Fakta Nasional

Jangan Menungguku

AKU tak tahu dari mana harus memulai tulisan ini. Setiap kata terasa seperti embun yang ragu jatuh ke bumi, menggantung di ujung fajar, takut kehilangan langit yang telah lama memeluknya. Namun diam lebih menyakitkan daripada menulis, sebab ada pera…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 26 July 2026 📖 3 menit
Jangan Menungguku
Jangan Menungguku

AKU tak tahu dari mana harus memulai tulisan ini. Setiap kata terasa seperti embun yang ragu jatuh ke bumi, menggantung di ujung fajar, takut kehilangan langit yang telah lama memeluknya.

Namun diam lebih menyakitkan daripada menulis, sebab ada perasaan yang hanya dapat bernapas ketika menjadi kalimat.

Aku juga tak lagi sanggup mengeluarkan isi benak dan hatiku melalui lisan.

Bagiku, mulut terlalu sering menjadi pintu tempat keluar-masuknya kemunafikan dan dusta para manusia. Karena itu, kupilih menulis.

Sebab pada lembar-lembar sunyi ini, kata-kata tidak perlu berpura-pura, air mata tidak harus disembunyikan, dan kejujuran dapat bernapas tanpa takut dihakimi.

Jika kelak kau menemukan namaku di antara baris-baris tulisan ini, ketahuilah bahwa itu adalah suara yang tak pernah mampu diucapkan oleh lisanku, tetapi tak pernah berhenti hidup di dalam hatiku.

Engkau pernah memintaku pergi. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kelembutan yang membuat perpisahan terasa lebih pilu.

Anehnya, di ujung langkah itu engkau menitipkan harapan agar suatu hari aku kembali.

Maka aku pun berjalan, membawa rindu yang tak pernah selesai, seolah setiap jalan adalah lingkaran yang diam-diam sedang mengantarkanku pulang kepadamu.

"Wahai sang rembulan," kau anggap, "aku bagaikan matahari. Kita ditakdirkan tidak akan pernah bersatu."

Aku tersenyum, sebab langit selalu memiliki rahasia yang tidak seluruhnya dipahami oleh mereka yang memandangnya.

Bukankah matahari dan rembulan memang jarang saling menyentuh?

Mereka menjaga jarak demi keseimbangan semesta. Namun ketika waktu mengizinkan keduanya saling bertemu dalam satu garis takdir, dunia menghentikan sejenak hiruk-pikuknya.

Burung-burung terdiam, angin melambat, manusia mendongak ke langit, menyaksikan keajaiban yang tak setiap hari diberikan kehidupan.

Engkau lupa, wahai rembulan, bahwa cinta tidak selalu diukur oleh lamanya bersama.

Ada perjumpaan yang hanya berlangsung sesaat, tetapi dikenang sepanjang zaman.

Gerhana adalah buktinya.

Di sana matahari tidak kehilangan cahayanya, rembulan pun tidak kehilangan dirinya.

Mereka hanya saling merangkul dalam bahasa yang tidak memerlukan suara.

Dan dari pelukan yang singkat itu lahirlah cincin cahaya—sebuah mahkota yang membuat seluruh dunia percaya bahwa bahkan dua yang tampaknya mustahil pun dapat menciptakan keindahan.

Barangkali begitulah cinta. Bukan tentang memiliki selamanya, melainkan tentang menjadi keajaiban ketika takdir mengizinkan dua jiwa saling bertemu.

Sebab ada cinta yang ditulis untuk menetap, dan ada pula cinta yang ditulis agar manusia percaya bahwa keajaiban memang pernah ada.

Jika kelak aku kembali, bukan karena kakiku tak sanggup melangkah lebih jauh.

Aku kembali karena setiap perjalanan akhirnya mengajarkan bahwa rumah bukan sekadar tempat untuk tinggal, melainkan seseorang yang masih menyimpan ruang di dalam hatinya.

Dan bila takdir tetap memilih kita menjadi matahari dan rembulan, biarlah langit menjadi saksi bahwa meski tak selalu bersama, kita pernah menghadirkan satu gerhana yang cukup indah untuk dikenang sepanjang kehidupan.

Jangan tangisi pergiku,
sebab kepergian hanyalah cara waktu
mengajarkan jiwa untuk memahami arti pulang.

Aku tidak membawa apa pun
selain selembar doa
dan segenggam sunyi
yang dahulu tumbuh di sela-sela percakapan kita.

Ketahuilah,
cinta tidak pernah mati oleh jarak.
Ia hanya berganti rupa—
menjadi rindu yang diam,
menjadi ikhlas yang tak bersuara,
menjadi cahaya yang tetap menyala
meski tak lagi terlihat oleh mata.

Aku pergi
bukan karena dunia menolakku,
melainkan karena semesta berbisik
bahwa setiap jiwa memiliki jalannya sendiri,
dan setiap langkah adalah ibadah
bagi mereka yang berani menerima takdir.

Jika kelak engkau berdiri
di persimpangan kenangan,
jangan panggil namaku dengan air mata.
Panggillah dengan senyum,
karena aku ingin hidup
di hatimu sebagai musim yang pernah menghidupkan bunga,
bukan badai yang merobohkan ranting.

Bukankah sungai tak pernah memusuhi laut
meski ia harus meninggalkan mata airnya?
Bukankah langit tetap memeluk bumi
meski keduanya tak pernah bersentuhan?

Begitulah aku mencintaimu.

Pergiku bukan akhir,
melainkan ruang
agar cinta terbebas dari hasrat memiliki.

Dan bila Tuhan mempertemukan kita kembali,
biarlah bukan sebagai dua insan
yang saling menggenggam karena takut kehilangan,
melainkan dua jiwa
yang telah selesai berdamai dengan dirinya,
lalu saling mengenali
dalam hening yang penuh cahaya.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK