Kepuasan terhadap Prabowo Turun Tajam, Kelas Menengah Dinilai Mulai Menjauh
FAKTANASIONAL.NET - Penurunan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto dinilai tidak lepas dari berkurangnya dukungan kelompok kelas menengah yang merasa belum menikmati dampak langsung berbagai kebijakan pemerintah. Temuan itu men…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Penurunan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto dinilai tidak lepas dari berkurangnya dukungan kelompok kelas menengah yang merasa belum menikmati dampak langsung berbagai kebijakan pemerintah.
Temuan itu mengemuka setelah survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Prabowo merosot dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026. Data tersebut dikutip dari RMOL dalam laporan yang terbit pada Senin, 3 Agustus 2026.
Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio mengatakan dirinya tidak terkejut dengan hasil survei tersebut. Menurutnya, kondisi ekonomi yang menekan kelas menengah sudah lama diprediksi para ekonom.
"Kalau saya pribadi tidak terlalu kaget dengan angka survei terbaru itu. Jauh-jauh hari banyak ekonom sudah mengatakan bahwa kelas menengah di Indonesia berkurang sekitar 13 juta orang," ujar Hendri Satrio, dikutip dari RMOL, Senin (3/8/2026).
Ia menilai sejumlah program unggulan pemerintahan Prabowo, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, beasiswa, dan Sekolah Rakyat, lebih banyak menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.
Karena itu, kelompok penerima manfaat diperkirakan menjadi penyumbang utama tingkat kepuasan yang masih bertahan.
"Saya membayangkan 51 persen yang puas itu kemungkinan besar berasal dari kelas menengah ke bawah, mereka yang menerima BLT, bansos, MBG, memanfaatkan beasiswa, termasuk Sekolah Rakyat," katanya.
Hendri juga mengaitkan penurunan kepuasan dengan kondisi ekonomi rumah tangga yang belum membaik.
Fenomena Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya-nanya) disebut menjadi gambaran melemahnya daya beli masyarakat.
"Saya menduga ketidakpuasan terjadi pada kelas menengah dan kaum terdidik karena memang banyak program Prabowo kali ini menyasar masyarakat kelas bawah. Saat survei dilakukan, kelas menengah akhirnya memilih back off," ujarnya.
Meski hanya sekitar 18 persen dari total pemilih, Hendri mengingatkan kelas menengah memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik.
Menurutnya, kelompok ini kerap menjadi rujukan di lingkungan sosial sehingga pandangannya dapat memengaruhi sikap masyarakat yang lebih luas terhadap pemerintah.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.