Karhutla dan Asap Mengepung Kalimantan
KALIMANTAN sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena langitnya mendung, bukan pula karena musim hujan belum datang. Yang membuat langit terlihat kelabu adalah asap. Pekat, menusuk hidung, mengganggu pandangan, dan yang paling mengkhawatirkan, masuk…
Dengarkan Ringkasan
KALIMANTAN sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena langitnya mendung, bukan pula karena musim hujan belum datang.
Yang membuat langit terlihat kelabu adalah asap. Pekat, menusuk hidung, mengganggu pandangan, dan yang paling mengkhawatirkan, masuk ke paru-paru manusia tanpa permisi.
Karhutla kembali menjadi cerita yang berulang. Bedanya, kali ini angka yang muncul tidak bisa dianggap sekadar statistik di layar komputer.
Ribuan titik panas terdeteksi di berbagai wilayah Kalimantan.
Berdasarkan data yang disebut berasal dari sistem SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Agustus 2026, Kalimantan Tengah mencatat 2.063 titik panas, Kalimantan Barat 1.982 titik, Kalimantan Selatan 512 titik, dan Kalimantan Timur 507 titik.
Kalau angka-angka itu hanya dibaca sebagai angka, mungkin kita akan cepat bosan. Tetapi kalau setiap titik panas kita bayangkan sebagai satu lokasi yang sedang terbakar, ceritanya menjadi jauh lebih mengerikan.
Kita sering baru panik ketika asap sudah masuk rumah. Ketika jarak pandang di jalan mulai pendek. Ketika sekolah mulai terganggu. Ketika rumah sakit mulai menerima pasien dengan keluhan pernapasan.
Padahal api tidak pernah tiba-tiba muncul di depan pintu rumah kita. Ia biasanya tumbuh dari persoalan yang sebelumnya sudah kita lihat, tetapi terlalu sering dianggap biasa.
Dan di sinilah saya kira masalah karhutla harus dibicarakan lebih serius.
Karhutla Bukan Sekadar Masalah Api
Kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada pohon yang terbakar. Dampaknya merambat ke mana-mana.Di Kotawaringin Barat, misalnya, status tanggap darurat bencana karhutla diperpanjang akibat kondisi cuaca panas.
Data yang disebutkan menunjukkan luas lahan terbakar mencapai ratusan hektare dari sejumlah kejadian kebakaran.
Di Kotawaringin Timur, petugas bahkan harus menangani puluhan titik api yang muncul dalam waktu bersamaan dengan area terdampak lebih dari 1.300 hektare.
Sementara di Palangka Raya, persoalannya sudah menyentuh permukiman. Kebakaran tidak hanya bicara tentang hutan dan lahan, tetapi juga rumah manusia.
Bahkan terdapat laporan korban jiwa balita dalam kebakaran permukiman di Jalan Mendawai I.
Kalau sudah sampai begini, kita tidak bisa lagi mengatakan, "Namanya juga musim kemarau."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru berbahaya kalau dipakai sebagai alasan untuk membiasakan diri dengan bencana.
Musim kemarau memang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Cuaca panas dan lahan kering membuat api lebih mudah menyebar.
Namun, kondisi alam bukan berarti manusia bebas melepaskan tanggung jawab.
Api tidak memiliki KTP. Ia tidak tahu batas administrasi kabupaten, provinsi, bahkan negara. Sekali menyebar, asapnya bisa menyeberang ke wilayah lain. Karena itu, karhutla bukan persoalan satu desa, satu kabupaten, atau satu perusahaan saja.
Ini persoalan bersama.
Di Kalimantan Selatan, kabut asap bahkan membuat sejumlah jalan raya mengalami penurunan jarak pandang.
Banjarbaru dan kawasan Liang Anggang disebut mengalami kondisi udara yang sangat buruk, dengan konsentrasi PM2.5 yang mencapai 389,4 µg/m³ berdasarkan sumber yang dikutip dalam informasi tersebut.
Angka itu bukan angka untuk dipamerkan.
PM2.5 adalah partikel sangat kecil yang bisa masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Artinya, ketika seseorang melihat kabut asap dan berkata, "Ah, paling cuma asap," sebenarnya tubuhnya sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak sesederhana itu.
Lucunya, manusia sering lebih takut melihat asap mengepul dari knalpot kendaraan daripada asap yang menyelimuti satu kota.
Padahal kalau asap sudah membuat mata perih, napas terasa berat, jarak pandang berkurang, dan aktivitas masyarakat terganggu, itu bukan lagi pemandangan alam. Itu alarm.
Yang lebih menyedihkan, anak-anak harus ikut menanggung akibatnya.
Mereka harus belajar dalam kondisi udara yang buruk. Aktivitas luar ruangan dikurangi.
Orang tua mulai khawatir membiarkan anak bermain. Sebagian masyarakat mungkin bahkan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk masker, obat, transportasi, atau pemeriksaan kesehatan.
Di sisi lain, satwa liar juga kehilangan rumah.
Orangutan yang seharusnya berada jauh di dalam habitatnya dilaporkan mulai mendekati permukiman karena kehilangan sumber makanan dan ruang hidup akibat kebakaran.
Bayangkan betapa kacau situasinya.
Manusia kehilangan kenyamanan, satwa kehilangan habitat, udara kehilangan kualitas, dan hutan kehilangan kehidupan.
Lalu kita masih bertanya, "Siapa yang dirugikan?"
Semua.
Karhutla juga menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak selalu datang dalam bentuk yang dramatis.
Kadang ia dimulai dari tindakan kecil yang dianggap sepele: membuang puntung rokok sembarangan, membuka lahan dengan cara membakar, membiarkan api kecil tanpa pengawasan, atau menganggap lahan kering sebagai tempat yang aman untuk melakukan pembakaran.
Api memang kecil ketika dinyalakan.
Tetapi masalahnya, api tidak pernah berjanji akan tetap kecil.
Pemerintah Sudah Bergerak, tetapi Pencegahan Harus Lebih Keras daripada Pemadaman
Saya mengapresiasi kerja petugas di lapangan. Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, relawan, dan berbagai unsur lainnya harus menghadapi medan yang tidak mudah.Ada satgas darat yang melakukan penyekatan, pembasahan, pendinginan, dan patroli. Ada satgas udara yang menggunakan helikopter water bombing untuk menjangkau lokasi yang sulit ditangani dari darat.
Pekerjaan itu tidak ringan.
Kita yang duduk di rumah mungkin hanya melihat video helikopter menjatuhkan air dari udara. Tetapi di balik gambar tersebut ada petugas yang bekerja dalam panas, asap, medan sulit, dan risiko keselamatan.
Karena itu, jangan sampai masyarakat hanya muncul ketika ingin mengkritik pemerintah.
Namun, kritik juga tetap diperlukan.
Sebab dalam persoalan karhutla, keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak api yang berhasil dipadamkan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah?
Ini bedanya antara pemadam kebakaran dan pengelolaan risiko.
Kalau setiap tahun kita sibuk memadamkan api yang jumlahnya terus berulang, berarti ada sesuatu yang belum selesai pada bagian pencegahan.
Ibarat rumah bocor, kita memang harus mengepel lantai ketika hujan masuk.
Tetapi kalau setiap musim hujan pekerjaan kita hanya mengepel tanpa pernah memperbaiki atap, ya jangan heran kalau ember di rumah lebih sibuk daripada tukang bangunan.
Karhutla juga begitu.
Pemadaman penting. Tetapi pencegahan jauh lebih penting.
Patroli harus dilakukan sebelum titik api muncul. Pengawasan lahan harus diperketat. Aktivitas pembukaan lahan harus diawasi.
Masyarakat perlu mendapatkan edukasi tentang risiko pembakaran. Dan ketika ditemukan pihak yang sengaja membakar lahan, proses hukum harus benar-benar berjalan.
Jangan sampai penegakan hukum hanya ramai ketika kamera menyala.
Kalau memang ada pihak yang sengaja membakar lahan, siapa pun orangnya, jangan diberi perlakuan istimewa.
Sebab ketika asap sudah menyelimuti permukiman, yang menghirupnya bukan hanya orang yang membakar.
Anak-anak menghirupnya.
Lansia menghirupnya.
Petugas pemadam menghirupnya.
Orang yang tidak tahu-menahu soal pembakaran pun ikut menghirupnya.
Di sinilah rasa keadilan lingkungan harus dibangun.
Kita juga perlu berhenti menganggap bahwa kebakaran hutan selalu identik dengan persoalan "alam sedang marah".
Alam memang punya siklus. Tetapi manusia juga punya tindakan.
Kalau manusia membuka lahan sembarangan, membakar tanpa pengawasan, membiarkan api menjalar, kemudian ketika terjadi kebakaran besar kita menyalahkan cuaca, rasanya seperti seseorang membuang bensin ke lantai lalu menyalahkan korek api karena terlalu dekat.
Tidak masuk akal.
Pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar. Tetapi masyarakat juga tidak boleh merasa bahwa seluruh persoalan karhutla adalah urusan pemerintah.
Ketika melihat titik api, laporkan.
Ketika melihat seseorang membakar lahan secara sembarangan, tegur jika aman untuk dilakukan atau laporkan kepada pihak berwenang.
Ketika kualitas udara buruk, jangan memaksakan diri beraktivitas di luar.
Ketika anak-anak membutuhkan perlindungan lebih, jangan anggap mereka "cuma kena asap sedikit".
Kita juga perlu lebih disiplin dalam menerima informasi.
Di tengah situasi seperti ini, media sosial biasanya menjadi tempat pertama masyarakat mencari kabar. Tagar seperti #PrayForKalimantan kemudian bermunculan.
Saya tidak keberatan dengan doa.
Doa penting.
Tetapi Kalimantan juga membutuhkan lebih dari sekadar doa.
Ia membutuhkan pengawasan, kebijakan yang konsisten, penegakan hukum, data yang transparan, edukasi masyarakat, dan tindakan nyata.
Jangan sampai kita terlalu rajin membuat unggahan "Pray for Kalimantan", tetapi lima menit kemudian membakar sampah di belakang rumah tanpa memikirkan angin.
Itu namanya algoritma sudah peduli, tetapi perilaku belum.
Dan mungkin ini bagian paling lucu sekaligus paling menyedihkan dari kebiasaan kita menghadapi bencana.
Ketika bencana terjadi, kita kompak.
Ketika keadaan membaik, kita lupa.
Lalu tahun berikutnya kita panik lagi.
Siklusnya hampir seperti kalender.
Kita seolah-olah punya musim kemarau, musim hujan, dan musim "kaget karena karhutla".
Padahal seharusnya tidak demikian.
Kita perlu mengubah cara berpikir dari reaktif menjadi preventif.
Jangan menunggu kabut asap masuk ke kota untuk sadar bahwa hutan sedang terbakar.
Jangan menunggu rumah sakit penuh untuk bicara tentang kualitas udara.
Jangan menunggu satwa liar masuk permukiman untuk sadar bahwa habitat mereka sedang hilang.
Dan jangan menunggu ada korban jiwa untuk menganggap karhutla sebagai persoalan serius.
Edukasi Sederhana: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Pada akhirnya, masyarakat mungkin bertanya, "Saya harus melakukan apa?"
Pertama, kurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih.
Kedua, gunakan masker yang sesuai ketika harus keluar. Masker medis atau N95 dapat menjadi pilihan sesuai kondisi dan kebutuhan, terutama ketika paparan partikulat meningkat.
Ketiga, jangan membakar lahan atau sampah sembarangan. Api kecil bukan jaminan bahwa dampaknya juga kecil.
Keempat, ketika berkendara dalam kondisi kabut asap, nyalakan lampu kendaraan, kurangi kecepatan, dan jaga jarak. Keselamatan di jalan juga menjadi persoalan karena jarak pandang dapat menurun drastis.
Kelima, jangan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Dalam situasi bencana, informasi palsu dapat membuat kepanikan menjadi lebih besar.
Keenam, jika menemukan titik api atau kepulan asap mencurigakan, laporkan kepada BPBD, Manggala Agni, atau posko penanganan terdekat.
Dan yang paling penting, jangan menganggap karhutla sebagai berita musiman.
Hari ini mungkin asap berada di wilayah lain. Besok bisa saja angin membawanya ke tempat kita.
Kalimantan bukan sekadar peta yang dipenuhi warna hijau.
Ia adalah rumah bagi manusia, satwa, hutan, sungai, dan kehidupan yang tidak bisa dihitung hanya dengan angka ekonomi.
Karena itu, ketika ribuan titik panas muncul, yang seharusnya terbakar bukan hanya hutan.
Kesadaran kita juga harus ikut menyala.
Tetapi bedanya, kesadaran tidak boleh menjadi api yang membakar.
Ia harus menjadi cahaya yang membuat kita melihat kesalahan dengan lebih jelas.
Kita boleh marah kepada pemerintah ketika penanganan buruk. Kita boleh mengkritik aparat ketika pengawasan lemah. Kita boleh mempertanyakan perusahaan ketika ada dugaan pelanggaran. Kita boleh menuntut penegakan hukum.
Namun setelah itu, mari bercermin.
Sebab menjaga lingkungan bukan hanya pekerjaan pejabat, petugas pemadam, atau aktivis lingkungan.
Ia dimulai dari perilaku manusia biasa.
Dari orang yang tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Dari warga yang tidak membakar lahan.
Dari orang tua yang mengajarkan anak tentang bahaya api.
Dari pemerintah yang serius melakukan pencegahan.
Dari aparat yang berani menindak.
Dari perusahaan yang bertanggung jawab.
Dan dari media yang tidak hanya memberitakan asap ketika sudah viral.
Saya kira sudah waktunya kita berhenti melihat karhutla sebagai sesuatu yang "biasa terjadi setiap tahun".
Karena sesuatu yang terjadi berulang kali tidak otomatis menjadi sesuatu yang normal.
Kalau setiap tahun kita kehilangan hutan, menghirup asap, melihat satwa kehilangan habitat, anak-anak terganggu aktivitasnya, petugas berjibaku memadamkan api, dan masyarakat mengalami kerugian, lalu kita menyebutnya biasa, mungkin bukan bencananya yang sudah normal.
Mungkin kita yang sudah terlalu terbiasa dengan bencana.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Kalimantan tidak hanya membutuhkan tagar.
Kalimantan membutuhkan tindakan.
Sebab pada akhirnya, yang kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan sekadar angka titik panas, foto kabut asap, atau video kebakaran.
Kita sedang menentukan apakah mereka kelak masih bisa melihat hutan sebagai rumah kehidupan, atau hanya mengenalnya dari cerita orang tua.
Jangan sampai nanti anak cucu bertanya, "Dulu Kalimantan memang banyak hutannya?"
Lalu kita hanya bisa menjawab sambil menunduk:
"Ya, dulu."
Dan saya kira, tidak ada kalimat yang lebih menyakitkan daripada itu.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.