Jika Pengkritik Disebut Antek Asing, Lalu Disebut Apa Pemimpin yang Menjadi Kaki Tangan AS?
TUDUHAN "antek asing" bukanlah jawaban atas kritik, melainkan cara termudah untuk membungkamnya. Ia muncul bukan karena kritik yang salah, tetapi karena kekuasaan takut menghadapinya. Ketika kritik dianggap sebagai ancaman, pengkritik tidak dijawab…
Dengarkan Ringkasan
TUDUHAN "antek asing" bukanlah jawaban atas kritik, melainkan cara termudah untuk membungkamnya.
Ia muncul bukan karena kritik yang salah, tetapi karena kekuasaan takut menghadapinya.
Ketika kritik dianggap sebagai ancaman, pengkritik tidak dijawab dengan argumen, melainkan dicap sebagai musuh.
Dalam logika seperti ini, kritik tidak lagi dianggap sebagai bagian dari demokrasi, melainkan seolah-olah infiltrasi.
Di sini tudingan Presiden Prabowo Subianto justru memunculkan pertanyaan yang lebih serius.
Jika pengkritik disebut "antek asing", lalu disebut apa pemimpin yang kebijakan dan orientasinya selaras dengan kepentingan Amerika?
Kritik, betapapun kerasnya, adalah mekanisme koreksi. Ia tumbuh dari kepentingan publik, bukan dari pesanan negara lain.
Tetapi ketergantungan strategis, itu soal lain. Ketika arah pertahanan diselaraskan dengan kepentingan geopolitik negara adidaya, ketika doktrin keamanan disusun dengan kacamata Washington, ketika alutsista, pelatihan militer, dan kerangka kerja intelijen dirajut agar kompatibel dengan standar Amerika, maka hubungan itu tidak lagi sama dengan kerja yang setara.
Ia adalah asimetri. Dan asimetri yang diterima tanpa tawar-menawar kepentingan nasional adalah bentuk kepatuhan, bukan kemitraan.
Ironisnya lagi, tuduhan "antek asing" sering ditujukan kepada masyarakat sipil, akademisi, jurnalis, atau aktivis yang justru memperjuangkan kedaulatan dan kepentingan rakyat.
Mereka yang mempertanyakan kebijakan pemerintah, dicap tidak nasionalis.
Padahal nasionalisme sejati bukan soal membungkam kritik, melainkan memastikan negara tidak diseret menjadi pion dalam permainan kekuatan besar.
Sejarah mengajarkan satu hal sederhana. Kekuasaan yang alergi kritik biasanya sedang menutupi kompromi.
Label "antek asing" dipakai untuk membuktikan fakta bahwa yang benar-benar berbahaya bagi kedaulatan bukanlah suara rakyat, melainkan kebijakan yang menyerahkan ruang gerak negara kepada kekuatan eksternal.
Ketika pemerintah memilih diam atas tekanan geopolitik, tetapi lantang memarahi warganya sendiri, maka jelas siapa yang sedang disasar untuk dibungkam dan siapa yang sebenarnya sedang dilayani.
Maka pertanyaannya kembali, tanpa basa-basi, jika pengkritik disebut antek asing, lalu disebut apa pemimpin yang menjadi kaki tangan Amerika?
Jika kritik adalah "pengkhianatan", sementara ketergantungan dianggap "nasionalisme", maka kita sedang menyaksikan pembalikan makna yang berbahaya.
Dalam logika terbalik itu, kedaulatan dikorbankan atas nama stabilitas, dan demokrasi dipersempit atas nama nasionalisme palsu.
Negara yang kuat tidak takut dikritik. Pemimpin yang berdaulat tidak perlu menuding.
Tuduhan "antek asing" bukanlah tanda keberanian, melainkan sinyal bahwa kekuasaan sedang ketakutan dan kehabisan argumen yang substansial, dan itu jauh lebih berbahaya daripada kritik mana pun.[***]
Oleh: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) dan Mantan Jurnalis Media Arus Utama Nasional
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.