Isyarat Damai AS-Iran yang Didorong China Tekan Harga Minyak Dunia hingga 3 Persen
FAKTANASIONAL.NET — Harga minyak mentah dunia terkoreksi tajam sekitar 3 persen pada akhir pekan. Penurunan ini dipicu oleh laporan bahwa China mulai mengambil langkah diplomasi untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — Harga minyak mentah dunia terkoreksi tajam sekitar 3 persen pada akhir pekan.
Penurunan ini dipicu oleh laporan bahwa China mulai mengambil langkah diplomasi untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sehingga meredakan kecemasan investor terkait gangguan pasokan energi global.
Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu AS, harga minyak mentah acuan Brent merosot 3,91 Dolar AS atau 3,88 persen ke level 96,78 Dolar AS per barel.
Padahal, sehari sebelumnya Brent sempat melampaui ambang batas 100 Dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menyusut 2,88 Dolar AS atau 3,12 persen menjadi 89,31 Dolar AS per barel.
Kendati melemah di akhir pekan, secara akumulatif mingguan Brent masih mengantongi kenaikan hampir 10 persen, sedangkan WTI menguat sekitar 8,3 persen.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Tensi Timur Tengah dan Rencana Gencatan Senjata
Meredanya Premi Risiko dan Dinamika Jalur Logistik
Penurunan harga terutama didorong oleh keputusan para pelaku pasar untuk mengurangi premi risiko (risk premium) seiring beredarnya kabar bahwa China turun tangan mendorong dialog yang sempat membeku antara AS dan Iran.
Meski demikian, eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama pasar:
-
Ancaman Balasan Militer: Presiden AS Donald Trump menegaskan akan melancarkan "hukuman militer besar-besaran" terhadap Iran dan kelompok Houthi menyusul aksi serangan atas dua kapal tanker milik Arab Saudi di Laut Merah.
-
Potensi Pemblokiran Rute Energi: Iran dilaporkan mendorong kelompok Houthi untuk memblokir rute pelayaran strategis Bab el-Mandeb—salah satu rute pengiriman energi terpenting di dunia setelah Selat Hormuz—jika AS terus menyerang infrastruktur energinya.
Namun, data pemantauan dari Kpler menunjukkan indikasi positif. Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz mulai stabil dalam beberapa hari terakhir.
Selain itu, aktivitas pelayaran di Bab el-Mandeb juga memperlihatkan peningkatan dibanding hari sebelumnya, sehingga kekhawatiran pasar akan ancaman blokade total mulai mereda.
Proyeksi Analis: Ancaman Lonjakan Harga Masih Mengintai
Analis dari JPMorgan memberikan peringatan bahwa ketenangan pasar saat ini bisa bersifat sementara jika gangguan pasokan minyak berlangsung lebih lama.
Mereka memproyeksikan bahwa harga Brent dapat naik sekitar 7 hingga 8 Dolar AS per barel untuk setiap tambahan satu bulan gangguan pasokan.
Apabila situasi konflik berlanjut hingga tiga bulan, rata-rata harga Brent diperkirakan bisa mencapai sekitar 114 Dolar AS per barel.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Meroket ke Level Tertinggi dalam Sebulan
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.