Karhutla dan Tepung Singkong: Jangan Sampai Solusi Murah Menjadi Masalah Baru
FAKTA GROUP — Di tengah kepungan asap dan karhutla yang parah di beberapa wilayah Indonesia yang kini kembali menjadi ancaman serius, setiap gagasan untuk mempercepat pemadaman tentu layak diapresiasi dan dihargai. Namun, ada satu prinsip yang tidak…
Dengarkan Ringkasan
FAKTA GROUP — Di tengah kepungan asap dan karhutla yang parah di beberapa wilayah Indonesia yang kini kembali menjadi ancaman serius, setiap gagasan untuk mempercepat pemadaman tentu layak diapresiasi dan dihargai.
Namun, ada satu prinsip yang tidak boleh ditinggalkan: karhutla bukan arena untuk mencoba-coba metode pemadaman yang belum teruji.
Belakangan muncul gagasan pemanfaatan tepung singkong yang dicampurkan dengan air sebagai bagian dari upaya pemadaman api.
Secara konsep, penggunaan bahan berbasis pati bukan sesuatu yang mustahil.
Pati memang dapat dikembangkan menjadi bahan water enhancer atau fire retardant tertentu.
Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika tepung singkong biasa hanya dicampurkan dengan air kemudian dianggap otomatis menjadi bahan pemadam karhutla.
Di sinilah publik berhak bertanya, seberapa efektifkah? Berapa konsentrasinya? Sudah diuji di mana? Bagaimana reaksinya terhadap api di lahan gambut? Apakah aman untuk pompa dan nozzle? Dan apa dampaknya terhadap lingkungan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk mematikan inovasi.
Justru sebaliknya.
Inovasi harus diuji sebelum dipakai sebagai solusi.
Air Saja Tidak Selalu Cukup, Tepung Juga Bukan Solusi Otomatis
Karhutla bukan sekadar api yang membakar daun dan semak.
Pada lahan gambut, persoalannya jauh lebih kompleks. Api dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan. Bara yang tidak terlihat dapat kembali muncul setelah permukaan tampak padam.
Karena itu, keberhasilan pemadaman tidak cukup diukur dari apakah api terlihat mati beberapa menit setelah disemprotkan.
Pertanyaannya adalah: apakah panas turun, bara api benar-benar mati, dan api tidak kembali menyala?
Jika campuran tepung singkong dan air hanya menghasilkan cairan yang lebih kental tetapi tidak mempunyai formulasi khusus untuk meningkatkan kemampuan pendinginan, penetrasi dan retensi air, maka efektivitasnya terhadap karhutla tentu harus dipertanyakan dan dibuktikan melalui pengujian.
Apalagi jika digunakan dalam skala besar. Jangan Sampai Pompa Pemadam Malah Jadi Korban
Ada persoalan teknis yang juga tidak boleh disepelekan.
Campuran berbasis tepung memiliki karakteristik berbeda dengan air biasa. Konsentrasi yang terlalu tinggi dapat meningkatkan kekentalan.
Bahan yang tidak tercampur sempurna juga berpotensi mengendap.
Dalam operasi pemadaman api Karhutla di beberapa wilayah Indonesia, persoalan seperti ini bukan perkara kecil.
Pompa, selang dan nozzle membutuhkan aliran yang sesuai dengan spesifikasinya.
Jika bahan yang digunakan justru mengganggu sistem penyemprotan, maka waktu yang seharusnya digunakan untuk menyerang titik api bisa terbuang untuk mengatasi persoalan peralatan.
Dalam karhutla, kehilangan waktu berarti memberi kesempatan api untuk berkembang.
Yang Lebih Mengkhawatirkan: Dampak Lingkungan
Pertanyaan berikutnya adalah apa yang terjadi setelah api padam.
Campuran tersebut akan jatuh ke tanah, vegetasi, parit, sungai dan kemungkinan masuk ke ekosistem perairan.
Apakah aman?
Apakah mudah terurai?
Apakah memengaruhi mikroorganisme tanah?
Apakah mengubah kualitas air?
Apakah mengganggu organisme perairan?
Semua itu harus dijawab melalui kajian dan pengujian, bukan sekadar asumsi bahwa karena bahan dasarnya berasal dari singkong maka otomatis aman bagi lingkungan.
“Alami” tidak selalu berarti “tanpa risiko”.
Tepung Kering Jangan Pernah Dianggap Sama dengan Retardan, hal lain yang juga penting diluruskan adalah jangan sampai masyarakat salah memahami informasi tersebut.
Tepung singkong dalam bentuk kering bukan berarti bahan yang boleh dilempar atau ditebarkan langsung ke kobaran api.
Debu dari berbagai material berbasis pati dalam kondisi tertentu dapat menjadi mudah terbakar ketika terdispersi di udara.
Maka, kampanye pemanfaatan pati singkong harus disampaikan secara benar agar tidak berubah menjadi tindakan masyarakat yang justru membahayakan diri sendiri dan menjadi musibah ataupun menjadi petaka yang parah.
Pati singkong sebagai bahan baku teknologi pemadam adalah satu hal.
Tepung singkong dapur yang dicampur air adalah hal lain.
Keduanya tidak boleh disamakan.
Kalau Memang Efektif, Mari Buktikan Secara Terbuka
Tidak ada salahnya pemerintah, perguruan tinggi, BRIN, BPBD maupun lembaga terkait mengembangkan teknologi pemadam berbasis bahan lokal.
Justru ini peluang besar.
Indonesia memiliki sumber daya singkong yang melimpah. Jika benar pati singkong dapat dikembangkan menjadi bahan pemadam atau retardant yang efektif, murah, aman dan ramah lingkungan, tentu itu menjadi inovasi yang patut didukung.
Tetapi sebelum masuk ke lapangan, publik layak mendapatkan data pengujian yang transparan.
Bukan sekadar video api yang terlihat padam.
Harus ada data mengenai konsentrasi, efektivitas terhadap jenis vegetasi berbeda, ketahanan terhadap panas, kemampuan mempertahankan kelembapan, efektivitas terhadap gambut, kompatibilitas dengan pompa dan nozzle, serta dampak terhadap lingkungan.
Dan yang tidak kalah penting:
berapa biaya sebenarnya dibandingkan metode pemadaman yang sudah terbukti?
Jika ternyata lebih murah dan sama atau bahkan lebih efektif, tentu patut dikembangkan.
Tetapi jika belum terbukti, jangan buru-buru menjadikannya jawaban atas persoalan karhutla.
Karhutla Membutuhkan Data, Bukan Sekadar Narasi
Kita sedang menghadapi persoalan serius.
Asap mengganggu masyarakat. Aktivitas penerbangan bisa terdampak. Sekolah dapat terganggu. Kualitas udara menurun. Ekosistem rusak dan petugas di lapangan mempertaruhkan keselamatan.
Dalam kondisi seperti itu, setiap metode pemadaman harus memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Boleh murah. Boleh lokal. Boleh inovatif. Tetapi harus efektif dan aman.
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya padam atau tidak padamnya api.
Yang dipertaruhkan adalah keselamatan manusia, keselamatan petugas, lingkungan dan keberhasilan operasi penanggulangan karhutla.
Maka pertanyaannya bukan:
“Apakah tepung singkong bisa dicampur dengan air?”
Tentu bisa.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apakah campuran tersebut benar-benar mampu memadamkan karhutla secara efektif, aman, terukur dan tidak menimbulkan masalah baru?”
Kalau jawabannya belum memiliki data yang cukup, maka jangan menjadikan eksperimen sebagai kebijakan.
Karhutla membutuhkan keberanian untuk berinovasi.
Tetapi lebih dari itu, karhutla membutuhkan keberanian untuk menguji, mengukur dan berkata jujur: mana yang terbukti efektif dan mana yang belum.(Van)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.