Kau Tak Bisa Membaca Diriku Meski Kau Selalu di Sampingku
ENGKAU tak bisa membaca diriku meskipun kau selalu di sampingku. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagiku, di dalamnya tersimpan banyak hal yang tidak mudah dijelaskan. Sebab berada di dekat seseorang tidak selalu berarti memahami dirin…
Dengarkan Ringkasan
ENGKAU tak bisa membaca diriku meskipun kau selalu di sampingku.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagiku, di dalamnya tersimpan banyak hal yang tidak mudah dijelaskan.
Sebab berada di dekat seseorang tidak selalu berarti memahami dirinya.
Kau bisa melihat wajahku setiap hari. Kau bisa mendengar suaraku, menyaksikan tawaku, mengetahui kebiasaanku, bahkan mungkin hafal bagaimana caraku berbicara ketika sedang bahagia.
Tetapi apakah kau benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam diriku?
Belum tentu.
Sebab manusia sering kali hanya memperlihatkan bagian yang ingin dilihat orang lain.
Aku pun begitu.
Ketika pikiranku sedang penuh, aku masih bisa tersenyum.
Ketika hatiku sedang lelah, aku masih bisa bercanda.
Ketika kecewa datang bertubi-tubi, aku bisa memilih diam dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Bukan karena aku tidak merasakan sakit.
Aku hanya tidak terbiasa menjadikan setiap luka sebagai tontonan.
Banyak hal yang kupendam bukan karena tidak ingin bercerita, tetapi karena aku tahu tidak semua orang mampu memahami apa yang sedang kuhadapi.
Maka jangan merasa sudah mengenalku hanya karena kau selalu berada di sampingku.
Kau mungkin mengenal kebiasaanku, tetapi belum tentu mengenal perjuanganku.
Kau mungkin tahu bagaimana aku ketika tertawa, tetapi belum tentu tahu bagaimana aku ketika sedang berperang dengan pikiranku sendiri.
Kau mungkin tahu caraku berjalan ketika hidup sedang baik, tetapi belum tentu tahu bagaimana langkahku ketika jalan mulai dipenuhi masalah.
Justru ketika keadaan berubah, saat itulah kau akan menemui diriku yang sebenarnya.
Ketika kita berjuang bersama.
Ketika masalah datang tanpa memberikan waktu untuk bersiap.
Ketika keadaan berada di bawah dan segala sesuatu terasa begitu berat.
Saat itulah aku tidak lagi punya alasan untuk berpura-pura.
Di tengah tekanan, sifat asli manusia sering kali muncul tanpa diminta.
Di tengah kesulitan, kesetiaan mulai diuji.
Di tengah kegagalan, keberanian mulai dipertanyakan.
Dan di tengah keadaan yang tidak sesuai harapan, kita akan mengetahui siapa yang benar-benar bertahan dan siapa yang hanya hadir ketika semuanya mudah.
Begitu pula dengan diriku.
Kau akan melihat bagaimana aku menghadapi masalah.
Kau akan melihat bagaimana aku mengambil keputusan ketika tidak semua pilihan menyenangkan.
Kau akan melihat bagaimana aku bertahan ketika sesuatu yang kuperjuangkan justru hampir membuatku menyerah.
Namun satu hal lagi yang mungkin paling sulit kau pahami: diriku ketika marah.
Jangan membaca kemarahanku hanya dari suara yang meninggi atau wajah yang berubah.
Kemarahanku bukan selalu tentang kebencian.
Kadang kemarahan muncul karena terlalu banyak hal yang kupendam.
Karena terlalu lama memahami.
Karena terlalu sering memberikan kesempatan.
Karena terlalu banyak diam ketika sebenarnya hati sudah meminta untuk didengar.
Aku bisa marah bukan karena aku tidak peduli.
Justru terkadang karena aku terlalu peduli.
Namun ketika kesabaran seseorang terus diuji, bahkan air yang tenang pun bisa berubah menjadi gelombang.
Karena itu, jangan buru-buru menilai diriku ketika aku marah.
Cobalah melihat apa yang terjadi sebelum kemarahan itu muncul.
Mungkin kau akan menemukan kecewa yang terlalu lama kusimpan.
Mungkin kau akan menemukan kata-kata yang berkali-kali kutahan.
Mungkin kau akan menemukan diriku yang sebenarnya hanya ingin dihargai dan dipahami.
Aku tidak meminta semua orang mengerti diriku.
Aku juga tidak berharap semua orang mampu membaca isi kepalaku.
Aku hanya percaya, orang yang benar-benar ingin mengenalku tidak akan berhenti pada apa yang terlihat.
Ia akan melihat lebih jauh.
Ia akan memahami bahwa seseorang tidak hanya terbentuk dari senyum, tetapi juga dari luka.
Bukan hanya dari keberhasilan, tetapi juga dari kegagalan.
Bukan hanya dari kelembutan, tetapi juga dari kemarahan.
Dan bukan hanya dari bagaimana seseorang bersikap ketika hidup sedang berada di atas, tetapi juga bagaimana ia tetap berdiri ketika kehidupan membawanya ke titik paling bawah.
Jadi, jika kau ingin mengenalku, jangan hanya lihat ketika aku tersenyum.
Lihat ketika aku berjuang.
Temani ketika aku menghadapi masalah.
Perhatikan ketika keadaan sedang berada di bawah.
Dan pahami ketika aku marah.
Mungkin saat itulah kau mulai mengerti bahwa diriku tidak sesederhana apa yang selama ini kau lihat.
Sebab aku bukan sekadar apa yang tampak di hadapanmu.
Aku adalah kumpulan perjalanan, luka, perjuangan, kesabaran, kemarahan, dan harapan yang membentukku sampai hari ini.
Dan mungkin kau tidak akan pernah mampu membaca seluruh diriku.
Tidak apa-apa.
Sebab sebagian diriku memang tidak untuk dibaca.
Sebagian hanya bisa dipahami oleh mereka yang bersedia tinggal ketika keadaan tidak lagi mudah.
“Kau tak bisa membaca diriku meskipun kau selalu di sampingku. Namun kau akan menemui diriku di saat kita berjuang, menghadapi masalah, di saat keadaan di bawah, dan saat aku marah.”Dan tentu, kau tidak akan selalu menemukan marahku ketika diriku sedang kritis, berbicara pedas apa adanya.
Itu memang sifat alamiku sejak lama. Sebab, aku tidak terbiasa menyimpan sesuatu dalam hati, apalagi menyampaikan kritik di belakang orang lain.
Dan mungkin... Kau bisa membaca amarahku ketika diamku berlangsung terlalu lama.
Mungkin saja.
Namun, jangan buru-buru mengartikannya sebagai kemarahan.
Bisa jadi, saat itu aku hanya sedang lelah—lelah menjelaskan, lelah menghadapi keadaan, atau sekadar butuh waktu untuk kembali memahami diriku sendiri atau sekedar beristirahat.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.