Indonesia Hadapi 3.300 Serangan Siber Setiap Minggu, Kerugian Dunia Karena Hecker Diperkirakan Triliunan Dolas AS
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Indonesia saat ini menghadapi lebih dari 3.300 serangan siber setiap minggunya. Hal ini diungkapkan Manuel Diez, Global Field Manager I.07 Cyber Security and Functional Safety dari TUV Rheinland dalam seminar bertajuk “S…
Dengarkan Ringkasan
JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Indonesia saat ini menghadapi lebih dari 3.300 serangan siber setiap minggunya. Hal ini diungkapkan Manuel Diez, Global Field Manager I.07 Cyber Security and Functional Safety dari TUV Rheinland dalam seminar bertajuk “Securing the Core; Empowering Critical Sector with OT Security”.
“Secara global, kerugian akibat kejahatan siber diperkirakan dapat mencapai hingga triliunan dolar AS pada tahun 2026,” kata Manuel Diez dalam seminar yang digelar TUV Rheinland Indonesia bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) tersebut.
Dia juga mengungkapkan bahwa infrastruktur penting, seperti transportasi dan energi, telah menjadi target serangan ransomware yang menuntut tebusan hingga jutaan dolar.
"Ini hanya salah satu contoh dari banyaknya ancaman yang mengincar infrastruktur kritis," tambah Manuel dalam rilis seminar yang yang diterima redaksi Faktanasional.net, Rabu (18/09/2024).
Sedangkan Managing Director TUV Rheinland Indonesia mengungkapkan bahwa seminar ini penting sebagai bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan kesadaran tentang risiko kejahatan siber di infrastruktur OT, terutama menyusul terbitnya Perpres No. 82 Tahun 2022 tentang Perlindungan Infrastruktur Informasi Vital (IIV).
Ia memaparkan bahwa Teknologi Operasional (OT) merujuk pada penggunaan hardware dan software untuk menjalankan sistem di berbagai lingkungan industri seperti Industrial Control Systems (ICS), Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), dan Process Control Network (PCN). Sistem ini memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan dengan sistem IT karena kerentanan terhadap serangan siber yang meningkat.
Seiring dengan berkembangnya digitalisasi di berbagai sektor, ancaman terhadap OT menjadi semakin kompleks, terutama ketika terhubung ke jaringan global yang melibatkan banyak pihak.
“Tujuan dari seminar ini adalah untuk memberikan sosialisasi terkait regulasi yang telah diterbitkan dalam Perpres No. 82 Tahun 2022, serta meningkatkan kesadaran akan tingginya potensi serangan siber pada infrastruktur OT,” ungkapnya.
“Kami ingin memberikan informasi terkait apa itu keamanan teknologi operasional, risiko yang dihadapi, dan strategi untuk memastikan keamanan infrastruktur OT kita,” tambah Nyoman.
Nyoman Susila juga menyatakan bahwa TÜV Rheinland Indonesia sesuai dengan tagline ‘we make the world a safer place, today for tomorrow’, bersama dengan tim ahli yang dimiliki, berkomitmen untuk mendukung, dan memberikan jasa pelayanan untuk membangun sistem keamanan siber ini kepada seluruh stakeholder yang membutuhkan keamanan infrastruktur OT.
"Kami siap membantu seluruh pemangku kepentingan, baik dari sisi regulasi maupun penerapan OT Security di industri. Harapan kami adalah melalui acara ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat semakin menyadari pentingnya keamanan OT dan siap menghadapi tantangan di era digital ini," ujarnya.
Sedangkan Y.B. Susilo Wibowo, Sekretaris Utama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyatakan mengapresiasi kolaborasi antara TÜV Rheinland dan BSSN dalam seminar ini.
“Program ini merupakan hasil kerja sama antara BSSN dan TÜV Rheinland Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran keamanan, khususnya terkait teknologi operasional (OT) yang berperan penting dalam industri,” katanya.
Menurut data Kementerian Keuangan dan Badan Pusat Statistik, lanjut dia, sektor industri menyumbang 18,67% terhadap PDB Indonesia pada tahun 2023 dan 26,9% dalam pajak negara.
“Peningkatan besar dalam sektor ini harus diimbangi dengan keamanan yang memadai untuk teknologi yang berkembang," ungkap Susilo.
Susilo juga menekankan pentingnya penguatan OT di sektor-sektor vital yang ditetapkan dalam Perpres No. 82 Tahun 2022.
"Keamanan OT di sektor IIV harus mendapat perhatian khusus untuk mencegah gangguan yang bisa berdampak luas pada aktivitas dan perekonomian masyarakat,” pungkasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.