Kejar Swasembada Bawang Putih dan Kedelai, Kementan Lakukan Penanaman Maraton
FAKTANASIONAL.NET — Pemerintah terus bergerak cepat demi mengamankan ketahanan pangan nasional. Fokus utama saat ini adalah memacu produksi domestik guna mengejar target swasembada komoditas bawang putih dan kedelai dalam waktu dekat. Menteri Pertan…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — Pemerintah terus bergerak cepat demi mengamankan ketahanan pangan nasional.
Fokus utama saat ini adalah memacu produksi domestik guna mengejar target swasembada komoditas bawang putih dan kedelai dalam waktu dekat.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa dari 11 komoditas cadangan pangan pemerintah yang diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 125 Tahun 2020, mayoritas di antaranya telah menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Delapan komoditas bahkan sudah berhasil swasembada dan mampu menembus pasar ekspor.
Meski demikian, Mentan mengakui masih ada tiga komoditas strategis yang pemenuhannya belum optimal dari dalam negeri.
"Tiga yang belum, yang pertama bawang putih, daging dengan kedelai," ujar Amran saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Amran menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian tengah menggenjot program penanaman maraton di berbagai wilayah potensial.
Klaim Surplus dan Standar FAO
Dalam kesempatan yang sama, Amran memaparkan kalkulasi total kebutuhan pangan nasional dari tiga komoditas yang belum swasembada tersebut berada di angka 68 juta ton, sementara angka produksi riil saat ini telah mencapai 73 juta ton.
Merujuk pada formula hitungan tersebut, Amran menegaskan bahwa kondisi pangan Indonesia secara makro sebenarnya sudah masuk kategori mandiri, bahkan melampaui ambang batas yang ditetapkan organisasi pangan dunia.
"Artinya kalau kita bagi 3,5 juta ton dibagi 73 juta ton itu 4 - 5 persen, sedangkan standar swasembada adalah sesuai FAO tahun 1999 itu bisa impor 10 persen. Artinya apa? Swasembada pangan, swasembada beras bahkan surplus," ucap dia.
Setop Impor Beras Premium dan Gudang Bulog yang Penuh
Keberhasilan swasembada ini salah satunya tercermin dari komoditas beras. Amran menyampaikan bahwa pada tahun 2025, pemerintah mengambil kebijakan tegas dengan tidak mengeluarkan satu pun izin impor untuk beras premium.
Melimpahnya pasokan beras dalam negeri ini berdampak langsung pada kapasitas tampung Perum Bulog. Amran mengungkapkan, stok beras yang dikelola Bulog saat ini meluap hingga melampaui kapasitas normal yang dimiliki.
Dari kapasitas gudang reguler sebesar 3 juta ton, saat ini Bulog harus mengelola stok yang mencapai 5,2 juta ton. Konsekuensinya, manajemen Bulog terpaksa mencari fasilitas penyimpanan tambahan demi mengamankan komoditas pokok tersebut.
"Artinya Bulog hari ini menyewa gudang 2,2 juta ton. Yang belum yakin silakan ke gudang Bulog seluruh Indonesia," pungkas Amran optimistis.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.