Indonesia Berencana Ekspor Beras Sebesar 10 Ribu Ton ke Singapura, Pengamat Pertanian: Ubah Narasi Menjadi Pemain Pangan di Asia Tenggara
FAKTANASIONAL.NET - Pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi menilai rencana ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura menjadi momentum mengubah narasi Indonesia dari importir menjadi pemain yang lebih percaya diri di pasar pa…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi menilai rencana ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura menjadi momentum mengubah narasi Indonesia dari importir menjadi pemain yang lebih percaya diri di pasar pangan global.
Walaupun volume ekspor relatif kecil dibandingkan produksi nasional dan perdagangan beras dunia, langkah tersebut memiliki makna simbolis sebagai penanda peningkatan kepercayaan terhadap kemampuan neraca beras Indonesia.
"Rencana ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura secara simbolik bisa menjadi momentum penting untuk mengubah narasi Indonesia dari importir menjadi pemain yang lebih percaya diri di pasar pangan kawasan," katanya di Jakarta pada Senin (13/7/2026).
Kondisi stok beras nasional secara kuantitatif sangat memadai karena stok awal 2026 mencapai 12,53 juta ton dengan proyeksi produksi 34,7 juta ton sepanjang tahun ini.
Prima Gandhi mengatakan konsumsi beras nasional sekitar 2,59 juta ton per bulan membuat stok akhir tahun diproyeksikan tetap tinggi mencapai 16,19 juta ton, sehingga ekspor tidak mengganggu pasokan domestik.
“Cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog telah mencapai sekitar 5,3 juta ton hingga Juli 2026 atau menjadi level tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan stok nasional,” ujarnya/
Dengan ketersediaan tersebut, rencana ekspor 10 ribu ton ke Singapura hanya mencakup porsi sangat kecil dari total stok, sehingga secara teknis tidak mengancam ketahanan pangan nasional.
“Saya mengingatkan kecukupan stok tidak hanya diukur dari besarnya volume nasional, melainkan juga pemerataan distribusi, keterjangkauan harga, dan akses masyarakat terhadap beras di seluruh wilayah,” ujarnya.
Prima Gandhi menilai masih harga beras yang tinggi di sejumlah daerah menunjukkan tantangan tata kelola stok sehingga pemerintah perlu memperbaiki distribusi sebelum menjadikan ekspor sebagai agenda berkelanjutan.
“Ekspor beras dapat membuka pasar baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani apabila kenaikan nilai tambah benar-benar tercermin pada harga gabah serta perlindungan biaya produksi petani,” tuturnya.
Orientasi ekspor yang terlalu agresif berpotensi mengurangi fleksibilitas pemerintah menghadapi risiko perubahan iklim, gagal panen, maupun gejolak harga pangan di tingkat global.
Jadi, kebijakan ekspor harus selalu mempertimbangkan proyeksi produksi, risiko El Nino dan La Nina, serta volatilitas harga internasional agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga dalam jangka panjang.
“Penerapan kebijakan ekspor berbasis surplus, memperkuat cadangan beras pemerintah secara dinamis, serta menjaga transparansi data sebagai dasar pengambilan keputusan yang akuntabel,” tuturnya.
Prima Gandhi juga mendorong setiap program ekspor diikuti peningkatan penyerapan gabah petani sehingga cadangan pemerintah terus bertambah dan ekspor menjadi insentif bagi peningkatan produksi nasional.
“Ekspor beras ke Singapura sebaiknya juga menjadi pintu masuk kolaborasi teknologi, inovasi pertanian, dan penguatan logistik sehingga daya saing serta ketahanan pangan Indonesia semakin berkelanjutan,” ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menawarkan ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura seiring stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,1 juta ton.
Peluang ekspor 10 ribu ton beras Indonesia ke Singapura sebagai langkah memperkuat kerja sama pangan kedua negara.
Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Sebelumnya, Indonesia masih mengandalkan impor pangan, terutama beras, yang mencapai sekitar 3 juta ton pada 2023 dan meningkat menjadi sekitar 4 juta ton pada 2024.
Namun, seiring kenaikan produksi dalam negeri, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memutuskan menutup rapat keran impor beras sepanjang 2025 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan nasional. (adm)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.