Kekuatan vs Pengetahuan, Menjawab Alasan Kenapa Jokowi Tak Henti-Henti Dirundung Persoalan Pasca-lengser
FAKTANASIONAL.NET - Saat berkuasa lebih sering menggunakan kekuasaan ketimbang pengetahuan untuk mengendalikan, maka saat tidak berkuasa lagi, apa yang dikendalikan itu pelan-pelan mulai terlepas satu persatu. Sebaliknya, saat berkuasa lebih sering…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Saat berkuasa lebih sering menggunakan kekuasaan ketimbang pengetahuan untuk mengendalikan, maka saat tidak berkuasa lagi, apa yang dikendalikan itu pelan-pelan mulai terlepas satu persatu.
Sebaliknya, saat berkuasa lebih sering menggunakan pengetahuan ketimbang kekuasaan untuk mengendalikan, maka saat tidak berkuasa lagi, apa yang dikendalikan itu cenderung lebih kuat dan bertahan cukup lama.
Saya memaknai (mengambil hibroh) seperti itu terhadap apa yang dialami mantan Presiden Jokowi saat ini, termasuk Wapres Gibran, yang tak henti-hentinya dirundung persoalan setelah tidak sepenuhnya berkuasa lagi. Bukan sudah tidak berkuasa, saya pakai kalimat tidak sepenuhnya berkuasa lagi. Sebab, jabatan Wapres yang melekat pada diri Gibran saat ini, adalah jabatan nomor dua, setelah Presiden.
Bandingkan dengan mantan Presiden SBY, Megawati, Gus Dur, apalagi Habibie. Kiranya tidak ada yang mengalami persoalan seperti yang dialami mantan Presiden Jokowi saat ini. Bukan mereka tak menggunakan kekuasaannya pada saat berkuasa, tapi mungkin pengetahuan lebih menuntun mereka ketimbang kekuasaannya.
Habibie malah tak mau lagi dicalonkan sebagai Presiden, hanya karena laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR saat itu.
Mengatakan mereka yang mempersoalkan ijazah Jokowi dan Gibran sebagai pembenci keluarga Jokowi, bisa saja dan sah-sah saja. Tapi kalau tidak ada celahnya, ya tidak bisa juga. Atau, mengatakan mereka sebagai kelompok yang kalah Pilpres, ya bisa juga dan itu hak terhadap pembelaan Jokowi. Tapi, sekali lagi, kalau tidak ada persoalan (celah), hanya mengada-ada, mana mungkin sampai berlarut-larut seperti saat ini?
Apalagi mengatakan mereka di-orkestrasi kepentingan politik tertentu, sebutlah Demokrat misalnya, sebagai asal parpol Roy Suryo dan Denny Indrayana dulu. Tapi, bukankah Demokrat sendiri adalah salah satu pemenang Pilpres dan Ketumnya saat ini menjadi salah seorang menteri di kabinet Prabowo-Gibran? Intinya, kalau tidak ada celah, mustahil akan bisa dipersoalkan dan berlarut-larut entah sampai kapan akan berakhir?
Menurut saya, ini pelajaran bagi Presiden Prabowo saat ini. Tuntunlah kekuasaan itu dengan pengetahuan, bukan dengan kekuasaan semata.
Sambutan ceplas-ceplos dari pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, di hadapan Presiden Prabowo, bahwa ia tak pernah diperlakukan khusus sebagai pimpinan di Gontor, adalah teladan yang baik dan layak untuk dicontoh.
Bukan tak boleh menggunakan kekuasaan---aneh juga, kalau orang yang berkuasa tak menggunakan kekuasaannya---tapi ke depankanlah pengetahuan agar di kemudian hari tidak merepotkan.
Dan saya melihat, Presiden Prabowo sudah berjalan ke arah itu, terlepas dari kekurangan dan kelebihannya. Minimal, Presiden Prabowo tidak cawe-cawe pada persoalan hukum yang sedang berjalan. (ERIZAL)
Sumber: FB @Erizal
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.