Kembangkan Teknologi Bedah Robotik, Kemenkes Percepat Transformasi Layanan Kesehatan
FAKTANASIONAL.NET - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mempercepat transformasi layanan kesehatan melalui pengembangan teknologi bedah robotik. Langkah ini sebagai bagian dari pilar transformasi teknologi kesehatan melalui sejumlah kebijakan nas…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mempercepat transformasi layanan kesehatan melalui pengembangan teknologi bedah robotik.
Langkah ini sebagai bagian dari pilar transformasi teknologi kesehatan melalui sejumlah kebijakan nasional.
"Teknologi ini memberikan kualitas layanan yang lebih baik bagi pasien, operasi lebih presisi, nyeri lebih ringan, dan masa rawat lebih singkat. Tugas pemerintah adalah memastikan layanan ini semakin mudah diakses, berkualitas, dan biayanya semakin terjangkau," kata Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin di Jakarta pada Selasa (29/7/2027).
Pernyataan ini disampaikannya saat menghadiri peringatan pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik di Rumah Sakit Bunda Jakarta sekaligus peluncuran kolaborasi strategis antara Kementerian Kesehatan, Rumah Sakit Bunda, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kemenkes membangun ekosistem artificial intelligence/AI (kecerdasan buatan) memperluas pelatihan dokter, dan mendorong transfer teknologi agar industri alat kesehatan nasional semakin mandiri.
Selain itu menyiapkan pengadaan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit (RS) pemerintah.
Budi Gunadi Sadikin mengemukakan pemanfaatan bedah robotik di Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Jadi, pemerintah mengambil langkah agresif untuk mempercepat adopsi melalui kebijakan nasional.
Salah satu langkah itu melakukan pembentukan Komite Robotik Kemenkes yang bertugas menyusun arah pengembangan teknologi robotik di Indonesia.
Hal ini mulai dari kebutuhan teknologi, standar pelayanan, hingga strategi agar layanan dapat diakses masyarakat dengan biaya yang lebih efisien.
Di sisi pembiayaan, Kemenkes juga sedang mengevaluasi skema pembayaran melalui Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) agar tindakan bedah robotik dapat masuk ke dalam sistem pembiayaan nasional sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut.
Kemenkes memperkuat layanan bedah minimal invasif melalui program nasional pelatihan operasi laparoskopi bagi dokter bedah di 514 kabupaten dan kota.
Program ini diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap operasi modern, seperti operasi hernia, usus buntu, kantung empedu, dan berbagai tindakan bedah digestif lainnya.
"Kita ingin semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi bedah minimal invasif dan robotik. Jangan sampai kemampuan ini hanya dimiliki kelompok tertentu atau hanya tersedia di kota-kota besar," ujarnya.
Budi Gunadi Sadikin menilai pengembangan robotik tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan AI kesehatan Indonesia.
Indonesia sedang membangun tiga basis data nasional yang saling terintegrasi, yaitu data kependudukan, data klinis, dan data genomik.
Ke depan, data tindakan bedah robotik juga akan dihimpun secara nasional sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan AI yang membantu dokter meningkatkan ketepatan tindakan operasi.
Keterbukaan data operasi robotik akan membuat Indonesia mengembangkan sistem pembelajaran berbasis AI.
Langkah ini dapat meningkatkan standar mutu tindakan bedah sekaligus tetap mempertahankan keputusan klinis di tangan dokter.
Pemerintah juga akan mewajibkan transfer teknologi, terutama untuk produksi komponen habis pakai (consumables) di dalam negeri. \
Kebijakan tersebut diharapkan mampu menurunkan biaya tindakan bedah robotik, sehingga semakin terjangkau bagi masyarakat sekaligus memperkuat industri alat kesehatan nasional.
Kemenkes akan memperluas pusat pelatihan bedah robotik di berbagai wilayah Indonesia agar akses pendidikan tidak terpusat di satu daerah maupun institusi tertentu.
Rektor ITB Tatacipta Dirgantara mengemukakan Indonesia memiliki kapasitas riset yang kuat di bidang teknik biomedis, biomekanika, robotika, dan kecerdasan artifisial.
Namun, keberhasilan inovasi bergantung pada kolaborasi erat antara akademisi dan tenaga medis.
"Fasilitasi dari Kementerian Kesehatan sangat penting agar peneliti dan dokter dapat bekerja bersama mengembangkan teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Dengan kolaborasi ini, kami optimistis Indonesia mampu menghasilkan inovasi alat kesehatan yang berdaya saing global," ujarnya.
Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk dr Ivan Rizal Sini menyampaikan bahwa pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik merupakan hasil konsistensi lebih dari satu dekade dalam mengembangkan layanan bedah minimal invasif di Indonesia.
Pihaknya siap mendukung program pemerintah melalui pengembangan pusat pelatihan, berbagi pengalaman, serta memperluas transfer pengetahuan kepada dokter dari berbagai daerah.
"Kami percaya pengalaman harus dibagikan. Semakin banyak dokter Indonesia yang menguasai bedah robotik, semakin besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat," tuturnya. (adm)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.