mengawinkan Iptek dan Imtaq. Pengolahan emas tanpa merkuri, Good Mining Practice, K3, pengelolaan lingkungan, reklamasi, hingga pemanfaatan mineral berharga dari sisa produksi. Masjid Besar Adz Dzikrillah diproyeksikan menjadi pusat pesantren tahfidz, rumah tahfidz, dan kajian agama.

Lalu muncul fakta yang bikin rapat makin serius, air bersih. Sebagian warga masih memakai air kolam untuk kebutuhan sehari-hari. Pelayanan air bersih belum memadai. Muncul ide, mengapa masjid tidak menjadi titik awal pilot project pengolahan air bersih?

Dari air, diskusi mengalir seperti Sungai Kapuas: solar cell, sanitasi, kesehatan, perikanan, pendidikan, kebudayaan, ekonomi umat, sampai permainan tradisional anak. Kesimpulannya, Desa Cendekia jangan menjadi proyek sektoral.

Kalau masalahnya air, cendekiawan bicara air. Kalau tambang bermasalah, ilmu pertambangan turun tangan. Kalau anak-anak kecanduan gadget, kebudayaan harus hadir. Kalau narkoba masuk kampung, dakwah jangan berhenti di mimbar.

Dakwah harus komprehensif. Ekonomi yang adil adalah dakwah. Kesehatan adalah dakwah. Tambang yang aman dan ramah lingkungan juga dakwah. QS. Ar-Rum ayat 41 mengingatkan:
“Ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aydin-nās...”

Kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia. Maka persoalannya bukan sekadar menambang atau tidak menambang. Pertanyaannya, bisakah pertambangan rakyat legal, aman, sejahtera, ramah lingkungan, direklamasi, dan tetap menjaga martabat manusia?

Di situlah novelty Desa Cendekia. Sayangnya, regulasi masih menjadi batu sandungan. IPR yang sudah terbit belum dapat beroperasi, sementara permohonan lain belum diproses karena regulasi daerah terkait Iuran Pertambangan Rakyat (IPERA) belum selesai.

Legalitas penting agar negara bisa mengatur luasan, keselamatan, lingkungan, kewajiban, tata kelola, dan penerimaan daerah. Tetapi legalitas saja tidak cukup.

Entibab harus menjadi tempat bertemunya program, kementerian membawa program, pemerintah daerah membawa kewenangan, kampus membawa ilmu, BUMN membawa teknologi, dunia usaha membuka pasar, koperasi menggerakkan ekonomi, dan ICMI menjadi integrator.

ICMI tidak harus membiayai semuanya. ICMI harus mampu menghubungkan semuanya. Entibab didorong menjadi sasaran Gema Membangun Desa 2027. Ada pula gagasan menghubungkannya dengan koperasi desa.

Saya membayangkan Entibab bukan sekadar papan nama. Ia harus menjadi living laboratory: tambang diuji dengan ilmu, air diolah teknologi, solar cell menerangi rumah, masjid menghidupkan spiritualitas, anak-anak mengenal budaya lokal, ekonomi tumbuh, sungai dijaga, dan lubang tambang direklamasi.

Jika berhasil, model ini bisa diperluas menjadi Desa Cendekia Karbon, misalnya di Kubu Raya.
Rumusnya sederhana, “Iptek + Imtaq + Potensi Lokal + Kolaborasi + Keberlanjutan = Kemaslahatan.”

Cendekiawan tidak boleh hanya pintar bicara tentang rakyat di ruang ber-AC. Ia harus turun ke desa. Sebab masyarakat bukan kekurangan orang pintar. Yang sering kurang adalah orang pintar yang mau bekerja.

Mungkin itulah emas terbesar Entibab. Bukan emas di dalam tanah. Tetapi masa depan yang berhasil mereka gali bersama.

Penulis: Rosadi Jamani


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK